PEMUDA JAWA TIMUR BELA BAHASA INDONESIA

Sidoarjo – Ikatan Duta Bahasa Jawa Timur bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Gelar Wicara “Pemuda Bergerak Bela Bahasa Indonesia”, Kamis, 14 April 2022, di Hotel Fave Sidoarjo, Jawa Timur. Gelar Wicara yang dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Asrif, M.Hum. itu menghadirkan sejumlah narasumber yakni Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur, R. Heru Wahono Santoso, S.Sos., M.M., dan guru besar bidang bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.. Peserta yang hadir pada acara ini berasal dari berbagai kalangan, antara lain akademisi dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penyelenggara BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), Kepala Kesbangpol Jawa Timur, Kepala Kesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Kepala Kesbangpol Kabupaten Madiun, pimpinan dan perwakilan dari berbagai SKPD, pegawai Balai Bahasa Jawa Timur, dan pengurus Ikatan Duta Bahasa Jawa Timur. 

Dr. Asrif, M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Kegiatan Gelar Wicara itu dilaksanakan sebagai reaksi Duta Bahasa Jawa Timur atas pernyataan Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yakoob, yang menyatakan bahwa Malaysia dan Indonesia telah bersepakat untuk mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa utama kedua ASEAN. Para Duta Bahasa Jawa Timur beranggapan bahwa pernyataan Ismail Sabri Yakoob mencederai semangat kebangsaan yang telah berjalan dengan baik di Indonesia. Alasannya, bahasa yang digunakan di Indonesia namanya bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Melayu merupakan nama bahasa dari salah satu etnik di Indonesia. Hal itu diamini oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Asrif, yang menyatakan bahwa pada 96 tahun yang lalu, seorang pemuda Madura bernama Moh. Tabrani telah menegaskan nama bahasa bangsa ini ialah bahasa Indonesia, bukan nama yang lain. Moh. Tabrani menilai penggunaan nama bahasa suatu suku karena hal itu dapat memicu konflik kebahasaan di masa mendatang. “Untuk itu, telah final nama bahasa kesatuan bangsa kita ialah bahasa Indonesia. 96 tahun lalu, 2 Mei 1926, para pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia telah menerima gagasan Moh. Tabrani mengenai nama bahasa yakni bahasa Indonesia.

R. Heru Wahono Santoso yang saat ini memimpin Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur melihat positif langkah yang diniatkan oleh para Duta Bahasa dan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Hal itu sejalan dengan tugas dan fungsi lembaga yang dipimpinnya yakni menyangkut penguatan kesatuan bangsa dan politik, salah satunya ialah peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kepala Kesbangpol Jatim itu menilai bahasa Indonesia perlu dijaga, dikembangkan, dan terus membanggakan.

R. Heru Wahono Santoso, S.Sos., M.M. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur

Prof. Suyatno menyatakan akan turut menyuarakan “Bela Bahasa Indonesia”. Menurutnya, tidak boleh menyejajarkan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Di Indonesia, bahasa Melayu merupakan bahasa daerah. Sebaliknya, bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional, kosakatanya banyak, dipengaruhi oleh bahasa-bahasa daerah dan juga bahasa asing. Guru Besar Universitas Negeri Surabaya itu menyatakan bahasa Indonesia tidak hanya layak di ASEAN melainkan juga sedang menuju bahasa Internasional. Guru besar bahasa Indonesia itu menyatakan bahwa warga negara Brunei Darussalam sangat menyukai novel-novel berbahasa Indonesia dan bahkan dipakainya sebagai bahan ajar.

Prof. Suyatno, M.Pd., Guru Besar Unesa

“Pemuda Bergerak Bela Bahasa Indonesia” yang digaungkan oleh para pemuda Jawa Timur mendapat dukungan dari berbagai kampus di Jawa Timur, organisasi profesi, dan tentu saja dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Menurut Asrif, pemuda merupakan generasi baru yang sangat menentukan masa depan bahasa Indonesia. Kekuatan pemuda sangat besar sebagaimana semangat Moh. Tabrani pada 96 tahun yang lalu.

Dalam berbagai literatur, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. E. Aminudin Aziz, Ph.D. menyatakan lima poin utama bahasa Indonesia lebih layak dari bahasa Melayu. Kelima poin itu yakni:

  1. Bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu dan demikian juga sebaliknya. Bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, itu adalah fakta sejarah. Akan tetapi, kita semua sudah menamai bahasa “baru” ini dengan nama bahasa Indonesia sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Hal itu perlu menjadi sikap seluruh warga bangsa Indonesia.
  2. Bahasa Indonesia berkembang dengan cara dan arahnya sendiri, yang berbeda dengan bahasa Melayu. Bahasa Indonesia modern memiliki gramatika sendiri dan juga kosakata sendiri, yang diperkaya oleh bahasa asing seperti Belanda, Portugis, Arab, Inggris, dll dan bahasa-bahasa daerah.
  3. Bahasa Melayu di dalam konteks Indonesia adalah salah satu saja dari 718 bahasa daerah di Indonesia. Sementara itu, bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara dalam sistem politik kenegaraan Indonesia.
  4. Jumlah penutur bahasa Indonesia jauh lebih banyak daripada jumlah penutur bahasa Melayu. Demikian juga persebarannya yang telah mencapai puluhan negara di dunia. Saat ini saja, Badan Bahasa sudah mengampu dan membina pembelajaran BIPA di lebih dari 40 negara. Yang diajarkan di negara-negara itu adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.
  5. Tingkat keterpahaman (mutual intelligibility) bahasa Indonesia lebih tinggi daripada bahasa Melayu. Penutur bahasa Melayu akan memahami isi pembicaraan/tulisan orang yang sedang bertutur/menulis dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, sebaliknya, tuturan/tulisan dalam bahasa Melayu belum tentu bisa (dengan mudah) dimengerti oleh penutur bahasa Indonesia.

Pada akhir acara, Duta Bahasa Jawa Timur menyampaikan yel-yel Bela Bahasa Indonesia. Yel-yel sebagai bentuk komitmen dan semangat untuk menjaga muruah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi bahasa internasional. (AS)

IKA Duta Bahasa Jawa Timur
Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.