Tengsoe Tjahjono

Tengsoe Tjahjono tergolong pengarang yang cukup produktif, khususnya dalam penciptaan puisi. Karya-karyanya sudah banyak yang terbit, dalam antologi puisi mandiri maupun antologi bersama penyair lain. Di samping itu, ia juga menulis cerpen dan esai yang dipublikasikan melalui berbagai media massa, seperti Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, dan Suara Indonesia. Tengsoe Tjahjono lahir di Jember pada tanggal 3 Oktober 1958 dan lama tinggal di Banyuwangi. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia berasal dari etnis Jawa dan beragama Katolik. Ayahnya bernama Sinidarsono dan ibunya bernama Sri Kasmiati. Pendidikan formal dari SD sampai dengan SPG tahun 1977 diselesaikan di kota Banyuwangi. Tahun 1983, ia menyelesaikan pendidikan dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang. Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Malang ia selesaikan tahun 1993. Saat ini, ia masih menempuh program doktoral di Universitas Negeri Malang. Pengalaman bekerja dimulai saat ia masih mahasiswa, yaitu menjadi guru di SMA Corjesu Malang tahun 1980. Tahun 1986, ia pindah ke Surabaya dan menjadi dosen tetap di FPBS IKIP Surabaya hingga sekarang. Ia menikah dengan Sri Mumpuni dan dikaruniai tiga anak, yaitu Dini, Asti, dan Tessa. Kebiasaan menulis sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP, tetapi baru berkembang dengan baik setelah kuliah di IKIP Malang dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan forum sastra. Ia pernah menjadi anggota teater Mlarat, memimpin teater Temperamen, dan untuk beberapa periode menjabat ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Malang (1984β€”1988). Setelah hijrah ke Surabaya, ia kembali aktif di dunia sastra dengan memprakarsai terbentuknya Paguyuban Studi Sastra Ketintang bersama Setya Yuwana Sudikan dan Henricus Supriyanto, membentuk Komunitas Sastra Kalimas, dan menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Sebagai akademisi sastra, ia juga sering diundang untuk berbicara dalam seminar atau diskusi sastra. Karya-karyanya, baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa, tersebar di berbagai media. Hasil karyanya telah terbit dalam antologi bersama, antara lain (1) Drona Gugat (Bukan Panitia Parade Seni WR Supratman, 1995), (2) Kabar Saka Bendulmrisi: Kumpulan Guritan (PPSJS, 2001), (3) Omongo Opo Wae: Antologi Puisi dan Guritan (Taman Budaya, 2000), (4) Luka Waktu: Antologi Puisi Penyair Jawa Timur (Taman Budaya, 1998), (5) Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), (6) Malsasa 1996, dan (7) Festival Puisi XIV (PPIA Surabaya, 1994). Hasil karyanya yang terbit dalam antologi sendiri, antara lain Fenomena (Lembaga Kesenian Indrakila Malang, 1983), Pendopo Taman Siswa Sebuah Episode (Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta, 1982), Hom Pim Pah (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1984), Mata Kalian (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1988), Gelombang (FASS-PPIA Surabaya Post, 1990), Ning (Sanggar Kalimas, 1997), Pertanyaan Daun (Komunitas Kata Kerja Malang, 2003), Terzina Penjarah (Sanggar Kalimas, 1998), dan Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi (Nusa Indah Ende, 1988). Penghargaan dan prestasi yang pernah diraih adalah puisinya masuk lima besar dalam Lomba Cipta Puisi Penyair Muda se-Indonesia pada tahun 1982, sepuluh besar Lomba Cipta Puisi di Tabanan pada tahun 1998, sepuluh besar Lomba Cipta Puisi se-Indonesia yang diadakan oleh Sanggar Minum Kopi Denpasar tahun 1992, dan menjadi aktor terbaik se-Kota Malang pada tahun 1997. Tengsoe Tjahjono juga menulis buku-buku yang berkaitan dengan pengajaran dan apresiasi sastra, seperti Sastra Indonesia: dengan Teori dan Apresiasi (1987) dan Membidik Bumi Puisi: Ke Arah Kegiatan Apresiasi(2000).

 

Bookmark the permalink.

Comments are closed.