Mamaca, Perpaduan Seni Pertunjukan dan Tradisi Lisan di Pamekasan

Seni pertunjukaan tradisi lisan yang sehat pada hakikatnya ditandai oleh hubungan yang saling memerlukan antara seniman, pengamat seni, dan masyarakat penikmat. Namun, dalam kenyataannya, selain tidak mampu mempertahankan pelaku dan penikmatnya, seni tradisi kurang memiliki peluang untuk memberikan peningkatan yang bernilai ekonomi. Akibatnya perkembangan yang diharapkan menjadi terbatas, baik dalam hal perkembangan wujud dan wilayah persebaran. Tradisi sastra lisan Mamaca merupakan kesenian tradisional Madura yang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Dalam penyajiannya, sastra lisan Mamaca diiringi oleh seperangkat gamelan dan suling. Selain itu, keunikan dalam kesenian Mamaca ini terdapat pada bahasa yang digunakan, yakni bahasa Jawa arab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Madura. Dalam kepercayaan masyarakat Madura, tradisi sastra lisan Mamaca berfungsi sebagai sarana ritual sebagai penghilang sial dalam menjalani kehidupan. Di samping itu, kesenian Mamaca juga dijadikan sebagai sarana hiburan.

Sumber gambar: Kanal Youtube Langit Biru Production (https://www.youtube.com/watch?v=mIaNpufg1ig

Kabupaten Pamekasan merupakan kabupaten yang terletak di tengah Pulau Madura. Kabupaten ini berbatasan dengan laut Jawa di utara, Selat Madura di selatan, Kabupaten Sampang di barat, dan Kabupaten Sumenep di timur. Kabupaten Pamekasan terdiri atas 13 Kecamatan, yang dibagi lagi atas 178 Desa dan 11 Kelurahan. Pusat Pemerintahannya berada di Kecamatan Pamekasan. Pamekasan memiliki banyak kesenian tradisional, diantaranya adalah Karapan sape, Topeng Getak, Sape Sono’, Saronen, Tari Rondhing dan beberapa kesenian lainnya. Karakteristik kesenian Madura cenderung bertemakan ceria serta bernuansa rancak sesuai dengan watak masyarakatnya sendiri yang tegas. Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat, baik masyarakat kota maupun desa. Kebudayaan masyarakat selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Berlawanan dengan fenomena penyusutan wujud, pelaku, maupun penonton, masih dijumpai pendukung seni tradisi yang tampak tegar dan mampu bergerak lebih leluasa, seperti halnya seni tradisi lisan Mamaca yang ada di Kabupaten Pamekasan, Madura. Seni tradisi menjadi sarana hiburan, penopang ekonomi, dan bermuatan norma serta nilai pendidikan. Kesenian Mamaca dapat dikategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk sastra lisan, karena pada pertunjukannya menggunakan tutur kata yang dilagukan.

Di Kabupaten Pamekasan, kesenian ini sudah jarang terlihat dan hampir punah, hal tersebut dikarenakan kurangnya minat para generasi muda terhadap kesenian tradisional sehingga tidak ada reorganisasi dalam upaya melestarikan kesenian Mamaca ini. Disamping itu kesenian Mamaca dalam upacara ritual Rokat Pandhâbâ sudah jarang dilakukan, hal ini dikarenakan semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat di Pamekasan terhadap mitos-mitos yang berkembang pada jaman dulu.

Tradisi sastra lisan Mamaca masyarakat Madura khususnya di Pamekasan memiliki garis genealogis dengan tradisi Macapat masyarakat Jawa, yang sama-sama berupa tembang berbahasa Jawa, meskipun dengan nuansa yang berbeda, sesuai pengaruh kultur daerah masing-masing. Meskipun berbentuk tembang berbahasa Jawa tingkat tinggi (krama inggil), tradisi Mamaca tetap tumbuh subur dalam masyarakat Madura yang berbasis pesantren dan pedesaan, karena disamping masyarakat Madura memiliki jiwa estetika yang tinggi, nilai-nilai yang tersirat dalam aneka tembang Mamaca, sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi basis kultur setempat. Baik di pesantren, di pedesaan dan di tembang-tembang Mamaca, yang berperan sebagai juru dakwah dan kreator kesenian adalah orang-orang yang sama yakni para wali dan kiai.

Para Mubaligh terdahulu menciptakan tembang-tembang kreatif dan inovatif yang berisi doktrin agama, puji-pujian kepada Allah, anjuran dan ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan. Melalui tembang Mamaca tersebut, setiap manusia diketuk hatinya untuk lebih memahami dan mendalami makna hidup. Seni Mamaca memiliki dua unsur penting, yakni seni sastra dan seni suara (vokal).

Berbagai jenis tembang Mamaca mengandung makna yang mendalam, seperti Artate (Dangdanggula) yang bermakna pengharapan yang manis, atau dedaunan untuk pajangan (perhiasan/dekorasi), Maskumambang yang artinya prihatin, sangat susah, Senom yang artinya tumbuhnya daun pohon Asam (daun pohon asam yang masih muda), sangat bagus digunakan untuk menyampaikan nasehat dan berbagai hal kebatinan yang butuh banyak peribahasa, Kinanti (Salanget) yang artinya sangat dekat, digunakan untuk nasehat, kerukunan, Mejil yang artinya keluar, digunakan untuk menghadapi pertikaian atau perselisihan, Durma yang maknanya macan, digunakan ketika kita begitu bernafsu beringas, sedih, dan lain-lain. Pucung yang artinya perumpamaan, bagus digunakan ketika tebak-tebakan, dan Kasmaran bermakna heran.***

Sumber: Rifqi, Faizur. (2018). “Tradisi Sastra Lisan Mamaca di Kabupaten Pamekasan”. GÊTÊR: Jurnal Seni Drama, Tari, dan Musik, 1(1), 39—45.

https://journal.unesa.ac.id/index.php/geter/article/view/3924

Mitos dan Tradisi Larangan Pernikahan Etan-Kulon Kali Brantas di Kediri 

Mitos telah menjadi bagian integral dari budaya manusia sejak zaman dahulu, dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah keinginan untuk mengatur perilaku manusia, yang seringkali dilakukan melalui cerita-cerita yang memiliki daya tarik emosional dan pengaruh yang kuat. Di samping itu, kecenderungan masyarakat untuk menyukai tutur tinular dan kesulitan untuk menyampaikan pesan secara langsung juga turut berperan dalam pembentukan mitos. Salah satu contoh yang menarik adalah mitos yang berkembang di Jawa, terutama di sekitar Kediri pada masa Kerajaan Kadiri dan sekitarnya.

Sejak zaman dahulu, masyarakat lokal di wilayah tersebut mempercayai mitos tentang larangan pernikahan antara individu yang berasal dari wilayah barat dan timur Sungai Brantas. Meskipun zaman telah berubah dan hidup modern telah mengubah banyak aspek kehidupan, masih banyak masyarakat di Kediri dan sekitarnya yang tetap mempercayai mitos tersebut. Namun, kepercayaan pada mitos ini tidaklah homogen di masyarakat, melainkan menimbulkan konflik antara orang-orang yang percaya dan yang tidak percaya pada keberadaan mitos tersebut.

Sumber gambar: Kanal Youtube Polresta Kediri (https://www.youtube.com/watch?v=ScJq1l1BSww

Selain itu, kesalahan dalam berpikir juga dapat memperdalam perpecahan dalam masyarakat, karena pandangan yang berbeda dalam melihat dan menginterpretasikan mitos. Beberapa masyarakat mungkin menganggap bahwa mempercayai mitos tersebut dianggap tabu atau tidak sesuai dengan keyakinan agama mereka, sementara yang lain tetap teguh pada kepercayaan tersebut dengan alasan turun-temurun dan nilai-nilai yang diwariskan dari nenek moyang mereka.

Kisah tentang Raden Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji menjadi salah satu kisah yang sangat memengaruhi pandangan masyarakat di wilayah tersebut, terutama terkait dengan tradisi pernikahan. Populernya cerita ini diambil dari cerita Panji, yaitu kisah cinta Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang diibaratkan dengan Tarian Kethek Ogleng.

Tradisi larangan menikah antara orang dari wilayah timur dan barat Sungai Brantas diyakini memiliki kaitan erat dengan kisah cinta mereka yang dipisahkan oleh status kerajaan yang berselisih. Untuk menyelesaikan gejolak yang timbul akibat pernikahan mereka, masyarakat setempat mengembangkan berbagai ritual, seperti penyembelihan ayam dan melemparkannya ke Sungai Brantas saat rombongan pengantin melewati jembatan.

Meskipun zaman terus berubah dan pola pikir manusia semakin modern, kepercayaan pada mitos dan tradisi tetap bertahan kuat di masyarakat. Sebagian masyarakat masih melakukan ritual-ritual yang diwariskan dari generasi sebelumnya untuk menghilangkan hal-hal yang dianggap tidak diinginkan. Namun demikian, pemahaman mengenai mitos ini semakin tercampur dengan nilai-nilai religius, dengan pandangan yang beragam tergantung pada sudut pandang agama masing-masing.

Melalui penelusuran terhadap mitos dan tradisi yang berkembang di seputar Sungai Brantas, dapat disimpulkan bahwa kepercayaan dan tradisi ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya dan sejarah masyarakat lokal di wilayah Kediri. Meskipun terkadang dianggap sebagai mitos belaka, keberadaan mitos ini tetap membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat, serta menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya mereka.***

Sumber: Ulum, Syahrul & Umi Colbyatul Khasanah. (2022). “Mitos Larangan Menikah Etan-Kulon Kali Brantas Kediri: Tinjauan Strukturalisme Lévi-Strauss”. Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam, 20(02), 235—252.

http://jurnallppm.iainkediri.ac.id/index.php/realita/article/view/130 

 

Memahami Kedalaman Spiritual dan Tradisi: Eksplorasi Ritual Sêblang Olehsari di Desa Olehsari, Banyuwangi

 Ritual Sêblang Olehsari merupakan tradisi adat yang ada di Desa Olehsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Secara etimologis, istilah “Sêblang” berasal dari bahasa Using. Istilah tersebut merupakan singkatan dari sêbêlé ilang yang artinya ‘mengusir sial’. Pelaksanaan ritual ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut selama perayaan Idulfitri. Puncak acaranya berada pada hari ketujuh dengan prosesi Idêr Bumi. Peserta berjalan mengelilingi Desa Olehsari, diikuti oleh upacara Ngêlungsur atau siraman keesokan harinya. Bagian sentral dari ritual ini adalah ketika penari terpilih yang berdasarkan garis keturunan dan menari selama tiga jam dalam kondisi kesurupan.

Sumber gambar: Kanal Youtube Land of Osing Banyuwangi (https://www.youtube.com/watch?v=w2jh-ODR1jg

Sêblang, sebuah ritual sakral, diyakini muncul pertama kali di daerah Bakungan pada sekitar tahun 1770-an. Lagu dan gerakan tarian secara simbolis mencerminkan peristiwa yang ada di sekitarnya. Sêblang di Olehsari, catatan asisten wedono Glagah pada tahun 1930-an, muncul sebagai respons terhadap pandemi di desa tersebut. Dipimpin oleh Saridin sebagai pawang, ritual Sêblang diadakan secara besar-besaran. Upacara ini dilaksanakan mulai pukul 14.00 hingga 17.30 WIB, dengan penari muda sebagai mediator, sementara mediator Sêblang di Bakungan adalah wanita menopause. Keduanya menari dalam keadaan kesurupan selama ritual. Tanggal pelaksanaan ritual ditentukan melalui proses kêjiman.

Selain penari, pelaku ritual Sêblang Olehsari melibatkan beberapa pendukung, seperti pawang yang memimpin ritual, pengudang yang menemani penari, pemain gamelan, dan sinden wanita. Prosesi ritual melibatkan beberapa tahap persiapan, termasuk pemilihan penari dan penentuan waktu pelaksanaan. Rapat desa dibuat untuk membentuk kepanitiaan dan mengkoordinasikan persiapan, termasuk tempat pertunjukan Gênjot. Ritual dimulai dengan ziarah makam, diikuti oleh kêjiman untuk memilih penari dan menetapkan waktu pelaksanaan. Pada malam sebelum acara, dilakukan selametan untuk menjamin kelancaran ritual. 

Sêblang juga melibatkan penyajian sesaji, yang terdiri dari tiga jenis berdasarkan fungsi dan tempatnya. Selain sesaji, Sêblang juga mempunyai Omprok atau sebuah aksesori di kepala penari. Omprok ini terbuat dari bunga dan dedaunan segar, yang disiapkan pada pagi hari sebelum ritual. Mitosnya, wanita lansia keturunan pembuat Omprok dipercaya sebagai perantara berkah dari ritual tersebut. 

Acara berikutnya adalah pementasan Sêblang Olehsari, dimulai dengan prosesi arak-arakan menuju tempat pertunjukan. Ritual berlangsung selama enam hari, dengan puncak pada hari ketujuh berupa prosesi Idêr Bumi. Prosesi Ngêlungsur atau siraman bagi pendukung ritual dilakukan untuk mengakhiri serangkaian acara Sêblang Olehsari.***

Sumber: Anny, Ammy Aulia Renata. (2016). “Proses Ritual Sêblang Olehsari”. Joged: Jurnal Seni Tari, 8(1), 239—250. https://media.neliti.com/media/publications/91589-ID-proses-ritual-seblang-olehsari.pdf

Perjalanan Spiritual “Rasa Syukur” dalam Tradisi Ulur-Ulur

 Ulur-Ulur merupakan sebuah upacara adat rasa syukur yang diadakan sebagai bentuk penghormatan atas keberadaan Telaga Buret yang telah menyuburkan sawah di empat desa selama berabad-abad. Desa-desa yang terlibat dalam upacara ini adalah Sawo, Gedangan, Ngentrong, dan Gamping, yang terletak di Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Upacara Adat Ulur-Ulur ini khususnya diadakan di Desa Sawo. Nama “Ulur-Ulur” sendiri berasal dari kata “Ulu” atau “Ulu-Ulu,” yang memiliki arti air, menunjukkan hubungan erat upacara ini dengan unsur air dan Telaga Buret.

Upacara ini telah menjadi tradisi selama berabad-abad dan dijalankan oleh masyarakat yang mengandalkan air dari Telaga Buret untuk pertanian mereka. Setiap tahunnya, Upacara Adat Ulur-Ulur wajib dilaksanakan pada bulan Sela, pada hari Jumat Legi. Telaga Buret, berbentuk bulat seperti sumur dengan diameter ±35 meter, selalu mengalirkan air yang melimpah, bahkan pada musim kemarau. Telaga ini menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran bagi petani.

 

Sumber gambar: Kanal Youtube Shofiyatul Hija (https://www.youtube.com/watch?v=Z8LGoB9rWRA

Tradisi ulur-ulur diadakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki berupa sumber mata air Telaga Buret yang selalu melimpah tanpa pernah kering. Masyarakat di empat desa menggunakan sumber mata air ini untuk mengairi sawah, terutama pada musim kemarau. Tradisi ulur-ulur merupakan bagian dari kearifan lokal dan menjadi bagian dari kebudayaan. Kebudayaan memiliki fungsi sebagai panduan hidup yang tercermin dalam bentuk hukum, norma, dan nilai. Hukum, norma, dan nilai ini berfungsi sebagai control atau aturan dalam masyarakat, dan itulah yang menjadi dasar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Upacara ini bukan hanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga sebagai penghormatan kepada Dewi Sri dan Joko Sedono, yang menjadi simbol kemakmuran petani. Legenda lokal menyebutkan bahwa empat desa di Kecamatan Campurdarat sebelumnya mengalami paceklik dan kekeringan yang panjang, tetapi setelah hadirnya Telaga Buret, kekeringan tersebut tidak pernah terjadi lagi. 

Struktur upacara adat ritual Ulur-Ulur mencakup barisan kirab dengan kelompok-kelompok yang berperan, seperti pembuka barisan, pembawa sesaji, dan tamu undangan. Prosesi inti mencakup pemberangkatan rombongan, penghiasan patung Dewi Sri dan Joko Sedono, serta tabur bunga dan pelarungan sesaji ke Telaga. Selain itu, upacara ini juga memiliki elemen-elemen seperti waktu dan tempat ritual, tata rias dan busana, serta sesaji atau sajen.

Fungsi sosial dari Upacara Adat Ulur-Ulur mencakup permohonan hujan kepada Allah SWT, sarana membersihkan desa, memohon keselamatan, dan sebagai promosi pariwisata di Desa Wisata Pelem dan Kabupaten Tulungagung. Dengan begitu, Ulur-Ulur tidak hanya merupakan warisan budaya yang berakar dalam kepercayaan dan tradisi lokal, tetapi juga memiliki dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Sumber: 

  1. Warisan Budaya takbenda (https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=1820)
  1. Tricahyono, Danan & Sariyatun. (2021). “Tradisi Ulur-Ulur ditinjau dari Pendekatan Konstrukstivisme sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran IPS”. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(1), 79—88.
    https://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/Aksara/article/download/365/345

Tradisi Suroan: Kekayaan Tradisi Lisan dan Kebudayaan Masyarakat Ponorogo di Bulan Suro

Malam satu Suro adalah momen yang dinanti-nantikan oleh seluruh warga Ponorogo. Suro, yang merujuk pada bulan Muharam atau bulan pertama dalam kalender Hijriah (kalender Islam), dirayakan melalui serangkaian acara yang melibatkan berbagai pihak. Menjelang malam satu Suro, Ponorogo menggelar Grebeg Suro, sebuah perayaan tahunan yang berlangsung setiap tahun untuk menyambut tahun baru Hijriyah dan sebagai perayaan hari jadi Kabupaten Ponorogo. Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 63 Tahun 1987 tentang Tim Kepariwisataan Daerah Tingkat II Ponorogo. Rangkaian acara Grebeg Suro mencakup pameran, lomba, dan festival, termasuk Festival Reog Nasional (FRN), tirakatan, kirab pusaka, pawai lintas sejarah, larungan risalah doa di Telaga Ngebal pada tanggal 1 Suro, dan konser atau hiburan. Setelah absen selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, perhelatan ini kembali digelar pada tahun 2022, berlangsung dari 11 Juli hingga 28 Agustus 2022.

Sumber gambar: Kanal Youtube Grebeg Suro Ponorogo (https://www.youtube.com/watch?v=xPeNgdzTxIw

Acara Grebeg Suro diawali dengan Reog Kol Show Bupati Cup, istighosah, Ganesha Musik Show, Ngebel Accoustic Festival, Jambore Hard Top Jatim, lomba karawitan umum, sima’an alquran Rabu Pahing, kontes tanaman hias Nasional, upacara pembukaan, Festival Reog Mini (FRM) ke XVIII, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke XXVII, pameran bazar UMKM, pameran keris dunia Ponorogo Hebat, Ponorogo Kreatif Festival dan lomba musik pelajar, pacuan kuda, Grebeg Suro Trail Adventure, Vespa Reog Paradise, Grebeg Bonsai Bumi Reog, lomba dan pameran burung berkica Nasional, festival wayang Internasional, Bhedol Pusoko dan Mocopotan, ziarah makam Batoro Katong dan KRMA Mertonegoro, kirab lintasan sejarah dan jamasan Pusoko, malam puncak grebeg Suro dan pengumuman FRM dan FNRP, pertunjukan wayang kulit, music on the street, larungan telaga Ngebel, konser harmoni Bumi Reog, festival santri, lomba penulisan karya ilmiah, pameran seni rupa, jambore sepeda unto, kontes kambing etawa, lomba macapat pelajar, Grebeg Suro Adventure off-road, Jambore mini trek Nasional, Grebeg Suro Pelung cup, Grebeg Suro motorcross, kontes ayam pelung, simaan Al-Quran, lomba karawitan tingkat pelajar, festival teater, parade Bujangganong feat tari Suffi, turnamen bola voli, parade dalang bocah, gelar Reog obrok, lomba baca puisi, rapat paripurna DPRD, gelar budaya, dan peringatan hari jadi Ponorogo ke-526, pertunjukan seni ketoprak, dan diakhiri dengan grebeg tutup bulan Suro.

Peringatan malam satu Suro di Dusun Sodong dilakukan dengan mengadakan doa bersama sebagai sebuah momen untuk kebersamaan dan mempererat silaturahmi dengan semua warga. Selain adanya doa bersama, acara ini bisa disebut dengan ritual sedekah bumi sebagai salah satu upacara adat masyarakat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi. Masyarakat sekitar melaksanakan tradisi Suroan ini dengan hasil bumi yang diarak dan di punden desa sebagai tempat titik kumpul masyarakat untuk melakukan refleksi doa bersama.

Meskipun seluruh rangkaian acara berpusat di tengah kota, perayaan menyambut bulan Suro tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat, termasuk masyarakat Dusun Sodong Kabupaten Ponorogo. Meskipun berjarak sekitar 20,2 KM dari pusat kota, masyarakat Dusun Sodong, yang hidup harmonis sebagai kelompok Budha-Islam, turut merayakan dan menantikan malam Suro sebagai momen istimewa.

Sumber: Sofiana, Eri. (2022). “Nilai Moderasi Beragama dalam Perayaan Malam Satu Suro Masyarakat Dusun Sodong Ponorogo”. Proceeding of International Conference Cultures & Language, 1—12. https://ejournal.uinsaid.ac.id/index.php/iccl/article/view/5752/1941

Jidhor Sentulan: Mitos Jelmaan Harimau di Acara Khitan

Jidhor Sentulan merupakan upacara yang dilaksanakan di beberapa desa di Kabupaten Jombang untuk merayakan khitanan. Upacara Jidhor Sentulan sangat bernuansa Islam meskipun warna lokalnya juga sangat kental. Dalam pelaksanaan upacara Jidhor Sentulan, anak yang dikhitan duduk di atas tandu kemudian diajak berkeliling desa melalui jalan yang telah ditentukan. 

Dalam bahasa orang Jombang, anak yang telah dikhitan (pengantin khitan) tersebut dikatakan sebagai anak yang telah di-selam atau diislamkan (dijadikan Islam). Musik pengiring dalam upacara ini terdiri atas rebana, gendang, dan jidur. Iring-iringan upacara adat Jidhor Sentulan digelar sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur atas anak yang telah dikhitan. Upacara Jidhor Sentulan sangat unik dan mempunyai daya tarik tersendiri karena dikemas dengan unsur-unsur lokal. 


Sumber gambar: Kanal Youtube

Para peserta upacara Jidhor Sentulan melakukan beberapa kegiatan yang merupakan rangkaian dari jalannya upacara. Ketika prosesi tiba di depan rumah yang punya hajat (orang tua pengantin khitan), perlengkapan upacara atau sajian yang disebut sandhingan dan cok bakal diserahkan kepada ayah pengantin khitan sebagai kepala keluarga dan juga kepada pengantin khitan. Selanjutnya, Kiai Kumbang Sumendhung (disimbolkan oleh seorang penari bertopeng) menjemput sesepuh (sosok yang dituakan) yang bertugas sebagai pemimpin upacara untuk membaca doa dan mantra sembari membakar kemenyan. Sesepuh ini berperan sebagai dukun yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat. Apabila tidak diusir, roh jahat tersebut akan mengganggu warga dusun. Kegiatan selanjutnya adalah selamatan. Selamatan yang dimaksudkan adalah kegiatan melantunkan doa syukur kepada Allah Swt. untuk memohon perlindungan-Nya. Puncak dari kegiatan ini adalah pelaksanaan khitan oleh juru khitan.

Perlengkapan upacara mengusung berbagai makna. Misalnya, angka 2 (dua) mengandung makna yang terkait dengan fenomena alam yang berlawanan, seperti terang dan gelap, siang dan malam, tua dan muda, serta laki-laki dan Perempuan. Penunjukan angka 1 (satu) mengusung makna ke-ekaan (tunggal), seperti bumi yang satu dan Sang Pencipta bumi serta isinya yang dipercaya juga hanya satu (tunggal). Penggunaan angka 5 (lima) mengacu kepada kepercayaan tradisional Jawa, yakni kiblat papat lima pancer (empat kiblat dan satu pusat yang ke-5). 

Pada upacara jidhor sentulan juga terdapat tampilan seekor harimau jadi-jadian yang disebut Kiai Kumbang Semendhung. Kiai Kumbang Semendhung merupakan seorang penari topeng yang juga disebut penthul atau arak-arakan dalam upacara selamatan. Dalam arak-arakan ini, yang menjadi pembuka jalan adalah seorang penari bertopeng (penthul). Selanjutnya, upacara tersebut disusul dengan anak yang dikhitan yang diusung (digotong) dengan tandu oleh empat orang. 

Harimau jadi-jadian yang dipercaya sebagai penjelmaan Kiai Kumbang Sumendhung, dipercaya sebagai danyang dusun (roh halus penjaga dusun), berjalan di belakang pengiring. Pengiring khitan ini terdiri atas muda-mudi yang belum menikah. Mereka dianggap masih dalam keadaan suci dan diberi tugas untuk membawa kembang mayang. Kerabat yang dikhitan juga ikut dalam arak-arakan prosesi tersebut. 

Upacara tradisional ini digelar sebagai wujud ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur atas anak yang telah dikhitan. Selain itu, juga merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memberikan pelindung dan keselamatan kepada anak-anak yang masih suci tersebut. 

Sumber: 

Sutarto, Ayu., Akhmad Sofyan., Sugeng Adipitoyo., Rokmat Djoko., Ikhwan Setiawan. (2013). Modul Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sumber gambar:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=PZNIYyRg-go 
  2. https://www.youtube.com/watch?v=p6ebKkrwxuc 

Upacara Larung Saji: Tradisi Tolak Balak oleh Masyarakat Kediri

  Legenda dapat dipahami sebagai cerita magis yang sering dikaitkan dengan tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat yang nyata. Berlainan dengan mitos, legenda ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu oleh makhluk-makhluk ghaib. Cerita legenda di Jawa Timur sudah banyak, salah satunya adalah legenda Gunung Kelud. Legenda Gunung Kelud sangat erat dengan mitos Lembu Sura. Dalam mitos Gunung Kelud juga digambarkan sistem kepercayaan di masa Prabu Brawijaya dan masyarakat di sekitar Gunung Kelud kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga Prabu Brawijaya memerintahkan kepada rakyatnya untuk mengadakan upacara larung saji agar terhindar dari sumpah Lembu Sura. 

Singkat cerita, tradisi larung saji bermula dari legenda Gunung Kelud dan Lembu Sura. Pada masa Kerajaan Brawijaya, Prabu terlintas dalam benak untuk mengadakan sayembara. Sayembara tersebut dilakukan untuk menikahkan putrinya yang bernama Dewi Kilisuci dengan seorang laki-laki yang mampu melewati dua rintangan yang sudah disediakan olehnya. Apabila laki-laki tersebut berhasil, ia berhak menikah dengan putri. Ketika sayembara dibuka dan akan ditutup karena tidak ada satupun laki-laki yang dapat melakukan tantangan, tiba-tiba datang seorang laki-laki berkepala lembu yang bernama Lembu Sura. Dengan mudahnya Lembu Sura merentangkan busur dan mengangkat gong dengan kekuatan yang dimilikinya. Dewi Kilisuci kecewa dan tidak ingin menikah dengan laki-laki berkepala lembu. Akan tetapi, raja harus bersikap adil. Raja tetap akan menikahkan Lembu Sura dengan Dewi Kilisuci. Melihat putrinya sedih, salah seorang pengawal Dewi Kilisuci memberikan saran agar Lembu Sura membuatkan sumur dipuncak Gunung Kelud dalam waktu satu malam. Dewi Kilisuci pun mengajukan permintaan kepada Lembu Sura dan disetujui olehnya.

Gambar: Ilustrasi Lembu Sura memenangkan sayembara dan dampak pengkhianatan
dari Prabu Brawijaya

Sumber gambar: Kanal Youtube Dongeng Kita (https://www.youtube.com/watch?v=aQu_-41Gu2Q

Sumber gambar: https://ppid.blitarkab.go.id/2022/07/upacara-adat-pemkab-blitar-gelar-larung-saji/#:~:text=BLITAR%20KAB%20%E2%80%93%20Upacara%20Tradisional%20Larung,dan%20masyarakat%20nelayan%20Kabupaten%20Blitar

Sumber gambar: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/larung-sesaji-pantai-tambakrejo-ritual-ini-merupakan-ungkapan-syukur/ 

Ketika Lembu Sura hampir selesai menggali sumur, raja memerintahkan pengawalnya untuk
menimbun sumur tersebut. Tidak ada satu pun pengawal yang berani menolong Lembu Sura ketika ia berteriak minta tolong. Sebelum mati tertimbun, Lembu Sura mengucapkan sumpah serapah. Untuk mengantisipasinya, Raja membuat tanggul yang sekarang menjadi gunung pegat dan mengadakan tolak balak yang disebut dengan larung saji di kawah Gunung Kelud.

Dalam mitos tersebut digambarkan bahwa Prabu Brawijaya dan sebagian masyarakat Kediri, Blitar, dan Tulungagung juga masih percaya terhadap sumpah Lembu Sura, bahwa setiap dua windu sekali, Lembu Sura akan merusak wilayah kekuasan Raja Brawijaya. Sumpah Lembu Sura ketika tahu dikhianati oleh Raja Brawijaya dan Dewi Kilisuci adalah Kediri akan menjadi kali (sungai), Blitar akan menjadi latar (tanah), dan Tulungagung akan menjadi kedung (waduk). Untuk mengatasi sumpah Lembu Sura, Raja Brawijaya menyuruh masyarakat membuat tanggul yang kuat yang bertujuan untuk melindungi pemukiman penduduk dari letusan lahar Gunung Kelud. Terlepas dari hal itu, Prabu Brawijaya juga memerintahkan agar masyarakat melaksanakan upacara larung saji setiap tanggal 1 bulan Muharam. 

Upacara larung saji tersebut sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Kelud. Upacara tersebut dilakukan sebagai bentuk tolak balak agar Lembu Sura tidak marah, sehingga Gunung Kelud tidak meletus. Sebagian masyarakat di Kediri, Blitar, dan Tulungagung juga masih ada yang mempercayai mitos tersebut. Apabila Gunung Kelud meletus, berarti Lembu Sura sedang marah serta melaksanakan sumpahnya untuk merusak wilayah kekuasan Raja Brawijaya. Sumpah tersebut adalah bentuk balas dendam Lembu Sura kepada Prabu Brawijaya dan Dewi Kilisuci yang telah melakukan pengkhianatan terhadap dirinya, yaitu menimbun dirinya dalam sumur yang dibuatnya sendiri sampai meninggal. Hingga saat ini, warga Kediri dan sekitarnya percaya bahwa ketika Gunung Kelud erupsi, itu adalah wujud kemarahan Lembu Sura. 

Sumber: 

  1. Raharjo, Resdianto Permata, Arisni Kholifatun., & Ginanjar Setyo Permadi. (2021). Strukturalisme Sastra Lisan dalam Mitos Dewi Kilisuci dan Mitos Tengger.
    Gresik: Graniti.
  2. Wardani, Intan Kusuma., Rifanda Natasya Wiri Dana., & Encil Puspitoningrum. (2020). “Analisis Nilai Moral Cerita Rakyat Legenda Gunung Kelud dan Lembu Sura Menggunakan Pendekatan Mimetik”. WACANA: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran, 4(2), 70—80. https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/bind/article/view/17655

Bathoro Katong: Jejak Legenda yang Abadi di Kota Reog

Kabupaten Ponorogo yang dikenal sebagai Kota Reog memiliki banyak cerita sejarah. Salah satu cerita sejarah yang cukup menarik adalah tentang Raden Bathoro Katong, sang legenda Kota Reog. Raden Bathoro Katong atau Lembu Kanigoro yang merupakan founding father-nya Ponorogo berhasil mengubah kondisi masyarakat Ponorogo yang awalnya primitif menuju peradaban yang lebih baik. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kedatangannya ke Ponorogo merupakan konsekuensi dari perubahan politik pada masa itu, yaitu dari kekuasaan Kerajaan Majapahit (Hindu-Budha) menuju pada kekuasaan Kerajaan Islam Demak. 

Selain itu, bukti sejarah yang berupa prasasti baik di candi, makam, masjid, dan tempat-tempat bersejarah lainnya masih relatif lengkap dan terpelihara secara baik. Namun, prasasti tersebut tidak dapat terbaca secara jelas oleh masyarakat Ponorogo maupun para pemerhati sejarah. Sebab, dokumen-dokumen tertulis yang mendukung prasasti tersebut sangat terbatas.

  

Gambar: https://diannurcahyanti.wordpress.com/makam-batoro-katong/ 

Legenda Bathoro Katong merupakan legenda turun-temurun rakyat Ponorogo yang mengandung cerita sejarah asal-usul daerah. Memelihara tradisi adalah perilaku yang telah diwariskan secara turun-temurun. Banyak nilai kehidupan yang terdapat pada Legenda Bathoro Katong. Legenda tersebut mengisahkan kekalahan Bathoro Katong menghadapi serangan Ki Ageng Kutu. 

Konon, pasukan Ki Ageng Kutu menyerang Ponorogo ketika Bathoro Katong dan prajuritnya sedang melaksanakan salat Jumat. Saat itu bertepatan pada hari Jumat Wage. Hingga kini, masyarakat Ponorogo berkeyakinan bahwa hari Jumat Wage merupakan hari nahas atau hari sial oleh masyarakat Ponorogo, terutama kaum abangan (Kumpulan Cerita Rakyat Ponorogo). Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Ponorogo kental dengan tradisi animisme dan dinamisme yang diturunkan dari keyakinan leluhur kemudian diwariskan melalui cerita rakyat. Semenjak itu, hari Jumat Wage menjadi pantangan untuk bepergian, bercocok tanam, mendirikan rumah, menikahkan anak, mengkhitankan anak, dan sebagainya. 

Gambar: https://www.facebook.com/SemuaTentangPonorogo/posts/jumatan-di-masjid-bathoro-katong-ponorogobismilah-semoga-zona-merah-segera-berla/4247549218635393/?locale=id_ID

Gambar: https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/pemkab-ponorogo-upayakan-perbaikan-stadion-batoro-katong/ 

Hingga saat ini, nama Bathoro Katong dianggap penting bagi masyarakat Ponorogo. Hal ini terbukti karena beberapa tempat maupun bangunan masih banyak yang menggunakan nama “Bathoro Katong” seperti penamaan stadion, masjid, dan sebagainya. 

Sumber: 

  1. https://surabaya.kompas.com/read/2022/04/05/192000678/dijuluki-kota-reog-ini-sejarah-kabupaten-ponorogo-ada-sejak-tahun-1496?page=all
  2. Pramono, Muhammad Fajar. (2006). Raden Bathoro Katong Bapak e Wong Ponorogo. Ponorogo: Lembaga Penelitian Pemberdayaan Birokrasi dan Masyarakat. http://repo.unida.gontor.ac.id/83/4/Raden%20Bathoro%20Katong%20Fix.pdf
  3. Sari, Fitriana Kartika. (2023). “Legenda Bathoro Katong dan Reog Ponorogo sebagai Materi Penguatan Karakter Berkebhinekaan”. Jurnal Bahasa dan Sastra, 10(2),
    117—123. https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/326/333

Perjalanan Mistis di Balik Ritual Ider Bumi

Ritual Ider Bumi merupakan acara sakral yang diadakan oleh masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Ritual ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur atas keamanan seluruh warga, yang juga dihubungkan dengan mitos Buyut Cili, yang diyakini sebagai pelindung desa. Istilah “Ider Bumi” sendiri menggabungkan kata “ider” dan “bumi” yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Meskipun cerita tentang Buyut Cili hanya diturunkan secara lisan dan tanpa data otentik, masyarakat Kemiren dengan kuat mempercayainya sebagai bagian dari warisan budaya mereka.

Cerita tentang Buyut Cili telah diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi dan dianggap sangat suci oleh masyarakat Kemiren. Tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti makam Buyut Cili, dijadikan objek persembahan dalam bentuk upacara slametan. Setiap kejadian dihubungkan dengan Buyut Cili, dan peristiwa-peristiwa ini selalu melibatkan sajian persembahan dalam bentuk slametan. Mengingat kebanyakan ritual di Banyuwangi melibatkan seni pertunjukan, masyarakat Kemiren juga menyelenggarakan tradisi lain seperti makan bersama dan doa bersama sebagai bagian dari perayaan.

Gambar: https://id.pinterest.com/pin/1124351863196318736/ 

Ritual atau upacara adat dianggap sebagai ekspresi kolektif masyarakat, yang diekspresikan melalui gerakan, suara, dan tampilan estetis-koreografis. Pelaksanaan ritual melibatkan berbagai unsur, termasuk slametan dan tradisi yang telah diakui oleh seluruh warga. Hal ini juga diimbangi dengan berbagai bentuk seni pertunjukan. Ritual Ider Bumi adalah prosesi yang dilakukan secara arak-arakan. Ritual ini juga dapat dianggap sebagai bentuk festival karena merupakan pesta budaya masyarakat yang terkait dengan situs keagamaan. Festival ini mencerminkan hubungan yang erat antara agama dan budaya yang menunjukkan pluralitas ekspresi seni budaya dan karakteristik lokal masyarakatnya.

Sumber yang menjelaskan tentang asal-usul ritual Ider Bumi ini tidak banyak didapat bahwa peristiwa budaya ini sudah diyakini oleh seluruh warga desa, dan penyebarannya melalui lisan. Sumber tertulis yang didapat menjelaskan bahwa kira-kira sekitar tahun 1800-an, rakyat Desa Kemiren terserang pageblug (bahasa Kemirennya adalah blindeng). Apabila ada orang yang pagi sakit sorenya mati, demikian juga apabila ada yang sakit sore dan paginya mati. Wabah tersebut tidak hanya menyerang manusia, tetapi semua tanaman di sawah juga diserang hama, sehingga masyarakat menjadi sangat ketakutan dengan adanya kejadian tersebut. 

Pada malam hari masyarakat tidur berkelompok-kelompok dan tidak ada yang berani tidur sendiri di rumahnya. Akhirnya ada beberapa sesepuh Desa Kemiren melakukan ziarah ke makam Buyut Cili guna mendapatkan pertolongan dan petunjuk bagaimana caranya memberantas pagebluk tersebut. Selang beberapa hari mereka mendapatkan wangsit lewat mimpi bahwa masyarakat Desa Kemiren diharuskan untuk mengadakan upacara slametan dan arak-arakan yang melintasi jalan desa. 

Upacara Ider Bumi dilaksanakan oleh seluruh warga Desa Kemiren, dari anak-anak sampai orang tua. Masyarakat ada yang terlibat secara langsung dalam prosesi dan ada juga sebagai peserta yang ikut meramaikan pelaksanaan upacara. Keterlibatan anak-anak tidak hanya sebagai penggembira untuk ikut meramaikan jalannya upacara, tetapi secara tidak langsung anak-anak terlibat dalam ritual ini yaitu pada saat penaburan sesaji. Pada waktu itulah muncul interaksi antara yang tua, muda, dan anak-anak.

Keterlibatan warga dimulai dari persiapan upacara, diawali dari penetapan panitia penyelenggara, pemasangan umbul-umbul, spanduk dan hiasan-hiasan lainnya. Keterlibatan masyarakat juga diimplementasikan dalam kegiatan gotong royong membuat tempat upacara dan panggung musik tradisi. 

Ritual Ider Bumi dilakukan setiap setahun sekali, tepatnya pada hari raya Idul Fitri kedua. Dalam hal ini terjadi penggabungan antara Islam dan pra Islam. Hari raya Idul Fitri merupakan hari yang disakralkan oleh umat Islam. Pada saat itulah yang diyakini menjadi hari kemenangan atau hari yang suci karena kembalinya umat manusia ke fitrahnya. Dalam pandangan masyarakat Using yang mayoritas memeluk agama Islam, saat itu merupakan hari yang tepat untuk menyelenggarakan ritual Ider Bumi. 

Sumber: Sulistyani. (2008). “Ritual Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi”. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 22(1), 28—38. https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/1537/652

 

Legenda Mirah Golan

Legenda Golan Mirah telah dikenal dan dipercaya sejak ratusan tahun silam, terutama bagi masyarakat di Desa Golan dan Desa Mirah, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo. Konon kedua desa tersebut tidak dapat menyatu. Hal ini dibuktikan adanya dua warna air sungai di antara kedua daerah itu. Legenda ini tentang kisah cinta terlarang antara dua anak manusia.

Sekitar tahun 1440-an atau awal Babad Ponorogo ada sebuah kisah yang melegenda di sana. Yakni, berawal dari anak Ki Ageng Honggolono yang bernama Joko Lancur ingin mengadu ayamnya. Namun, ayam wiring kuning itu kabur ke Desa Mirah (kini menjadi dusun di Desa Nambangrejo).
Saat itu Mirah Putri Ayu, anak Ki Ageng Honggojoyo atau dikenal dengan Ki Ageng Mirah, sedang sibuk menenun kain di rumahnya. Siapa sangka ayam Joko sampai rumah Mirah. Pencarian Joko pun terhenti dan terpesona dengan kecantikan Mirah. Ia berniat mempersunting Mirah. Namun, kecintaannya pada Mirah tidak berjalan mulus karena Ki Ageng Mirah tidak senang.
Agar bisa mempersunting Mirah, Joko harus mengairi seluruh sawah di Desa Mirah dan diberi waktu hanya semalam. Ternyata Ki Ageng Honggolono menyanggupinya. Malam itu, dia langsung membendung sungai Sekayu untuk mengairi seluruh sawah di Desa Mirah. Namun, apadaya Ki Ageng Honggojoyo tidak terima dan memberikan syarat lagi. Yakni, keluarga Joko harus membawa lumbung yang berisi kedelai dan sekaligus bisa terbang. Di situ Ki Ageng Honggolono merasa dipermainkan, dia pun mengganti isi lumbung itu dengan kawul (jerami) dan kedelai hanya terlihat di atas lumbung.
Keduanya sama-sama murka dan saling melontarkan sabda yang dipercaya masyarakat sampai sekarang. Ki Ageng Mirah menyampaikan bahwa masyarakat Desa Golan tidak bisa menyimpan kawul dan dapat dipastikan langsung terbakar. Ki Ageng Honggolono menyumpahi balik masyarakat Desa Mirah tidak bisa menanam kedelai. Mereka juga menyumpahi masyarakat dari Desa Golan dan Mirah tidak bisa menikahi satu sama lain.
Percaya tidak percaya, mitos ini masih dipegang teguh oleh masyarakat kedua desa ini, agar petaka tak menimpa. (Kris)

Ditulis oleh Kristi Muji Khasiati (Mahasiswa ) sebagai salah satu tugas PKL di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur