SEKILAS MENELISIK SEBARAN CERITA SRI TANJUNG

Sri Tanjung Menunggang Ikan, relief di Candi Surowono

Cerita Sri Tanjung terlanjur diambil alih oleh Banyuwangi, Jawa Timur, dan dikekalkan dalam kisah asal-usul Banyuwangi, tentu saja juga diabadikan sebagai nama sebuah kereta api ekonomi jurusan Yogyakarta—Banyuwangi. Padahal Sri Tanjung adalah khasanah klasik di Jawa, juga Bali, yang dalam alur dan latarnya, tak sedikit pun menyinggung Bumi Blambangan.

Keberadaannya terekam dalam berbagai warisan dan artefak, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, hingga relief candi. Yang paling rentan untuk berubah di antara tinggalan tersebut adalah yang berbentuk lisan. Dapat dibayangkan bagaimana perubahan yang terjadi, karena dalam tradisi manuskrip saja, perubahan itu juga terjadi.

Selama ini, sudah diketahui, ada perbedaan antara Sri Tanjung dalam tradisi pernaskahan Bali dengan Sri Tanjung dalam pernaskahan di Jawa atau Banyuwangi (dalam Aminoedin, 1982; Turaeni, 2004). Apalagi mengacu pada tradisi pernaskahan paling tua (Prijono, 1938). Adapun dalam dunia relief percandian juga terdapat perbedaan-perbedaan (Kieven, 2014).

Setidaknya ada empat candi di Jawa Timur yang mengabadikan cerita Sri Tanjung pada bangunan candi tinggalan zaman Kerajaan Majapahit. Kieven (2014) mencatat keberadaannya ada di Candi Penataran (Blitar), Candi Surowono (Kediri), Candi Jabung (Probolinggo), dan Candi Bajang Ratu (Mojokerto). Namun, dari keempatnya, Candi Surowono lebih lengkap dan lebih memiliki daya tawar sebagai sebuah kreativitas pada zamannya.

Selain Kieven, terdapat para ahli sastra dan purbakala lain yang membahas panel relief di Candi Surowono, di antaranya adalah Worsley (1986) dan Klokke (1995). Mereka berdua memiliki penafsiran berbeda, terutama terkait panel-panel relief yang dialami Sri Tanjung di alam sesudah mati dan jenis binatang tunggangan Sri Tanjung di alam kematian.

Memang, terdapat perbedaan di antara beberapa candi di Jawa Timur dan beberapa cerita yang dianggap lebih tua. Ada versi yang menyebut Sri Tanjung menunggang buaya. Adapun pada panel candi tertentu, semisal Candi Penataran dan Candi Surowono yang berhasil saya jepret, digambarkan Sri Tanjung menunggang ikan, bukan buaya.

Kieven (2014) tidak melakukan tafsir mengenai soalan itu. Ia hanya menyebutkan ikan merupakan bagian dari kisah Sri Tanjung versi lisan yang lebih tua atau versi tulis yang telah hilang dan menggantinya dengan buaya dalam versi yang lebih terkenal dan lebih baru (2014). (MA)

Sumber: https://www.facebook.com/mashuri.alhamdulillah/

Sumber gambar: Koleksi Mashuri Alhamdulillah

SENI BANTENGAN dari PASURUAN

Seni tradisi di Pasuruan masih hidup, di antaranya adalah jaran kepang, tayub, bantengan, wayang, dan lainnya. Kesenian “Bantengan” sampai saat ini masih dilestarikan di Desa Lumbang Rejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. diharapkan dapat diakui oleh Pemprov Jatim sebagai salah satu kesenian konservasi. Seni bantengan yang telah berkembang selama bertahun-tahun ini penuh dengan nilai kebudayaan yang tinggi, di samping selalu dirawat dan dipertahankan sebagai budaya khas masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan itu.

Korintus Mudjiyahya, atau biasa dipanggil Ki Bagong, Ketua Umum Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan mengatakan, kesenian banteng yang ada di Kecamatan Prigen memiliki daya tarik tersendiri, bila dibandingkan dengan seni-seni banteng yang ada di daerah lain. Daya tarik yang dimaksud adalah banyaknya alat musik tradisional, seperti gamelan, gendang, dan berbagai alat musik tradisional lainnya, yang dimainkan dalam kesenian tersebut.

Peralatan musik dalam Seni Bantengan

Pertunjukan kesenian bantengan diawali dengan pembacaan mantra-mantra untuk meminta kepada Tuhan YME agar pertunjukan pada hari itu berjalan lancar. Semua peralatan, seperti jaran kepang, barongan, dan cemeti diberi mantra agar tidak terjadi hal-hal di luar kendali. Setelah itu tampil penari jaran kepang yang dibawakan oleh empat orang pemuda. Bagi masyarakat Jawa Timur bagian timur (Surabaya, Malang, Pasuruan, Lumajang hingga Situbondo), tari Jaran Kepang merupakan kisah-kisah raja-raja kecil atau adipati yang saling berperang untuk meluaskan wilayahnya. Seperti kisah peperangan antara Turyanpadha (Turen, Malang) dengan Tuksari (Sumbersari, Malang) atau pemberontakan rakyat Malang, Surabaya, Lumajang dan Pasuruan dalam melawan Sultan Agung dari Mataram. Berdasarkan apa yang dapat kita lihat, tari Jaran Kepang di wilayah Malang, Lumajang dan Surabaya memang berasal dari rakyat jelata atau masyarakat kelas bawah.

Pembacaan mantra sebelum pertunjukan dimulai

Tarian jaran kepang berawal dari keinginan kaum jelata untuk memiliki kuda (dalam bahasa jawa disebut Turangga). Saat itu memang kuda adalah kendaraan yang cepat namun mahal dan hanya dimiliki oleh para adipati atau penguasa setempat. Hal ini tentu mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena keinginan yang begitu kuat itulah mereka membuat kuda kepang lalu ditungganggi dengan kaki mereka sebagaimana layaknya kuda. Alat musik dan pakaian yang sederhana semakin menunjukkan bahwa tarian Jaran Kepang di daerah ini berasal dari rakytat jelata. Memang tidak banyak sumber tertulis yang menunjukkan asal-usul tari ini. Kebanyakan hanya didapat dari cerita turun temurun yang sudah terdistorsi kanan dan kiri. Pengaruh kebudayaan baru juga membuat tarian Jaran Kepang ini menjadi tidak diminati masyarakat, terutama anak muda. Oleh karena iru, padepokan Gong Saraswati membina pemuda-pemuda di Kecamatan Prigen khususnya untuk berlatih jaran kepang dan kesenian khas Kabupaten Pasuruan lainnya.

Penampilan kesenian jaran kepang
Penampilan tari barongan
Akhir pertunjukan seni Bantengan

*Sumber: Laporan Kegiatan Visualisasi Kebinekaan Kebahasaan dan Kesastraan di Wilayah Kebudayaan Pandalungan, Pasuruan. 2016.

*Foto: Tim Visualisasi Kebinekaan Kebahasaan dan Kesastraan di Wilayah Kebudayaan Pandalungan, Pasuruan. 2016.

Buto-Butoan Jelbuk

Penduduk Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Jember, rata-rata pendatang dari Madura. Sudah dari ‘sono’-nya orang Madura terkenal religius. Tak heran, menjelang kehadiran bulan Ramadan, di desa Jelbuk digelar seni tradisi unik yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat lain, yaitu Buto-butoan. Secara harafiah, seni ini mengacu pada bentuk boneka-bonekaan yang melambangkan sosok tertentu, yang dipadu dengan kesenian lokal Jawa dan Madura.

Tidak diketahui sejak kapan kesenian ini hadir di kalangan masyarakat Jelbuk. Yang jelas hingga kini kesenian ini masih tetap eksis dan menjadi ritual tahunan. Apalagi ketika ditelisik lebih jauh, kehadiran kesenian ini tidak hanya melulu untuk menyambut bulan Ramadan. Namun juga pada acara hajatan, baik itu menikah, khitan, dan lainnya, kesenian ini dihadirkan sebagai sarana penghibur bagi masyarakat.

Seni ini merupakan modifikasi antara seni jaranan dan ondel-ondel dalam masyarakat Betawi. Bisa pula sejenis ‘ogoh-ogoh’ dalam tradisi masyarakat Bali. Uniknya, seni ini hanya bisa dijumpai di kalangan masyarakat Jember utara yang mayoritas peneduduknya beretnis Madura, yang kakek moyangnya merupakan imigran dari Madura dan bekerja sebagai buruh perkebunan. Dari sisi tradisi budayanya, mereka termasuk masyarakat santri.

Ihwal makna dari permainan ini memang banyak versi yang berkembang. Ada yang menjelaskan tentang simbol pengendalian nafsu sebagaimana sudah diutarakan karena mengingat simbol ondel-ondel yang dianggap ‘buto’ dan harus ditundukkan. Ada yang menafsirkan sebagai ungkapansuka cita dan bahagia. Tak heran, pada saat pertunjukkan warga terlibat menari, sambal berdendang dan menabuh tetabuan dengan riang. Yang merupakan perwujudan dari rasa suka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Kiranya, seiring dengan laju globalisasi, seni jenis Buto-butoan ini sangat layak untuk dijaga tetap lestari. (MA)

*Sumber: LIBAS Edisi Juli–September 2016

SENI TRADISI KHAS SUKOREJO

Tim visualisasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tiba di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Tuban, menjelang magrib. Namun, sinar matahari masih seperkasa mata Joko Tarub ketika mengintip Nawangwulan mandi di sendang Widodaren.

Lekuk jalan menuju desa yang berjarak sejauh 60 km lebih masih menunjukkan keseksiannya. Jalan menuju dusun itu sangat khas kawasan pegunungan Kendeng Utara. Keras, berkelok, sesekali jeglong, dan sempit. Panoramanya khas. Kadang dihimpit tebing batu kapur. Kadang lapang  di antara pesawahan. Apalagi sepanjang jalan, rimbun jati tumbuh di punggung bukit. Tampak dominan jati kanak-kanak dan remaja karena yang sudah sepuh telah bermetamorfosis menjadi kursi, tiang, hingga buah-buahan palsu yang menghiasi meja.

Kayu, apapun itu, menjadi sokoguru di kawasan Sukorejo. Ia tidak hanya menjadi sokoguru dalam arti harfiahnya sebagai tiang bangunan atau rumah, tapi juga sebagai penopang sebuah tradisi yang berusia ratusan tahun. Di dusun yang terpencil tersebut, kami disuguhi realitas dan degup hidup seni tradisi yang menggunakan kayu sebagai media ekspresi, yaitu wayang krucil dan wayang tengul (golek). Keduanya terbuat dari kayu.

Kedua wayang tersebut memang tidak hanya di Sukorejo, tapi bagi pemerhati wayang, hanya di Sukorejo dapat ditemukan ‘orisinalitas’ dan kekhasan khas. Wayang krucilnya memiliki iringan musik yang berbeda dengan krucil lainnya, yang disebut lekthung, dan dianggap memiliki silsilah paling tua di Tuban. Wayang tengul-nya pun memiliki ciri khas yang tidak dapat ditemukan di wilayah lain yang hidup di punggung pegunungan Kendeng sisi berbeda, semisal Bojonegoro, karena bonekanya berkaki. Mungkin inilah satu-satunya wayang golek yang berkaki di Nusantara.

“Karena itu cara memainkannya juga butuh teknik khusus,” kata sang dalang.”Karena pakai kaki, menurut kakek saya, ini bisa untuk ruwatan, Begitu pula dengan wayang krucil. Bahkan untuk ruwatan di sini wayang krucil masih yang dipercaya dan menjadi pilihan masyarakat,” lanjut sang dalang.

Dalang Ali Rispan sedang memilih tokoh wayang yang akan dilakonkan dalam pertunjukan.

Yang menarik, kehidupan kesenian di Sukorejo tumbuh subur dan hablur dengan watak pedusunannya. Di sana, ada grup musik salawatan, pencak dor, dan seni tradisi lainnya. Kami melihat beragam seni, dan sebagian besar seni tradisi, hidup bersama masyarakatnya tanpa terjebak seremoni dan kehilangan fungsi hakikinya sebagai seni. (MA)

*Sumber: Libas Edisi Juli 2017 *Foto: Tim Visualisasi Tuban (NN)

Tradisi Sanggring Desa Tlemang

Setiap tahun warga Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, menggelar tradisi Sanggring. Tradisi ini pertama kali digagas Ki Buyut Terik, sesepuh setempat, dan sudah bertahan sejak ratusan tahun silam  yang kala itu dimaksudkan sebagai jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi. Ada beberapa keunikan dalam tradisi ini, termasuk pentas seni tradisi wayang krucil.

Dari gelar tradisi tersebut,yang paling utama adalah memasak makanan secara massal. Beberapa hal sudah berubah, tetapi masih ada yang tidak boleh diubah. Dulu, jumlah makanannya ditentukan sejumlah 44 piring. Sekarang, jumlahnya disesuaikan dengan jumlah warga desa. Satu hal yang tidak boleh berubah; koki yang memasak makanan harus kaum Adam. Tidak ada syarat khusus untuk kokinya. Hanya jumlahnya yang sebanyak empat puluh laki-laki. Selain itu, hasil masakan pantang dicicipi lebih dulu.

Makanan Sanggring berupa masakan yang berbahan dasar ayam. Ayam-ayam tersebut sumbangan dari warga, begitu juga bumbu lengkap dan kayu bakarnya. Tidak ada ketentuan harus ayam jantan atau betina, termasuk warna ayam, meskipun beberapa tahun silam memang harus berwarna hitam. Tradisi Sanggring selalu dilaksanakan setiap 27 Jumadilawal tiap tahun.

Dalam tradisi Sanggring, masyarakat Desa Tlemang disuguhi seni tradisi berupa wayang krucil dengan menampilkan empat orang sinden. Wayang yang terbuat dari kayu itu telah menjadi satu sajian dalam tradisi Sanggring dengan dalang yang berasal dari Desa Tlemang. Karena dalam tradisi Sanggring wayang kulit tidak boleh dipentaskan, pertunjukan wayangnya harus wayang krucil. Setelah prosesi Sanggring tuntas, kepala desa, tokoh masyarakat dan penduduk Desa Tlemang membawa berbagai macam makanan kiriman dari warga ke punden atau makam Ki Buyut Terik untuk dimakan bersama-sama. (MA)

*Libas Edisi April 2019

CERITA PANJI DAN TARI KETHEK OGLENG

Kethek Ogleng adalah sebuah tarian khas Pacitan yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri, yang biasa disebut dengan Cerita Panji.Tarian ini telah ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan selama bertahun-tahun. Biasanya tarian ini dipentaskan pada saat masyarakat setempat menyelenggarakan hajatan.

Diceritakan bahwa Raja Jenggala mempunyai seorang puteri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putera bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.

Namun, Raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.

Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Dalam perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe.

Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe tidak mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari. Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke Kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan. (MA)

*Libas Edisi Oktober 2019

Selawat Gembrungan

Selain Reog Ponorogo, terdapat seni tradisi Ponorogo yaitu Selawat Gembrungan. Seni tradisi yang berlabel Islam santri ini dinamakan Selawat Gembrungan karena instrumen utamanya hanya terdiri atas kendang dan gembrung.

Gembrung adalah kendang besar yang pada satu sisinya dipasang kulit untuk ditabuh, sedangkan pada sisi lainnya dibiarkan berlubang dan terbuka kira-kira sebesar 1/5-nya. Dalam perkembangan, musiknya ditambah dengan alunan ketipung dan kencreng untuk melengkapi komposisi suara musik gembrungan. Hingga kini, belum ada yang dapat memastikan awal kemunculannya. Bisa diduga bahwa seni baca selawat bersama-sama itu sudah ada pada masa zaman kewalian sekitar abad ke-14 hingga ke-15.

Para anggota Selawat Gembrungan tidak hanya harus kuat dalam olah suara, tetapi juga harus punya daya tahan tubuh yang kuat karena acara biasanya dimulai pukul 21.00—03.00 dini hari. Pada awalnya, Selawat Gembrungan hanya diadakan pada saat perayaan Maulud Nabi, tiap tanggal 12 Rabiul Awal, tetapi kemudian berkembang dan dilantunkan untuk misi lain.

Terlepas dari misi kegamaan, seni ini juga karib dengan kehidupan masyarakat terkait dengan daur hidup atau siklus peralihan. Selawat Gembrungan biasanya diselenggarakan berdasarkan beberapa momen penting kehidupan anak manusia, misalnya saat peringatan kelahiran bayi atau saat bayi berumur 7 bulan (peringatan 7 bulanan atau mitoni).

Perjalanan seni ini memang timbul dan tenggelam seiring dengan perkembangan zaman. Pada tahun 1970-an, seni ini diduga sudah mulai jarang ditampilkan mungkin karena sudah mulai banyak pilihan lain, seperti seni samroh atau hadrah yang lebih modern.  Hingga pascareformasi, seni gembrungan baru terdengar lagi dan akhirnya ada yang merevitalisasi dan melestarikannya. Pada zaman kejayaan seni gembrungan, setiap orang yang mempunyai anak berusia 7 bulan akan menyelenggarakan pertunjukan seni gembrungan dan pelaku seninya tidak memungut biaya sepeser pun dari si tuan rumah. Tuan rumah hanya berkewajiban menyediakan tempat dan menyajikan makanan sesuai dengan kemampuan. Biasanya, yang menjadi pelaku seni gembrungan adalah kaum laki-laki dewasa.

Seni ini tidak hanya tersebar di Ponorogo, tetapi juga di bekas Kerajaan Wengker, yang dalam masa kolonial di bawah administrasi Karesidenan Madiun dan sekitarnya, termasuk Ponorogo, Madiun, Magetan, Trenggalek, Pacitan, dan Ngawi. Namun, di Ponorogo seni gembrungan berkembang dan populer di desa-desa yang berbeda dengan selawatan yang serupa dengan yang ada di kawasan subkultur Mataraman. Kita bisa mengamati syair-syair atau tembang selawat yang berbeda dengan kawasan sekitarnya dengan etnopuitika khas, yang mengarah pada mantra dengan paduan antara selawatan (Arab) dan siir-siir Jawa dengan bentuk-bentuk pengucapan yang tidak hanya mengarah pada nasehat semata, tetapi dalam bentuk sastra yang unik. Salah satu contohnya adalah larik-larik dalam “Bawanan Shalarabbuna” yang berbeda dengan selawat serupa pada umumnya.

Beberapa grup selawat berdiri dengan mengambil nama berdasarkan judul syair selawatan yang populer, semisal Bawanan Shalarabbuna, Khataman Nabi, atau nama tokoh populer di Ponorogo sendiri, yaitu Ki Ageng Muhammad Besari. Dari data sementara, Selawat Gembrungan di Ponorogo terdapat kurang lebih 40 grup dan tersebar di beberapa desa. (MA)

*Libas 2019

* Foto: Koleksi Tim Visualisasi Kebahasaan dan Kesastraan BBJT Tahun 2015

Sisi Lain Tembang Sigra Milir

“Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”.

Demikianlah bunyi tembang macapat bermetrum Megatruh yang berkisah tentang Jaka Tingkir naik rakit di sebuah sungai. Ada yang menyebut sungai itu sebagai Kedung Srengege. Ada pula yang menyebutnya Bengawan Solo. Ia dikawal 40 buaya putih, di depan, di belakang, di samping kanan dan samping kiri. Rakitnya pun bergerak perlahan-lahan.

Tembang itu bagi kanak-kanak Jawa tempo doeloe akrab di telinga. Ia dianggap sebagai puisi lisan Jawa karena sering didendangkan. Tembang itu bernama Sigra Milir.

Sigra Milir disebut sebagai puisi lisan itu wajar, karena tembang itu lebih dikenal versi lisannya, baik dalam tradisi mocopatan, seni ketoprak, bersenandung, dan lainnya. Meski demikian, asal-muasalnya dari versi tulis. Versi tulisnya tersebar pada beberapa babad. Salah satunya adalah Babad Mentaram, yang ditemukan almarhum Suripan Sadi Hutomo (1998) di Mojokerto dalam metrum macapat dan digurat dengan abjad Arab Pegon. Dimungkinkan naskah babonnya ditulis dalam aksara Jawa. Babad lainnya adalah Babad Demak, yang di dalamnya juga ada kisah Jaka Tingkir.

Menurut Hutomo (1998), pada saat ia kecil, banyak anak-anak desa di Jawa yang hapal tembang itu, terutama bagi anak-anak gembala. Ternyata itu tidak hanya berlaku di Jawa Tengah, tepatnya Blora, asal Hutomo. Di Jawa Timur, banyak anak-anak yang juga menembangkannya.

Di Lamongan, realitas kulturalnya agak berbeda. Di kawasan pedalaman, terutama Lamongan selatan, dulu tembang itu pun kondang. Banyak kanak-kanak yang mendendangkannya. Pasalnya, Jaka Tingkir adalah hero lokal dan idola masyarakat. Ia sakti mandraguna, ahli politik, dan berujung sebagai raja Jawa pasca-Kerajaan Demak.

Namun, di kawasan Lamongan yang menjadi lintasan Bengawan Solo –dengan beberapa anak sungainya, salah satu di antaranya bernama Bengawan Jero, yang menjadi urat nadi kehidupan mereka, menembangkan Sigra Milir adalah pantangan. Hal itu berlaku sejak dulu. Diyakini, tembang itu merupakan alat komunikasi super canggih pada sekawanan buaya di kawasan perairan Bengawan Solo.

“Bila sedang menyeberang Bengawan Solo, memang dipantangkan nembang Sigra Milir,. Diyakini tembang itu adalah sarana pengundang buaya putih, yang berdiam di Bengawan,” tutur Drs Achmad Hambali, budayawan Lamongan. “Sejak dulu ada keyakinan begitu. Pernah ada yang lupa dengan itu, pada tahun 1990an, dan berakhir kurang baik” lanjutnya. (MA)

Dibalik Tradisi Ceprotan

Tradisi Ceprotan, yaitu lempar-melempar cengkir sebanyak-banyaknya di Desa Sekar, Pacitan. Tradisi ini digelar setiap bulan Longkang (Dzulhijjah), hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon. Terdapat kisah lisan yang unik di balik tradisi tersebut. Ada yang mengaitkannya dengan cerita Panji, yaitu Dewi Sekartaji, ada pula yang tidak. Berikut ini adalah kisah yang terkait dengan cerita Panji.

Pada jaman dahulu, di utara laut selatan, kurang lebih lima belas kilo meter, terdapat hutan belantara. Di hutan tersebut tidak ada manusia yang berani menempati. Tanpa disangka-sangka ada seorang sakti yang bernama Ki Godhek. Ki godhek , menurut kabar memiliki wajah yang tampan, masih muda, juga sebagai keturunan raja Brawijaya dari kerajaan Majapahit, yang berani membabat hutan belantara itu. Ki Godhek akhirnya berhasil membabat hutan dan dapat ditempati.

Ketika sedang membabat hutan, Ki Godhek menjumpai seorang perempuan cantik, bernama Dewi Sekartaji. Perempuan tadi didekati dan ditanyainya, ternyata perempuan tersebut sedang kehausan. Mengetahui perempuan tersebut sedang kehausan, Ki Godhek mengeluarkan kesaktiannya yaitu mendatangkan kelapa muda yang masih segar. Kelapa muda tersebut kemudian diberikan kepada Dewi Sekartaji dan langsung diminum.

Merasa ditantang kesaktiannya, Dewi Sekartaji juga mengeluarkan kesaktiannya. Sisa air kelapa muda yang sudah diminum tadi, dituang ke tanah. Seketika tanah yang basah terkena air kelapa muda mengeluarkan mata air yang besar. Tempat pertemuan Ki Godhek dengan Dewi Sekartaji tadi saat ini diberi nama dukuh Sekar.

Setelah dukuh Sekar dibuka, banyak calon murid yang bermaksud berguru di sana. Mengetahui hal itu, Ki Godhek membuat syarat untuk calon muridnya. Syarat tersebut yaitu, calon murid diminta membawa sesaji. Maksudnya, sesaji tadi akan digunakan untuk selamatan.

Setelah anak-anak calon muridnya berkumpul, selamatan dimulai. Di tengah selamatan, ada dua anak yang berebut ayam panggang. Perebutan tersebut baru berhenti setelah Ki Godhek menengahi. Ki Godhek mengadakan sayembara, siapa saja yang bersedia membawa ayam panggang namun dilempari kelapa muda, maka ia berhak atas ayam panggang tadi. Oleh karena itu, sampai saat ini, setiap hari Senin Kliwon dan Minggu Kliwon, bulan Longkang diadakan selamatan untuk membersihkan desa dengan tradisi Ceprotan. Biasanya dengan saling melempar cengkir sebanyak-banyaknya. (MA)

*Libas edisi Juli 2019

Nasib Seni Tradisi Agutta

Agutta merupakan permainan khas imigran dari Madura yang bermukim di subkultur Pandalungan, terutama di wilayah bekas Karesidenan Besuki. Permainan ini sangat unik dan bernuansa tradisi lisan, meski kini sudah sangat jarang ditemui. Bahkan, ada yang mengatakan sudah punah. Dari permainan ini dapat diketahui bahwa nenek moyang kita itu demikian karib dengan alam. Mereka memiliki cara tersendiri sekedar istirah dari keseharian dan semakin memperkokoh ikatan sosial.

Pada tahun 1983, tim inventarisasi permainan rakyat Jawa Timur masih dapat menemukannya di Desa Badean, Bondowoso. Karena sudah 37 tahun, keberadaannya kini sulit dilacak. Zaman sudah berganti. Banyak generasi kini melupakannya sebagai permainan jadul dan ditelan zaman. Untunglah, ada pihak yang masih peduli dan melakukan semacam revitalisasi, meskipun kurang kontinu.

Agutta berasal dari bahasa Madura yang berarti kesibukan gerak dan keriuhan. Permainan dilakukan dengan alat penumbuk padi dilakukan para petani sebagai intermesso dari kerja kesehariannya, juga sebagai ritual menyambut datangnya gerhana rembulan. Awalnya, permainan ini berasal, dari kegiatan para pekerja penumbuk padi. Mereka ibu-ibu yang sudah separuh umur atau lebih, yang berfisik kuat.

Alat permainan yang terpenting adalah “ronjangan” atau sejenis dengan lesung. Terbuat dari batang kayu yang keras. Alat penumbuknya berupa kayu setinggi sekitar dua meter atau lebih sedikit dengan garis tengah tujuh cm. Pada bagian yang harus dipegang dibuat agak mengecil sehingga jari-jari tangan cukup untuk melingkarinya. Bahan penumbuk ini pun dari kayu sejenis. Alat penumbuk itu yang disebut “gentong” atau antan. Biasanya tersedia lebih dari lima batang karena adakalanya untuk jenis-jenis lagu tertentu, ada satu pemain yang sekaligus memainkan dua “gentong” itu.

Di sebelah kanan dan kiri “ronjangan” diletakkan masing-masing sebongkah batu. Batu ini akan dipukul-pukul dengan ujung lain dari gentong yang dipegang oleh pemain-pemainnya dan menghasilkan suatu irama musikal tertentu. Bersama dengan pukulan-pukulan pada ronjangan, pukulan di batu akan menghasilkan suatu ensamble yang rancak.

Pemainnya terdiri atas sekitar lima orang wanita yang masing-masing mempunyai tugas tertentu dalam memainkan “gentong”-nya pada “ronjangan”. Mereka juga menyanyi bersama atau kadangkala ada seorang yang khusus sebagai penyanyi tunggal. Namun, yang seorang ini pun kadang-kadang sambil memegang memainkan “gentong”-nya. Adapun orang yang harus memulai suatu permainan, tidaklah tetap, tergantung pada jenis lagu yang akan dibawakan.

Apabila sebuah lagu sudah diulang-ulang dan dianggap sudah cukup dinikmati, seseorang yang dianggap paling berpengaruh di antara mereka akan merubah pola pukulannya sedemikian rupa sehingga yang lain-lain merasakan bahwa tanda itu merupakan ajakan untuk menghentikan permainan atau mengubahnya dengan jenis lagu yang lain. Beberapa lagu rakyat Madura yang dibawakan merupakan lagu-lagu tradisional seperti Walang Kekek, Orkesan, Fajjar Laggu, Lir Saalir, Man Jauma, Cung-cung Kuncung Konce dan sebagainya. Hanya saja, karena alat-alat penumbuk padi semakin modern dan serba mesin, dan “ronjangan” semakin langka, lama-kelamaan permainan Agutta berangsur hilang dari peredaran. Begitu pula dengan gerhana rembulan, kini tak lagi sakral karena pandangan orang telah jauh berubah. Orang semakin tahu bahwa ilmu pengetahuan telah menjawab sebab-sebab gerhana rembulan, dan bukan lagi ulah raksasa yang rakus menelannya. Dulu, bila ada gerhana rembulan, bulu kuduk orang-orang berdiri dan bersama-sama merapal doa suci. Kini, orang-orang tertawa-tawa dan sibuk selfi. (MA)