Tradisi Bersih Desa Sumberejo Kulon: Tradisi Turun Temurun dari Leluhur

Sumberejo Kulon adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung yang memiliki banyak potensi, mulai dari industri, tradisi, sumber daya, dan kearifan lokal. Secara geografis, Desa Sumberejo Kulon memiliki letak yang cukup strategis karena hampir seluruh wilayah berada pada tanah datar dan topografi desanya di dataran subur dengan didukung sistem pengairan yang baik. Hal itu mengakibatkan potensi pengembangan pertanian yang ada di Desa Sumberejo Kulon dapat menghasilkan produk pertanian yang baik.

Salah satu tradisi yang masih dijalankan di Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung sebagai bentuk rasa syukur warga dan meminta keselamatan desa serta warganya adalah tradisi bersih desa. Tradisi itu dilakukan setahun sekali pada saat bulan Sela hari Jumat Kliwon. Bulan Sela atau biasanya diucapkan “selo” adalah urutan bulan Jawa yang kesebelas. Bulan ini sering disebut bulan Dulkangidah atau bulan Apit yang memiliki hari sebanyak 30 hari. Sela berimpit dengan bulan Dzulkaidah pada penanggalan kalender Islam.

Secara umum, tradisi bersih desa merupakan kegiatan untuk mengadakan tasyakuran di setiap perempatan yang berada di lingkup desa dengan membawa “takir plontang”. Takir plontang merupakan nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan kelapa muda yang dibentuk seperti perahu dengan ujungnya disatukan dengan lidi. Keberadaan takir plontang itu mempunyai makna tersendiri bagi orang Jawa. Takir plontang merupakan wujud atau simbol sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang telah diberikan-Nya. “Isi dari takir plontang berupa nasi, sambal goreng, kacang, dan telur,” ujar salah satu sesepuh yang ada di Desa Sumberejo Kulon, Mbah Kalim.

Pada sore harinya, setiap warga melakukan kenduri. Kenduri atau dalam bahasa Jawa disebut genduren merupakan perwujudan rasa syukur warga desa kepada Tuhan. Kegiatan tersebut biasa dilakukan di perempatan jalan desa. Genduren dihadiri oleh keluarga dan tetangga-tetangga terdekat. Untuk jumlah orang yang hadir tergantung undangan yang sudah diberikan. Genduren yang acaranya digelar oleh pihak desa, biasanya akan dihadiri oleh seluruh masyarakat yang ada di desa tersebut seperti halnya pamong desa. Namun, pamong desa melakukan genduren di tempat yang berbeda dengan warga sekitar, yakni di balai desa. Pada tengah malamnya, lurah bertugas untuk memutari desa tersebut. Jika lurah yang sedang menjabat masih muda, yang melakukan ritual atau memanjatkan doa adalah sesepuh di desa itu. Namun, jika lurah mampu dan menyanggupi, lurah dapat melakukannya sendiri. 

            Selama pelaksanaan tradisi bersih desa, pernah terjadi suatu peristiwa yang dapat menjadi perhatian. Saat itu, lurah yang menjabat melakukan tasyakuran hanya di balai desa dan tidak melakukan tasyakuran di perempatan yang ada di desa. Setelah itu, semua warga seperti mengalami sakit secara bersamaan. Semenjak kejadian itu terjadi, pelaksanaan tradisi bersih desa dilakukan sesuai dengan aturan yang telah diwariskan secara turun temurun. Meskipun sekarang telah memasuki era modern, di Desa Sumberejo Kulon tetap melaksanakan tradisi tersebut. Hal itu dibuktikan dengan adanya partisipasi warga mulai dari orang tua, anak muda, hingga anak-anak. Begitu pula selama adanya pandemi Covid-19, tidak menghalangi warga Desa Sumberejo Kulon untuk melakukan tradisi bersih desa. “Selama pandemi Covid-19, tradisi bersih desa tetap dilaksanakan. Meskipun tidak seramai tahun-tahun sebelumnya dan tentunya tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku,” tambah Mbah Kalim (21/3). Dengan terus diadakannya tradisi bersih desa setiap tahunnya, secara tidak langsung membuktikan bahwa tradisi bersih desa tetap terjaga eksistensinya hingga sekarang. (BEM)

* Bunga Esti Melia Indryani adalah mahasiswa PKL dari Universitas Negeri Malang tahun 2021

Sumber: KKN Tematik JSI UM 2021 (Kelompok 5)

Sumber Gambar: https://youtu.be/3GqGvGCK3lU

Festival Damar Kurung

Damar kurung merupakan salah satu warisan budaya Gresik yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Gresik. Biasanya, masyarakat menggantungkan lentera damar kurung di depan rumahnya untuk menyambut malam lailatul qadar

Damar berarti pelita atau lampu sedangkan kurung dapat diartikan sebagai tempat tinggal hewan yang mirip dengan sangkar burung. Damar kurung adalah lampion yang terbuat dari kayu berbentuk segi empat dan dilapisi kertas yang berhiaskan lukisan dengan banyak motif. Biasanya gambar tersebut berhubungan dengan kota Gresik atau kegiatan ibadah umat Islam. Bagian dalam damar kurung diberi sebuah lampu kuning, sehingga ketika dinyalakan terlihat lebih menarik.             

Kapan damar kurung mulai muncul di Gresik? Tidak ada sumber pasti yang menjelaskan tentang itu, tetapi yang jelas, damar kurung sudah ada di Gresik sejak puluhan abad yang lalu. Sedangkan festival damar kurung mulai diadakan tahun 2012 oleh Novan Effendy. Tujuan diadakannya festival ini adalah untuk terus menghidupkan budaya damar kurung, untuk mengkaji nilai-nilai luhur masyarakat Gresik, sebagai ajang promosi wisata kota Gresik serta mengangkat taraf ekonomi masyarakat sekitar. 

Festival damar kurung diadakan setiap bulan Ramadan, tepatnya minggu kedua bulan Ramadan. Festival ini mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Awalnya, acara ini hanya dilaksanakan semalam saja, lama kelamaan diselenggarakan beberapa malam. Festival ini juga semakin banyak melibatkan peran dari berbagai pihak, bahkan orang-orang dari luar Gresik. 

Lukisan-lukisan yang ada di damar kurung sebenarnya adalah lukisan tentang kehidupan masyarakat Gresik. Mulai dari suasana kehidupan sosial mengenai peribadatan Islam, yaitu tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang seperti malam selawe, lailatul qadar, rebo wekasan, dan lain-lain, kesibukan kehidupan di pesisir, hiburan, ombak laut, dan lain-lain. 

Selain menampilkan damar kurung, terdapat berbagai rangkaian acara untuk memeriahkan acara ini seperti, kesenian pencak macan, parade kostum karnaval, pemutaran video dokumenter pelukis damar kurung, dan lain-lain. 

Bagaimana? Apa kalian tertarik meramaikan festival damar kurung tahun depan? (AAR)

*Penulis Annisa Aulia Rakhma – mahasiswa PKL dari Universitas Negeri Malang Tahun 2021

Sumber gambar: https://www.ngopibareng.id/timeline/tradisi-damar-kurung-tak-sekedar-lentera-penerang-kubur-3-habis-1693289

Sumber:

Festival Damar Kurung, Warisan Kebudayaan Kota Gresik

https://www.sisternet.co.id/read/280248-festival-damar-kurung-lentera-ramadhan-khas-gresik https://www.gresik.info/mengenal-festival-damar-kurung-di-gresik.html

Samakah Arti Negeri dan Negara?

Kata negeri tidak sama artinya dengan negara. Negeri berarti ‘kota, tanah tempat tinggal, wilayah atau sekumpulan kampung (distrik) di bawah kekuasaan seorang penghulu (seperti di Minangkabau)’. Kata negeri bertalian dengan ilmu bumi. Negara berarti ‘persekutuan bangsa dalam suatu daerah yang tentu batas-batasnya dan diurus oleh badan pemerintah yang teratur’. Kata negara berpadanan dengan kata state (Inggris) atau staat (Belanda). Kata negara digunakan jika bertalian dengan sudut pandang politik, pemerintahan, atau ketataprajaan.

Berdasarkan pengertian kedua itu, kita telah mengubah bentuk pegadaian negeri, kas negeri, ujian negeri menjadi pegadaian negara, kas negara, ujian negara. Sejajar dengan perubahan itu, jika kita bertaat asas pada pengertian negeri dan negara, sebaiknya bentuk pegawai negeri, sekolah negeri, perguruan tinggi negeri, pengadilan negeri diubah pula menjadi pegawai negara, sekolah negara, perguruan tinggi negara, pengadilan negara jika memang badan-badan itu diurus oleh badan pemerintah secara teratur.

Sumber: Dendy Sugono. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Pusat Bahasa

SEKILAS MENELISIK SEBARAN CERITA SRI TANJUNG

Sri Tanjung Menunggang Ikan, relief di Candi Surowono

Cerita Sri Tanjung terlanjur diambil alih oleh Banyuwangi, Jawa Timur, dan dikekalkan dalam kisah asal-usul Banyuwangi, tentu saja juga diabadikan sebagai nama sebuah kereta api ekonomi jurusan Yogyakarta—Banyuwangi. Padahal Sri Tanjung adalah khasanah klasik di Jawa, juga Bali, yang dalam alur dan latarnya, tak sedikit pun menyinggung Bumi Blambangan.

Keberadaannya terekam dalam berbagai warisan dan artefak, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, hingga relief candi. Yang paling rentan untuk berubah di antara tinggalan tersebut adalah yang berbentuk lisan. Dapat dibayangkan bagaimana perubahan yang terjadi, karena dalam tradisi manuskrip saja, perubahan itu juga terjadi.

Selama ini, sudah diketahui, ada perbedaan antara Sri Tanjung dalam tradisi pernaskahan Bali dengan Sri Tanjung dalam pernaskahan di Jawa atau Banyuwangi (dalam Aminoedin, 1982; Turaeni, 2004). Apalagi mengacu pada tradisi pernaskahan paling tua (Prijono, 1938). Adapun dalam dunia relief percandian juga terdapat perbedaan-perbedaan (Kieven, 2014).

Setidaknya ada empat candi di Jawa Timur yang mengabadikan cerita Sri Tanjung pada bangunan candi tinggalan zaman Kerajaan Majapahit. Kieven (2014) mencatat keberadaannya ada di Candi Penataran (Blitar), Candi Surowono (Kediri), Candi Jabung (Probolinggo), dan Candi Bajang Ratu (Mojokerto). Namun, dari keempatnya, Candi Surowono lebih lengkap dan lebih memiliki daya tawar sebagai sebuah kreativitas pada zamannya.

Selain Kieven, terdapat para ahli sastra dan purbakala lain yang membahas panel relief di Candi Surowono, di antaranya adalah Worsley (1986) dan Klokke (1995). Mereka berdua memiliki penafsiran berbeda, terutama terkait panel-panel relief yang dialami Sri Tanjung di alam sesudah mati dan jenis binatang tunggangan Sri Tanjung di alam kematian.

Memang, terdapat perbedaan di antara beberapa candi di Jawa Timur dan beberapa cerita yang dianggap lebih tua. Ada versi yang menyebut Sri Tanjung menunggang buaya. Adapun pada panel candi tertentu, semisal Candi Penataran dan Candi Surowono yang berhasil saya jepret, digambarkan Sri Tanjung menunggang ikan, bukan buaya.

Kieven (2014) tidak melakukan tafsir mengenai soalan itu. Ia hanya menyebutkan ikan merupakan bagian dari kisah Sri Tanjung versi lisan yang lebih tua atau versi tulis yang telah hilang dan menggantinya dengan buaya dalam versi yang lebih terkenal dan lebih baru (2014). (MA)

Sumber: https://www.facebook.com/mashuri.alhamdulillah/

Sumber gambar: Koleksi Mashuri Alhamdulillah

SENJA MENGGETARKAN DI KAYANGAN API BOJONEGORO

Saya mendengar Kayangan Api sejak kecil. Konon, berupa api tak kunjung padam di tengah hutan jati Bojonegoro, di punggung Pegunungan Kendeng. Lokasi tepatnya di Dusun Ngembul, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Namun, saya tak kunjung dapat berkunjung. Baru pada pertengahan 2019, ketika saya didapuk sebagai ketua panitia kegiatan Balai Bahasa Jawa Timur terkait dengan pendataan media di Bojonegoro, saya berhasil menunaikan hasrat terpendam ke Kayangan Api.

Meski musim sedang kemarau, dan panasnya kota Bojonegoro begitu dahsyat, tetapi alhamdulillah begitu kami sampai di sana, tidak berapa lama, gerimis turun. Kami pun berteduh di pendapa besar, yang kelihatannya baru dibangun. Sepertinya tempat itu memang dirancang sebagai wisata alam, sekaligus wisata sejarah. Karena itulah, pemkab setempat getol melakukan serangkaian pembangunan di sana.

Pembangunan itu meliputi gapura, pendapa, pelataran, ornamen, tata letak, termasuk juga keberadaan sebuah keris besar sebagai ciri khas Kayangan Api, karena tempat itu dianggap sebagai tempat Mpu Supo membuat keris. Meskipun masalah ini menimbulkan perdebatan menarik di antara budayawan, sejarawan, seniman, dan pemerhati klenik lainnya. Ups! Yang terang, belum ada sepakat di antara para cendekiawan tersebut.

Keris raksasa di sebelah pintu masuk Kayangan Api

Keberadaan Kayangan Api mengingatkan saya pada Api tak Kunjung Padam di Desa Larangan, Pamekasan, Madura. Bedanya, di Pamekasan, apinya tertimbun dengan abu dan tanah, dan terkesan tidak tertata, meskipun sudah dipagar besi, sedangkan di Kayangan Api, pusat semburan dilokalisir dengan batu-batu dan ditembok rapi.

Kesamaannya keduanya dibalut cerita tutur yang luar biasa. Di Pamekasan dikaitkan dengan relasi antara penyebar agama setempat dengan seorang puteri dari Kerajaan Palembang. Di dekatnya, terdapat artefak kuno, yang diyakini sebagai cikal-bakal tempat tersebut. Berupa sepasang makam. Di Bojonegoro, terdapat kisah yang mengaitkannya dengan Mpu Supo, empu pembuat keris legendari pada zaman Majapahit–Demak, meskipun belum ditemukan artefak yang mendukung kisah tersebut.

Saya sempat bertanya seputar kawasan Kayangan Api tersebut kepada seorang pedagang jagung bakar tua di sana. Tentu juga tentang Mpu Supo dan beberapa karya keris saktinya, yang hingga kini menjadi rujukan putran berbagai keris di Jawa, di antaranya adalah Nagasasra, Sengkelat dan Carubuk —meskipun saya agak mengerti, posisi Mpu Supo sendiri dalam sejarah juga bias. Hal itu karena menurut Bambang Harsrinuksmo (2004), nama Mpu Supo tersebut dianggap sebagai nama umum mpu pembuat keris. Hal itu karena cukup banyak mpu pembuat keris yang bernama Mpu Supo, mulai dari Supo Mandrangi, Supogati, Supodriya, Supojaya, Supo Anom, Jaka Supo, Supowinangun, dan Suposetika. Meskipun bagi ahli perkerisan, nama-nama itu memiliki ‘sejarah’-nya sendiri-sendiri. Hanya saja dalam Winter (1871), nama Mpu Supo dinisbatkan sebagai mpu pembuat keris pada masa peralihan antara Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak, dengan mahakarya bernama Keris Carubuk. (MA)

Sumber: https://www.facebook.com/mashuri.alhamdulillah

Foto: Koleksi Pribadi KU dan MA

OBITUARI: HASAN SENTOT

Puisi Using tersebut karya almarhum Mas Hansen atau Mas Hasan Sentot, yang memiliki nama pena Sentot Parijata, yang berpulang ke haribaan Sang Khalik, Minggu 4 Juli 2021, di RSUD Genteng Banyuwangi. Gurit tersebut termuat dalam buku kumpulan puisi Using tunggal karyanya, berjudul “Ngeronce Welas”, halaman 9, yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur, pada pertengahan tahun 2019. Tersirat, puisi berbahasa daerah itu menyimpan sebuah pesan rahasia. Adapun secara gamblang, puisi itu menerangkan tujuan hidup penulisnya, sebagaimana dalam dua baris terakhir, yang artinya: “memuliakan orang tua dan keluarga, semoga besok diganjar surga”.

Hasan Sentot juga menjadi dosen luar biasa dalam jurnalistik di sebuah universitas. Alasannya ingin menyenangkan anak-anak. Mereka bahagia bila mereka mengaku pada kawan-kawannya bahwa ayahnya bekerja sebagai dosen. Hansen lahir di Banyuwangi, 27 Agustus 1965, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono. Beliau juga aktif sebagai pengurus Lesbumi Jawa Timur, tahun 2013—2018 di bagian humas, karena berlatar belakang jurnalistik. Hansen memulai kariernya sebagai wartawan Karya Dharma dan memuncak sebagai salah satu ‘orang penting’ di SCTV untuk wilayah liputan di Jawa Timur.

Hasan Sentot sangat aktif di acara-acara kebudayaan, seperti acara Festival Seni Sastra Pesantren di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Drajat Paciran Lamongan, yang diasuh KH Abdul Ghofur. Juga memperjalankan buku puisi “Tasbih Hijau Bumi” ke beberapa pesantren, madrasah dan sanggar seni-sastra di wilayah Jombang, Mojokerto, dan Kediri, termasuk di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Pondok Pesantren Darul Falah Mojokerto. Manajer JX Surabaya ini memang tidak sepenuhnya meninggalkan sastra, meskipun lama berkarier di jurnalistik, kemudian menjadi seorang karyawan perusahaan. Dia sangat tertarik dengan hal-ihwal sastra daerah, terutama dalam hal tradisi lisan dan filologi di daerah kelahirannya Banyuwangi dan dalam dunia santri di Jawa Timur.

Ngeronce Welas, 2019

Adapun soal puisi Using, dia memang dikenal menulisnya sudah lama dan memiliki jaringan dengan penyair dan seniman Using. Pada pertengahan tahun 2018, dia diminta bantuannya untuk menghimpun puisi para penyair Using untuk diterbitkan dalam sebuah antologi, sesuai dengan program kerja Balai Bahasa Jawa Timur pada tahun 2019. Namun, sampai tenggat waktu, ternyata belum terhimpun juga. Akhirnya, kumpulan puisi Using “Ngeronce Welas” yang terdiri atas 50-an puisinya pun terbit, meskipun dalam eksemplar yang terbatas, sekitar pertengahan tahun 2019.

Hasan Sentot juga sedang tertarik dengan riset tentang tradisi lisan Using berupa nyanyian rakyat seputar tahun 1955–1965. Dia mengaku punya beberapa narasumber yang masih hidup. Menurutnya, bentuk dan isi tembangnya sangat menarik. Ini adalah keahliannya karena skripsi S1-nya di Jurusan Sastra indonesia, Fakultas Sastra (kini FIB), Universitas Jember termasuk ‘berani’ dan menarik karena berbicara tentang tembang-tembang Using tahun 1965—1975, dari tinjauan semiotik. Apalagi karya itu digarap pada saat Orde Baru sedang berkibar pada tahun 1990-an. Bahkan, karena saking menariknya skripsi itu, hingga ‘paus’ sastra Jawa, almarhum Prof. Suripan Sadi Hutomo, kepincut dengan temuannya dan merekomendasikannya untuk menyajikan karya ilmiahnya dalam sebuah paparan seminar tradisi lisan di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta pada tahun 1993. (MA)

SENI BANTENGAN dari PASURUAN

Seni tradisi di Pasuruan masih hidup, di antaranya adalah jaran kepang, tayub, bantengan, wayang, dan lainnya. Kesenian “Bantengan” sampai saat ini masih dilestarikan di Desa Lumbang Rejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. diharapkan dapat diakui oleh Pemprov Jatim sebagai salah satu kesenian konservasi. Seni bantengan yang telah berkembang selama bertahun-tahun ini penuh dengan nilai kebudayaan yang tinggi, di samping selalu dirawat dan dipertahankan sebagai budaya khas masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan itu.

Korintus Mudjiyahya, atau biasa dipanggil Ki Bagong, Ketua Umum Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan mengatakan, kesenian banteng yang ada di Kecamatan Prigen memiliki daya tarik tersendiri, bila dibandingkan dengan seni-seni banteng yang ada di daerah lain. Daya tarik yang dimaksud adalah banyaknya alat musik tradisional, seperti gamelan, gendang, dan berbagai alat musik tradisional lainnya, yang dimainkan dalam kesenian tersebut.

Peralatan musik dalam Seni Bantengan

Pertunjukan kesenian bantengan diawali dengan pembacaan mantra-mantra untuk meminta kepada Tuhan YME agar pertunjukan pada hari itu berjalan lancar. Semua peralatan, seperti jaran kepang, barongan, dan cemeti diberi mantra agar tidak terjadi hal-hal di luar kendali. Setelah itu tampil penari jaran kepang yang dibawakan oleh empat orang pemuda. Bagi masyarakat Jawa Timur bagian timur (Surabaya, Malang, Pasuruan, Lumajang hingga Situbondo), tari Jaran Kepang merupakan kisah-kisah raja-raja kecil atau adipati yang saling berperang untuk meluaskan wilayahnya. Seperti kisah peperangan antara Turyanpadha (Turen, Malang) dengan Tuksari (Sumbersari, Malang) atau pemberontakan rakyat Malang, Surabaya, Lumajang dan Pasuruan dalam melawan Sultan Agung dari Mataram. Berdasarkan apa yang dapat kita lihat, tari Jaran Kepang di wilayah Malang, Lumajang dan Surabaya memang berasal dari rakyat jelata atau masyarakat kelas bawah.

Pembacaan mantra sebelum pertunjukan dimulai

Tarian jaran kepang berawal dari keinginan kaum jelata untuk memiliki kuda (dalam bahasa jawa disebut Turangga). Saat itu memang kuda adalah kendaraan yang cepat namun mahal dan hanya dimiliki oleh para adipati atau penguasa setempat. Hal ini tentu mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena keinginan yang begitu kuat itulah mereka membuat kuda kepang lalu ditungganggi dengan kaki mereka sebagaimana layaknya kuda. Alat musik dan pakaian yang sederhana semakin menunjukkan bahwa tarian Jaran Kepang di daerah ini berasal dari rakytat jelata. Memang tidak banyak sumber tertulis yang menunjukkan asal-usul tari ini. Kebanyakan hanya didapat dari cerita turun temurun yang sudah terdistorsi kanan dan kiri. Pengaruh kebudayaan baru juga membuat tarian Jaran Kepang ini menjadi tidak diminati masyarakat, terutama anak muda. Oleh karena iru, padepokan Gong Saraswati membina pemuda-pemuda di Kecamatan Prigen khususnya untuk berlatih jaran kepang dan kesenian khas Kabupaten Pasuruan lainnya.

Penampilan kesenian jaran kepang
Penampilan tari barongan
Akhir pertunjukan seni Bantengan

*Sumber: Laporan Kegiatan Visualisasi Kebinekaan Kebahasaan dan Kesastraan di Wilayah Kebudayaan Pandalungan, Pasuruan. 2016.

*Foto: Tim Visualisasi Kebinekaan Kebahasaan dan Kesastraan di Wilayah Kebudayaan Pandalungan, Pasuruan. 2016.

Buto-Butoan Jelbuk

Penduduk Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Jember, rata-rata pendatang dari Madura. Sudah dari ‘sono’-nya orang Madura terkenal religius. Tak heran, menjelang kehadiran bulan Ramadan, di desa Jelbuk digelar seni tradisi unik yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat lain, yaitu Buto-butoan. Secara harafiah, seni ini mengacu pada bentuk boneka-bonekaan yang melambangkan sosok tertentu, yang dipadu dengan kesenian lokal Jawa dan Madura.

Tidak diketahui sejak kapan kesenian ini hadir di kalangan masyarakat Jelbuk. Yang jelas hingga kini kesenian ini masih tetap eksis dan menjadi ritual tahunan. Apalagi ketika ditelisik lebih jauh, kehadiran kesenian ini tidak hanya melulu untuk menyambut bulan Ramadan. Namun juga pada acara hajatan, baik itu menikah, khitan, dan lainnya, kesenian ini dihadirkan sebagai sarana penghibur bagi masyarakat.

Seni ini merupakan modifikasi antara seni jaranan dan ondel-ondel dalam masyarakat Betawi. Bisa pula sejenis ‘ogoh-ogoh’ dalam tradisi masyarakat Bali. Uniknya, seni ini hanya bisa dijumpai di kalangan masyarakat Jember utara yang mayoritas peneduduknya beretnis Madura, yang kakek moyangnya merupakan imigran dari Madura dan bekerja sebagai buruh perkebunan. Dari sisi tradisi budayanya, mereka termasuk masyarakat santri.

Ihwal makna dari permainan ini memang banyak versi yang berkembang. Ada yang menjelaskan tentang simbol pengendalian nafsu sebagaimana sudah diutarakan karena mengingat simbol ondel-ondel yang dianggap ‘buto’ dan harus ditundukkan. Ada yang menafsirkan sebagai ungkapansuka cita dan bahagia. Tak heran, pada saat pertunjukkan warga terlibat menari, sambal berdendang dan menabuh tetabuan dengan riang. Yang merupakan perwujudan dari rasa suka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Kiranya, seiring dengan laju globalisasi, seni jenis Buto-butoan ini sangat layak untuk dijaga tetap lestari. (MA)

*Sumber: LIBAS Edisi Juli–September 2016

D. Zawawi Imron

Penyair Madura ini terkenal sebagai penyair yang mencintai budaya leluhur-nya dan masih tetap tinggal di Madura sampai saat ini.  D. Zawawi Imron dilahirkan di Batang-Batang Laok, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 20 kilometer dari Kabupaten Sumenep atau di ujung timur Pulau Madura. Seperti kebiasaan masyarakat desa yang menandai kurun waktu dengan peristiwa-peristiwa besar seperti gunung meletus, banjir, dan sebagainya, Zawawi tidak tahu persis kapan hari, tanggal, dan tahun kelahiran-nya. Menurut pengakuannya dan berdasarkan perkiraan, ia dilahir-kan sekitar tahun 1946, bersuku Madura dan beragama Islam.

Sebagai putra Madura asli, pendidikan Zawawi diwarnai nafas keislaman. Setelah tamat Sekolah Rakyat, Zawawi melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Salafiyah selama 18 bulan. Selanjutnya, sebagai seorang otodidak dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar dan pondok pesantren, ia berhasil mengikuti ujian persamaan pendidikan guru agama.

Sejak 1967—1983 Zawawi Imron bekerja sebagai guru agama sekolah dasar; tahun 1983—1985 menjadi guru agama sekolah menengah pertama, dan sejak 1985—1993 menjabat Kasubsi Penerangan Agama di Kantor Departemen Agama Kabupaten Sumenep.

Zawawi Imron berbeda dengan penyair-penyair lain yang umumnya tinggal di kota. Sampai saat ini, ia tetap tinggal di Batang-Batang. Menurut Zawawi, tinggal di desa justru mendukung kreativitasnya dalam bersastra. Zawawi mulai menulis sejak 1960 dan baru tahun 1973 ia mengirim sajak-sajaknya ke Minggu Bhirawa, Surabaya.

Beberapa prestasi yang diperoleh Zawawi Imron antara lain hadiah dalam sayembara nasional menulis puisi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Sahabat Pena Indonesia tahun 1979; hadiah dari Depdikbud dalam lomba menga-rang buku bacaan SD tahun 1981; tahun 1985 buku kumpulan puisinya Nenek Moyangku Air Mata mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama; dan, tahun 1990 kumpulan puisi Nenek Moyangku Air Mata dan Celurit Emas (1986) mendapat hadiah dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) sebagai puisi terbaik.

Penyair ini kali pertama menginjakkan kakinya di Jakarta tahun 1979 karena mendapat undangan menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara II (PSN).  Zawawi Imron sering diundang untuk membacakan puisi atau menjadi pembicara dalam seminar tentang budaya Madura. Tahun 1982, ia hadir dalam acara “Temu Penyair 10 Kota” di TIM Jakarta. Tahun 2005, Zawawi diundang Balai Bahasa Surabaya (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur) sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa Madura.

Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Semerbak Mayang (1977), kemudian disusul kumpulan Madura Akulah Lautmu (1978). Masih ada kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996). Kumpulan sajak-nya, Bulan Tertusuk Lalang (1982), mengilhami sutradara Garin Nugroho dalam pembuatan film berjudul “Bulan Tertusuk Ilalang”. Masih ada kumpulan sajaknya yang lain, seperti Derap-Derap Tasbih (1993), kemudian sajak hasil pengembaraannya ke Sulawesi Selatan yang terkumpul dalam Berlayar di Pamor Badik (1994). Tahun 1996 terbit kumpulan sajaknya Laut-Mu Tak Habis Gelombang. Sajaknya “Dialog Bukit Kemboja” keluar sebagai pemenang pertama Lomba Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan AN-Teve. Sajak-sajak Zawawi Imron sebagian sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria.

Selain sajak, karya sastra Zawawi Imron berupa cerita rakyat dan cerita anak. Cerita rakyat yang telah diterbitkan antara lain Campaka (1979), Ni Peri Tunjung Wulan (1980), Bangsacara-Ragapadmi (1980), dan Raden Sagoro (1984). Karya cerita anak yang sudah diterbitkan berjudul Melihat Kerapan Sapi di Pulau Madura (1988). Kumpulan puisi terbarunya berjudul Madura Akulah Darahmu (2005) merupakan kumpulan puisi-puisi pilihan karya Zawawi sejak 1976.

* Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

SENI TRADISI KHAS SUKOREJO

Tim visualisasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tiba di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Tuban, menjelang magrib. Namun, sinar matahari masih seperkasa mata Joko Tarub ketika mengintip Nawangwulan mandi di sendang Widodaren.

Lekuk jalan menuju desa yang berjarak sejauh 60 km lebih masih menunjukkan keseksiannya. Jalan menuju dusun itu sangat khas kawasan pegunungan Kendeng Utara. Keras, berkelok, sesekali jeglong, dan sempit. Panoramanya khas. Kadang dihimpit tebing batu kapur. Kadang lapang  di antara pesawahan. Apalagi sepanjang jalan, rimbun jati tumbuh di punggung bukit. Tampak dominan jati kanak-kanak dan remaja karena yang sudah sepuh telah bermetamorfosis menjadi kursi, tiang, hingga buah-buahan palsu yang menghiasi meja.

Kayu, apapun itu, menjadi sokoguru di kawasan Sukorejo. Ia tidak hanya menjadi sokoguru dalam arti harfiahnya sebagai tiang bangunan atau rumah, tapi juga sebagai penopang sebuah tradisi yang berusia ratusan tahun. Di dusun yang terpencil tersebut, kami disuguhi realitas dan degup hidup seni tradisi yang menggunakan kayu sebagai media ekspresi, yaitu wayang krucil dan wayang tengul (golek). Keduanya terbuat dari kayu.

Kedua wayang tersebut memang tidak hanya di Sukorejo, tapi bagi pemerhati wayang, hanya di Sukorejo dapat ditemukan ‘orisinalitas’ dan kekhasan khas. Wayang krucilnya memiliki iringan musik yang berbeda dengan krucil lainnya, yang disebut lekthung, dan dianggap memiliki silsilah paling tua di Tuban. Wayang tengul-nya pun memiliki ciri khas yang tidak dapat ditemukan di wilayah lain yang hidup di punggung pegunungan Kendeng sisi berbeda, semisal Bojonegoro, karena bonekanya berkaki. Mungkin inilah satu-satunya wayang golek yang berkaki di Nusantara.

“Karena itu cara memainkannya juga butuh teknik khusus,” kata sang dalang.”Karena pakai kaki, menurut kakek saya, ini bisa untuk ruwatan, Begitu pula dengan wayang krucil. Bahkan untuk ruwatan di sini wayang krucil masih yang dipercaya dan menjadi pilihan masyarakat,” lanjut sang dalang.

Dalang Ali Rispan sedang memilih tokoh wayang yang akan dilakonkan dalam pertunjukan.

Yang menarik, kehidupan kesenian di Sukorejo tumbuh subur dan hablur dengan watak pedusunannya. Di sana, ada grup musik salawatan, pencak dor, dan seni tradisi lainnya. Kami melihat beragam seni, dan sebagian besar seni tradisi, hidup bersama masyarakatnya tanpa terjebak seremoni dan kehilangan fungsi hakikinya sebagai seni. (MA)

*Sumber: Libas Edisi Juli 2017 *Foto: Tim Visualisasi Tuban (NN)