OBITUARI: HASAN SENTOT

Puisi Using tersebut karya almarhum Mas Hansen atau Mas Hasan Sentot, yang memiliki nama pena Sentot Parijata, yang berpulang ke haribaan Sang Khalik, Minggu 4 Juli 2021, di RSUD Genteng Banyuwangi. Gurit tersebut termuat dalam buku kumpulan puisi Using tunggal karyanya, berjudul “Ngeronce Welas”, halaman 9, yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur, pada pertengahan tahun 2019. Tersirat, puisi berbahasa daerah itu menyimpan sebuah pesan rahasia. Adapun secara gamblang, puisi itu menerangkan tujuan hidup penulisnya, sebagaimana dalam dua baris terakhir, yang artinya: “memuliakan orang tua dan keluarga, semoga besok diganjar surga”.

Hasan Sentot juga menjadi dosen luar biasa dalam jurnalistik di sebuah universitas. Alasannya ingin menyenangkan anak-anak. Mereka bahagia bila mereka mengaku pada kawan-kawannya bahwa ayahnya bekerja sebagai dosen. Hansen lahir di Banyuwangi, 27 Agustus 1965, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono. Beliau juga aktif sebagai pengurus Lesbumi Jawa Timur, tahun 2013—2018 di bagian humas, karena berlatar belakang jurnalistik. Hansen memulai kariernya sebagai wartawan Karya Dharma dan memuncak sebagai salah satu ‘orang penting’ di SCTV untuk wilayah liputan di Jawa Timur.

Hasan Sentot sangat aktif di acara-acara kebudayaan, seperti acara Festival Seni Sastra Pesantren di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Drajat Paciran Lamongan, yang diasuh KH Abdul Ghofur. Juga memperjalankan buku puisi “Tasbih Hijau Bumi” ke beberapa pesantren, madrasah dan sanggar seni-sastra di wilayah Jombang, Mojokerto, dan Kediri, termasuk di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Pondok Pesantren Darul Falah Mojokerto. Manajer JX Surabaya ini memang tidak sepenuhnya meninggalkan sastra, meskipun lama berkarier di jurnalistik, kemudian menjadi seorang karyawan perusahaan. Dia sangat tertarik dengan hal-ihwal sastra daerah, terutama dalam hal tradisi lisan dan filologi di daerah kelahirannya Banyuwangi dan dalam dunia santri di Jawa Timur.

Ngeronce Welas, 2019

Adapun soal puisi Using, dia memang dikenal menulisnya sudah lama dan memiliki jaringan dengan penyair dan seniman Using. Pada pertengahan tahun 2018, dia diminta bantuannya untuk menghimpun puisi para penyair Using untuk diterbitkan dalam sebuah antologi, sesuai dengan program kerja Balai Bahasa Jawa Timur pada tahun 2019. Namun, sampai tenggat waktu, ternyata belum terhimpun juga. Akhirnya, kumpulan puisi Using “Ngeronce Welas” yang terdiri atas 50-an puisinya pun terbit, meskipun dalam eksemplar yang terbatas, sekitar pertengahan tahun 2019.

Hasan Sentot juga sedang tertarik dengan riset tentang tradisi lisan Using berupa nyanyian rakyat seputar tahun 1955–1965. Dia mengaku punya beberapa narasumber yang masih hidup. Menurutnya, bentuk dan isi tembangnya sangat menarik. Ini adalah keahliannya karena skripsi S1-nya di Jurusan Sastra indonesia, Fakultas Sastra (kini FIB), Universitas Jember termasuk ‘berani’ dan menarik karena berbicara tentang tembang-tembang Using tahun 1965—1975, dari tinjauan semiotik. Apalagi karya itu digarap pada saat Orde Baru sedang berkibar pada tahun 1990-an. Bahkan, karena saking menariknya skripsi itu, hingga ‘paus’ sastra Jawa, almarhum Prof. Suripan Sadi Hutomo, kepincut dengan temuannya dan merekomendasikannya untuk menyajikan karya ilmiahnya dalam sebuah paparan seminar tradisi lisan di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta pada tahun 1993. (MA)

D. Zawawi Imron

Penyair Madura ini terkenal sebagai penyair yang mencintai budaya leluhur-nya dan masih tetap tinggal di Madura sampai saat ini.  D. Zawawi Imron dilahirkan di Batang-Batang Laok, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 20 kilometer dari Kabupaten Sumenep atau di ujung timur Pulau Madura. Seperti kebiasaan masyarakat desa yang menandai kurun waktu dengan peristiwa-peristiwa besar seperti gunung meletus, banjir, dan sebagainya, Zawawi tidak tahu persis kapan hari, tanggal, dan tahun kelahiran-nya. Menurut pengakuannya dan berdasarkan perkiraan, ia dilahir-kan sekitar tahun 1946, bersuku Madura dan beragama Islam.

Sebagai putra Madura asli, pendidikan Zawawi diwarnai nafas keislaman. Setelah tamat Sekolah Rakyat, Zawawi melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Salafiyah selama 18 bulan. Selanjutnya, sebagai seorang otodidak dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar dan pondok pesantren, ia berhasil mengikuti ujian persamaan pendidikan guru agama.

Sejak 1967—1983 Zawawi Imron bekerja sebagai guru agama sekolah dasar; tahun 1983—1985 menjadi guru agama sekolah menengah pertama, dan sejak 1985—1993 menjabat Kasubsi Penerangan Agama di Kantor Departemen Agama Kabupaten Sumenep.

Zawawi Imron berbeda dengan penyair-penyair lain yang umumnya tinggal di kota. Sampai saat ini, ia tetap tinggal di Batang-Batang. Menurut Zawawi, tinggal di desa justru mendukung kreativitasnya dalam bersastra. Zawawi mulai menulis sejak 1960 dan baru tahun 1973 ia mengirim sajak-sajaknya ke Minggu Bhirawa, Surabaya.

Beberapa prestasi yang diperoleh Zawawi Imron antara lain hadiah dalam sayembara nasional menulis puisi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Sahabat Pena Indonesia tahun 1979; hadiah dari Depdikbud dalam lomba menga-rang buku bacaan SD tahun 1981; tahun 1985 buku kumpulan puisinya Nenek Moyangku Air Mata mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama; dan, tahun 1990 kumpulan puisi Nenek Moyangku Air Mata dan Celurit Emas (1986) mendapat hadiah dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) sebagai puisi terbaik.

Penyair ini kali pertama menginjakkan kakinya di Jakarta tahun 1979 karena mendapat undangan menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara II (PSN).  Zawawi Imron sering diundang untuk membacakan puisi atau menjadi pembicara dalam seminar tentang budaya Madura. Tahun 1982, ia hadir dalam acara “Temu Penyair 10 Kota” di TIM Jakarta. Tahun 2005, Zawawi diundang Balai Bahasa Surabaya (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur) sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa Madura.

Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Semerbak Mayang (1977), kemudian disusul kumpulan Madura Akulah Lautmu (1978). Masih ada kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996). Kumpulan sajak-nya, Bulan Tertusuk Lalang (1982), mengilhami sutradara Garin Nugroho dalam pembuatan film berjudul “Bulan Tertusuk Ilalang”. Masih ada kumpulan sajaknya yang lain, seperti Derap-Derap Tasbih (1993), kemudian sajak hasil pengembaraannya ke Sulawesi Selatan yang terkumpul dalam Berlayar di Pamor Badik (1994). Tahun 1996 terbit kumpulan sajaknya Laut-Mu Tak Habis Gelombang. Sajaknya “Dialog Bukit Kemboja” keluar sebagai pemenang pertama Lomba Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan AN-Teve. Sajak-sajak Zawawi Imron sebagian sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria.

Selain sajak, karya sastra Zawawi Imron berupa cerita rakyat dan cerita anak. Cerita rakyat yang telah diterbitkan antara lain Campaka (1979), Ni Peri Tunjung Wulan (1980), Bangsacara-Ragapadmi (1980), dan Raden Sagoro (1984). Karya cerita anak yang sudah diterbitkan berjudul Melihat Kerapan Sapi di Pulau Madura (1988). Kumpulan puisi terbarunya berjudul Madura Akulah Darahmu (2005) merupakan kumpulan puisi-puisi pilihan karya Zawawi sejak 1976.

* Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

D. Zawawi Imron

Penyair Madura ini terkenal sebagai penyair yang mencintai budaya leluhurnya dan masih tetap tinggal di Madura sampai saat ini.  D. Zawawi Imron dilahirkan di Batang-Batang Laok, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 20 kilometer dari Kabupaten Sumenep atau di ujung timur Pulau Madura. Seperti kebiasaan masyarakat desa yang menandai kurun waktu dengan peristiwa-peristiwa besar seperti gunung meletus, banjir, dan sebagainya, Zawawi tidak tahu persis kapan hari, tanggal, dan tahun kelahirannya. Menurut pengakuannya dan berdasarkan perkiraan, ia dilahirkan sekitar tahun 1946, bersuku Madura dan beragama Islam.

Sebagai putra Madura asli, pendidikan Zawawi diwarnai nafas keislaman. Setelah tamat Sekolah Rakyat, Zawawi melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Salafiyah selama 18 bulan. Selanjutnya, sebagai seorang otodidak dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar dan pondok pesantren, ia berhasil mengikuti ujian persa-maan pendidikan guru agama.

Sejak 1967—1983 Zawawi Imron bekerja sebagai guru agama sekolah dasar; tahun 1983—1985 menjadi guru agama sekolah menengah pertama, dan sejak 1985—1993 menjabat Kasubsi Penerangan Agama di Kantor Departemen Agama Kabupaten Sumenep.

Zawawi Imron berbeda dengan penyair-penyair lain yang umumnya tinggal di kota. Sampai saat ini, ia tetap tinggal di Batang-Batang dan menurut Zawawi tinggal di desa justru mendukung kreativitasnya dalam bersastra. Zawawi mulai menulis sejak 1960 dan baru tahun 1973 ia mengirim sajak-sajaknya ke Minggu Bhirawa, Surabaya.

Beberapa prestasi yang diperoleh Zawawi Imron antara lain hadiah dalam sayembara nasional menulis puisi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Sahabat Pena Indonesia tahun 1979; hadiah dari Depdikbud dalam lomba menga-rang buku bacaan SD tahun 1981; tahun 1985 buku kumpulan puisinya Nenek Moyangku Air Mata mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama; dan, tahun 1990 kumpulan puisi Nenek Moyangku Air Mata dan Celurit Emas (1986) mendapat hadiah dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) sebagai puisi terbaik.

Penyair ini kali pertama menginjakkan kakinya di Jakarta tahun 1979 karena mendapat undangan menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara II (PSN).  Zawawi Imron sering diundang untuk membacakan puisi atau menjadi pembicara dalam seminar tentang budaya Madura. Tahun 1982, ia hadir dalam acara “Temu Penyair 10 Kota” di TIM Jakarta. Tahun 2005, Zawawi diundang Balai Bahasa Surabaya (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur) sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa Madura.

Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Semerbak Mayang (1977), kemudian disusul kumpulan Madura Akulah Lautmu (1978). Masih ada kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996). Kumpulan sajaknya, Bulan Tertusuk Lalang (1982), mengilhami sutradara Garin Nugroho dalam pembuatan film berjudul “Bulan Tertusuk Ilalang”. Masih ada kumpulan sajaknya yang lain, seperti Derap-Derap Tasbih (1993), kemudian sajak hasil pengembaraannya ke Sulawesi Selatan yang terkumpul dalam Berlayar di Pamor Badik (1994). Tahun 1996 terbit kumpulan sajaknya Laut-Mu Tak Habis Gelombang. Sajaknya “Dialog Bukit Kemboja” keluar sebagai pemenang pertama Lomba Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan AN-Teve. Sajak-sajak Zawawi Imron sebagian sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria.

Selain sajak, karya sastra Zawawi Imron berupa cerita rakyat dan cerita anak. Cerita rakyat yang telah diterbitkan antara lain Campaka (1979), Ni Peri Tunjung Wulan (1980), Bangsacara-Ragapadmi (1980), dan Raden Sagoro (1984). Karya cerita anak yang sudah diterbitkan berjudul Melihat Kerapan Sapi di Pulau Madura (1988). Kumpulan puisi terbarunya berjudul Madura Akulah Darahmu (2005) merupakan kumpulan puisi-puisi pilihan karya Zawawi sejak 1976.

* Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

* Sumber Foto: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:D._Zawawi_Imron.jpg&filetimestamp=20120710101740&

M. Dradjid

H.M. Dradjid, B.A, bagi masyarakat Madura, khususnya masyarakat Pamekasan, nama tersebut sudah tidak asing lagi didengar. Ia merupakan salah satu sesepuh Madura yang sangat getol dalam menjaga, melestarikan, mengembangkan, serta membina bahasa Madura. Pensiunan guru SMPN 1 Pamekasan ini lahir di Kabupaten Pamekasan, 6 Januari 1940. Diusianya yang sudah tidak lagi muda, ia masih aktif di berbagai kegiatan. Selain menjadi pengajar di Universitas Madura dan kerap menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bahasa Madura, ia juga turut andil dalam pendirian Yayasan Pakem Maddhu, sebuah yayasan dengan semangat yang menggelora dalam menjaga dan mengawal perkembangan bahasa, sastra, dan budaya Madura.

Boleh dikatakan, segudang kegiatan sudah pernah digeluti oleh kakek dari sepuluh orang cucu ini. Misalnya saja, ia pernah menjadi salah satu tim penyusun Ejaan Bahasa Madura yang Disempurnakan terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur edisi revisi tahun 2012, tim penyunting majalah berbahasa Madura “Jokotole” mulai tahun 2008—2014, tim penyusun Kamus Madura-Indonesia yang disusun oleh Tim Pakem Maddhu dan diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Tim Redaksi Buletin Pakem Maddhu, tim penyusun Ondhaggha bahasa Madura, tim penerjemah Alquran Arab-Indonesia-Madura, tim penyusun buku pelajaran bahasa Madura “Sare Taman” kelas 1—6 SD, tim penyusun buku Pamekasan dalam Sejarah, tim penyusun buku pelajaran bahasa Madura untuk SMP “Kembang Babur”, tim penyusun GBPP bahasa Madura untuk SD dan SMP, dan tim penyusun bahan ajar bahasa Madura untuk SMA sederajat “Songsong Senom”.

Dalam melakoni segala aktivitasnya sehari-hari, ia selalu ditemani oleh istri tercintanya, Sitti Aminatussuhriyah. Saat ini, ia tinggal di Jalan R.A. Abd. Azis, 68 Pamekasan. Bapak dari empat putra ini mengaku sampai detik ini, ia masih aktif memberikan pembinaan bahasa Madura melalui media elektronik, yaitu radio Ralita FM. Meskipun kesehatannya tidak sekuat waktu ia masih muda, namun ia bertekad untuk terus menjaga dan mengawal bahasa Madura agar pemuda Madura dapat terus menikmati dan melestarikan bahasa Madura sebagai salah satu bahasa daerah yang memilki jumlah penutur cukup banyak agar tidak punah tergerus oleh zaman. (DLS)

Sumber: Ummatin, Khoiru. 2015. Ensiklopedia Bahasa Jawa Timur. Balai Bahasa Jawa Timur

HASAN ALI

Hasan Ali adalah seorang seniman sekaligus penggiat bahasa dan budaya Banyuwangi. Beliau lahir di desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi tanggal 7 Desember 1933. Meski hanya lulusan SMA (alumnus SMAN 1 Malang angkatan 1956), namun kakek berdarah Madura, Using dan Pakistan ini adalah seorang kamus berjalan bahasa dan budaya Banyuwangi. Sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, namun pada tahun 1959 harus terhenti karena keterbatasan biaya. Hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Hasan Ali kemudia secara otodidak mempelajari dan menekuni kesenian dan kebudayaan Banyuwangi, khususnya bahasa Using.

Kiprahnya dibidang seni juga tidak perlu diragukan lagi. Hasan Ali adalah penemu “Geter Kerep”, gong yang menjadi simbol gamelan musik angklung Banyuwangi. Di usia 15 tahun Hasan Ali telah mendirikan perkumpulan kesenian Damarwulan, sebuah kelompok kesenian teater rakyat tentang cerita kepahlawanan berlatar masa Kerajaan Majapahit yang menaklukkan Kerajaan Blambangan. Hasan Ali pula yang memiliki ide awal untuk memasukkan musik daerah Banyuwangi ke studio rekaman hingga menjadi kaset. Pada tahun 1971, Hasan Ali pernah bermain dalam film besutan Mochtar Lubis yang berjudul Tanah Gersang. Hal itulah yang mengantarkan Hasan Ali menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi mewakili para seniman. Beliau juga pemrakarsa berdirinya Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi dan selama 20 tahun berturut-turut (1978—1998) dipercaya menjadi ketuanya. Pengetahuannya tentang kesenian dan budaya daerah, khusunya Blambangan sangat luas.

Hasan Ali adalah orang terdepan yang tidak pernah mengenal lelah dalam membina, mengembangkan, dan mengangkat harkat dan derajat bahasa Using. Telah banyak buku yang sudah disusunnya, antara lain buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using, Tata Bahasa Baku Bahasa Using, dan yang paling fenomenal adalah pada tahun 2000, Hasan Ali berhasil merampungkan penyusunan Kamus Bahasa Daerah: Using-Indonesia yang berisi 28 ribu kata dan subkata. Edisi perdana kamus yang dicetak oleh PT. Intan Pariwara Klaten ini, sebanyak 1200 eksemplar dibagikan secara gratis ke sekolah-sekolah dan instansi-instansi pemerintah di Kabupaten Banyuwangi. Penyusunan kamus Bahasa Using ini diawali sejak tahun 1978, ketika beliau tengah mengumpulkan data latar belakang dan setting sosial daerahnya untuk bahan membuat novel. Ia mengumpulkan semua kata-kata Using dari kata-kata yang diucapkan oleh rekan sekantornya, pedagang di pasar, hingga percakapan penumpang di angkutan umum dan kemudian mencatatnya. Selain itu, beliau juga membaca banyak literatur tentang bahasa Using. Dari hasil penelusuran tersebut, ternyata banyak sekali kosakata kuno yang sudah tidak dikenal oleh masyarakat Using sendiri, begitu juga dengan dialek yang harus diucapkan. Kosakata yang dimasukkan dalam kamus susunannya adalah kata-kata umum dan telah dimengerti oleh masyarakat Using kebanyakan, bukan kosakata yang hanya diketahui hanya oleh segelintir orang dan yang dialeknya terlalu lokal.

Hasan Ali adalah penggiat bahasa dan budaya Using. Hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan untuk Using. Tanggal 14 Juni 2010, pukul 02.30., Hasan Ali menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Islam Fatimah, Banyuwangi setelah tiga minggu dirawat. Ayah penyanyi Emilia Contesa ini meninggalkan seorang istri, empat orang anak, sepuluh orang cucu.

*Sumber: Ummatin, Khoiru. 2015. Ensiklopedia Bahasa Jawa Timur. Balai Bahasa Jawa Timur

Djajus Pete

Djajus lahir di desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada tanggal 1 Agustus 1948. Dalam karya-karyanya, Djajus sering menggunakan nama samaran Djajus Pete. Tidak ada alasan khusus Djajus menggunakan nama itu. Laki-laki beragama Islam ini menamatkan sekolah dasar (SD) di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro pada tahun 1961. Ia kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) tahun 1967 di Bojonegoro. Pada tahun 1968 ia melanjutkan ke sekolah pendidikan guru (SPG) di Kabupaten Bojonegoro. Pendidikan terakhirnya ditempuh di KPG Bojonegoro pada tahun 1976.

Pengalaman kerja Djajus diawali sebagai guru sekolah dasar (SD) sejak tahun 1971 di Bojonegoro dan pada tahun 1985—1993 bekerja sebagai wartawan Jaya Baya dan Surabaya Post. Kegiatan kepengarangan Djajus dimulai tahun 1967. Ia mengakui dunia tulis menulis baginya adalah semacam bakat yang didukung kerja keras untuk terus belajar menulis dengan lebih baik dari yang telah dihasilkan sebelumnya. Pada awalnya Djajus merasa harus banyak membaca karya-karya sastra untuk memenuhi keinginannya yang sangat besar dalam hal menulis. Materi karya-karya Djajus terutama cerita cekak ‘cerita pendek’ sebagian besar adalah berupa pengutaraan gagasan (menumpahkan uneg-uneg) yang dibumbui dengan latar penceritaan yang inkonvensional .

Karya pertama yang dihasilkan Djajus berupa guritan berjudul “Pepesthen” yang dimuat dalam majalah Panjebar Semangat tahun 1967. Dalam berkarya, Djajus sulit memberikan gambaran bagaimana proses kreatifnya. Hal tersebut, menurutnya, karena sebuah proses kreatif itu bersifat pribadi, cakupannya seperti tidak terhingga, mulai dari bagaimana mengungkap ide (meskipun ide datang dengan sendirinya), hingga berupa sebuah tulisan setelah mengalami proses pengendapan yang sangat lama.

Ia mengakui bahwa pada awalnya selalu dibantu oleh pengarang senior seperti JFX Hoery. Hoerylah yang kali pertama memberikan dorongan dan semangat menjadi penulis sastra Jawa. Suripan Sadi Hutomo dalam suratnya selalu memberikan saran, semangat, dan keyakinan bahwa Djajus akan menjadi pengarang yang besar. Dorongan semangat dari tokoh-tokoh besar tersebut disikapi Djajus dengan rendah hati. Ia bahkan terus-menerus mengasah kemampuan karena berkeyakinan bahwa menjadi penulis sastra Jawa ternyata tidak cukup hanya bermodal semangat, tetapi harus masuk dalam taraf penyerahan diri secara mutlak. Artinya, setiap tingkah laku dan perbuatan, sesuatu yang ia dengar, ia lihat, dan ia rasakan hanyalah untuk kepentingan sastra Jawa.

Peran penerbit dewasa ini, berkaitan dengan profesinya sebagai penulis, menurut Djajus, sangat menunjang dalam mener-bitkan hasil karyanya, walaupun media-media tersebut keberadaannya masih terbatas, khususnya media yang berbahasa Jawa. Tentang penghasilan, Djajus berpendapat bahwa honor yang diterimanya untuk sebuah karya sastra dapat dianggap belum layak. Akan tetapi, masalah utama perkembangan sastra Jawa tidak hanya itu. Ada faktor yang lebih penting yakni kemauan dan kemampuan untuk secara total nguri-uri bahasa dan sastra Jawa.

Walupun demikian, ia sangat optimis bahwa sastra Jawa masih akan terus hidup, apalagi dibantu oleh media-media berbahasa Jawa karena majalah-majalah tersebut merupakan benteng terakhir media ekspresi estetik sastra Jawa. Djajus menulis dalam berbagai genre sastra, baik cerita pendek (cerita cekak), cerita bersambung (cerbung), atau geguritan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini ia memfokuskan diri hanya menulis cerita pendek.

Karya monumental Djajus Pete berjudul “Kretek Emas Jurang Gupit”, sebuah buku antologi cerita cekak. Antologi ini berisi sepuluh cerita pendek yang ditulis antara tahun 1986—1998 dan pernah dimuat dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Zed Amidien, seorang wartawan majalah Tempo, menerbitkan buku tersebut dengan dibantu sejumlah pengarang sastra yang ada di Surabaya. Antologi cerita cekak “Kreteg Emas Jurang Gupit” merupakan buku Djajus yang memperoleh penghargaan Rancage.

Kesepuluh cerita pendek tersebut adalah “Bedhug” (Panjebar Semangat, No. 19, 10 Mei 1997), “Dasamuka” (Jaya Baya, No. 19/ XLVI, 5 Januari 1992), “Kadurjanan”(Jaya Baya, No. 41/XLIV, 10 Juni 1990), “Kakus” (Panjebar Semangat, No. 44, 31 Oktober 1992), “Kreteg Emas Jurang Jupit” (Jaya Baya, No. 47/XL, 20 Juli 1986), “Pasar Rakyat” (Panjebar Semangat, No. 25, 22 Juni 1996) dengan judul “Topeng”, “Petruk” (Jaya Baya, No. 4/XLV, 23 September 1990), “Rajapati” (Panjebar Semangat, No. 49, 5 Desember 1998), “Setan-setan” (Panjebar Semangat, No. 31, 31 Juli 1993), dan “Tikus lan Kucinge Penyair” (Jaya Baya, No. 8/XLV, 21 Oktober 1990).

Karya sastra berupa Crita Cekak (1) “Tatu Lawas Kambuh Maneh” (Panjebar Semangat, No. 15, 10 Mei 1971), (2) “Erma” (Dharma Nyata, No. 18, Minggu V, September 1971), (3) “Baladewa Ilang Gapite” (Panjebar Semangat, No. 8, 24 Februari 1972), (4) “Wewadi Tansah Kineker” (Panjebar Semangat, No. 28, 24 Juli 1972), (5) “Antinen Sawetara Dina” (Panjebar Semangat), (6) “Rekasane Urip” (Panjebar Semangat, No. 44, 24 November 1972), (7) “Bapak Ana Kene” (Jaya Baya, No. 40/XXVII, 10 Juni 1973), (8) “Tiwi” (Djaka Lo-dhang, Minggu IV, Oktober 1973), (9) “Ringkih” (Dharma Nyata, No. 131). Djajus saat ini tinggal di Jalan Tambangan II/203, Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.

*Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Budi Darma

Jika kita mengenal Chairil Anwar sebagai tokoh sastra Angkatan ’45, maka Budi Darma merupakan salah satu tokoh prosa Indonesia angkatan 70-an. Sebagai pengarang prosa fiksi, Budi Darma termasuk pengarang yang revolusioner selain Danarto, Putu Wijaya, dan Iwan Simatupang. Budi Darma dianggap memelopori penggunaan teknik bercerita kolase. Karya Budi Darma merupakan karya yang bermutu dan dapat disejajarkan dengan karya-karya mancanegara.

Budi Darma lahir pada 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah dari pasangan Munandar Darmowidagdo dan Sri Kunmaryati. Leluhur Budi Darma, baik dari pihak ayah maupun ibu berasal dari Rembang. Kakek Budi Darma adalah seorang camat di Rembang, sedangkan ayahnya, Munandar Darmowidagdo (1900) adalah pegawai kantor pos. Sri Kunmaryati, ibu Budi Darma (1909) adalah seorang ibu rumah tangga. Budi Darma merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki.

Tanggal 14 Maret 1968, Budi Darma menikah dengan Sitaresmi, S.H. dan bertempat tinggal di rumah mertua di Jalan Tambangboyo 198 Surabaya sampai tahun 1981. Tempat tinggal Budi Darma sekarang di Jalan Ketintang 43, perumahan dosen, IKIP Negeri Surabaya. Budi Darma memiliki tiga orang anak yaitu Diana, lahir di Banyuwangi 15 Mei 1969 dan sekarang menjadi dosen bahasa Inggris di Unesa. Anak nomor dua bernama Guritno, lahir di Banyuwangi, 4 Februari 1972. Anak ketiga bernama Hananto Widodo, lahir di Surabaya, 3 Juni 1974. Di antara ketiga anak tersebut, yang mewarisi bakat Budi Darma adalah anak nomor tiga, yang sering menulis artikel di media massa.

Pendidikan sekolah dasar Budi Darma dijalani di Kudus dan lulus tahun 1950. Sesudah itu, ketika ayahnya ditugaskan di Salatiga, ia menempuh pendidikan SMP di Salatiga dan tamat tahun 1953. Pada saat di bangku SMP inilah Budi Darma senang membaca cerpen. Salah satu bacaan yang digemarinya adalah karya Anton Chekov The Darling, yang kelak menjadi salah satu pemicu lahirnya novel Olenka. Setelah tamat SMP, Budi Darma melanjutkan ke SMA di Semarang. Tahun 1957, Budi Darma kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra dan Kebudayaan dan lulus tahun 1963 dengan skripsi “Tragic Heroes in The Plays of Marlowe”. Budi Darma memper-oleh Bintang Bhakti Wisuda Fakultas Sastra dan Kebudayaan, yaitu penghargaan bagi mahasiswa terbaik di bidang pendidikan dan pengabdian pada masyarakat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Universitas Indiana, Bloomington. Beasiswa dari Fullbright pada bulan Agustus 1974 diterima Budi Darma untuk melanjutkan S2 di Universitas Indiana, Bloomington. Ia memperoleh gelar Master of Arts dalam bidang English Creative Writing 1976 dengan tesis “The Death and The Alive”. Budi Darma melanjutkan S3 di universitas yang sama dan memperoleh gelar Ph.D. tahun 1980 dengan disertasinya berju-dul “Character and Moral Judgement in Jane Austen’s Novels”.

Selama mengabdi di IKIP Surabaya (sekarang Uneversitas Negeri Surabaya), Budi Darma secara formal pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), dan Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Budi Darma pernah menolak ketika dicalonkan menjadi rektor kali kedua. Menurutnya, jika ia menjadi rektor, kehidupannya sebagai sastrawan dan budayawan menjadi terampas oleh urusan administratif dan protokoler. Budi Darma kerap menjadi dosen luar biasa di Universitas Negeri Malang dan Universitas Jember.

Pengalaman dan pengetahuan kesastraan Budi Darma dimulai dengan kebiasaan membaca cerita di majalah langganan ibunya, cerita yang ada di buku sekolah dan perpustakaan ketika Budi Darma masih duduk di Sekolah Dasar. Ketika di SMP, Budi Darma sudah berkenalan dengan sastra asing. Pengenalan terhadap sastra Inggris dan Amerika bertambah ketika dia menjadi mahasiswa.

Budi Darma mulai menulis karya sastra sejak di bangku SMP. Pada saat duduk di SMA, ia mencoba menulis puisi dan mengirimkannya ke majalah Budaja (Yogyakarta). Setelah itu, tulisannya tersebar di berbagai majalah, antara lain Horison (Jakarta), Basis (Yogyakarta), Budaja (Yogyakarta), Contact (Yogyakarta), Gama (Yogyakarta), Gadjah Mada (Yogyakarta), Gema Mahasiswa (Yogyakarta), Indonesia (Jakarta), Roman (Jakarta), Tjerita (Jakarta), Forum (Jakarta), Matra (Jakarta), dan Gelora (Surabaya). Tulisannya juga tersebar di surat kabar Kompas (Jakarta), Minggu Pagi (Surabaya), Jawa Pos (Surabaya). Selain dalam bahasa Indonesia, dia juga menulis dalam bahasa Inggris dan dimuat di berbagai media cetak di Indiana, Bloomington, Amerika Serikat.

Karya sastra Budi Darma kali pertama diterbitkan majalah Horison tahun 1969. Tahun 1970 merupakan tahun produktif bagi penulisan cerpen-cerpennya. Tulisan sastra yang paling baik, panjang, dan paling khas pada awal kemunculannya dalam kancah kesusastraan Indonesia adalah cerpen panjang “Kritikus Adinan”. Cerpen-cerpen karya Budi Darma antara lain (1) “Kecap Nomor Satu di Sekeliling Bayi” (1969) dimuat Horison IV (5); (2) “Siapa Bertanggung Djawab” (1969) dimuat Horison IV (9); (3) “Manggut-manggut Semacam Ini Bisakah” (1970) dimuat Horison V (8); (4) “Mbah Jambe” (1970) dimuat Horison V (5) dan “Ranjang” (1970) dimuat Horison V (2); (5) “Nancy Krie” (1970) dimuat Horison (2); (6) “Tanah Minta Digarap” (1970) dimuat Horison V (7); (7) “Kitri” (1970) dimuat Horison V (11); (8) “Pengantin” (1971) dimuat Horison VI (8); (9) “Sebelum Esok Tiba” (1971) dimuat Horison VI (11); (10) “Gadis” (1971) dimuat Horison VI (12); (11) “Penyair Besar Penyair Kecil” (1971) dimuat Horison VI (1); (12) “Anak” (1972) dimuat Horison VII; (13) “Bulan” (1973) dimuat Horison VIII (3); (14) “Mula-Mula Adalah Otak” (1973) dimuat Horison VIII (12); (15) “Tak Lain dan Tak Bukan” 1973 dimuat Horison VIII (12); (16) “Dua Laki-Laki” (1974) dimuat Horison IX (4); (17) “Laki-Laki Setengah Umur” (1974) dimuat Horison IX (4); (18) “Secarik Surat” (1974) dimuat Horison IX (4); (19) “Alang Kepalang” (1976) dimuat Horison XI (1); (20) “Salipan” (1976) dimuat Horison XI (6); (21) “Joshua Karabish” (1979) dimuat Horison XIV (11); (22) “Orang-Orang Bloomington” (1980) dimuat Sinar Harapan; (23) “Bambang Subali Budiman” (1981) dimuat Horison XVI (10); (24) “Pengakuan” (1982) dimuat Horison XVII (5—6); (25) “Solilokui” (1983), diterbitkan PT Gramedia; (26) “Olenka” (1983), diterbitkan Balai Pustaka; (27) “Tiga Laki-Laki Terhormat” (1988) dimuat Horison XXIII (3); (28) “Rafilus” (1988), diterbitkan Balai Pustaka; (29) “Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu” (1990) dimuat Horison XXV (7); (30) “Manusia yang Berdosa” (1996) dimuat Horison XXXI (5-6-7); (31) “Ny. Talis” (1996), diterbitkan Grasindo; (32) “Derabat” (1997) dimuat Kompas Minggu 3 Agustus; (33) Mata yang Indah (2001) dimuat Kompas Minggu; dan, (34) Gauhati (2003) dimuat Kompas Minggu

Budi Darma dapat dikategorikan sebagai pengarang yang kurang produktif. Menurut pengakuannya, dia memerlukan waktu khusus untuk menghasilkan sebuah karya sastra, baik cerita pendek, novel, maupun esai. Novel Budi Darma yang sudah diterbitkan yaitu Olenka (1983), Ny. Talis (1997), Rafilus (1988). Kumpulan cerpen yang sudah dibukukan berjudul Orang-Orang Bloomington (1950).

Tulisan-tulisan Budi Darma antara lain (1) “Sebuah Solilokui Mengenai Goenawan Mohamad” (1977) dimuat Horison XII (2); (2) “Pengaruh Zionisme atas Sastra Dunia” (1978) dimuat Horison XIII (4); (3) “Sastra Amerika Masa Kini” (1979) dimuat Horison XIV (7); (4) “Moral dalam Sastra” (1981), Pidato Ilmiah 19 Desember; (5) “Beberapa Gejala dalam Penulisan Prosa” (1983) dimuat Horison XVIII (1); (6) “Laki-Laki Putih. Dua Puluh Sastrawan Bicara” (1983) dimuat Sinar Harapan; (7) “Keindahan: Pandangan Romantik” (1983) dimuat Basis XXXII (4); (8) “Novel Indonesia Adalah Dunia Melo-drama” (1983) dimuat Horison XVIII (9); (9) “Persoalan Proses Kreatif” (1983) dimuat Horison XVIII (8); (10) “Kemampuan Mengebor Sukma” (1984) dimuat Horison XIX (7); (11) “Mulai dari Tengah. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang” (1984) diterbitkan Gramedia; (12) “Perihal Kritik Sastra” (1984) dimuat Horison XIX (4); (13) “Andaikan Nirdawat Seorang Kritikus Sastra” (1985) dimuat Horison XX (6); (14) “Pengalaman Pribadi dengan Nugroho Notosusanto” (1985) dimuat Horison XX; (15) “Perkembangan Puisi Indonesia” (1985) dimuat Horison XX (8); (16) “Manusia Indonesia Berbicara” (1987) dimuat Horison XXII (1); (17) “Kritik Sastra dan Karya Sastra” (1987) dimuat Horison XXII (5); (18) “Romantika Sastra, Kita” (1988) makalah Kongres Bahasa Indonesia V; (19) “Sodok Menyodok” (1988) dimuat Horison XXIII (2); (20) “Tanggung Jawab Pengarang” (1988) dimuat Basis, Juli; (21) “Konstalasi Sastra: Homo Comparatikus” (1989), makalah HISKI; (22) “Melihat Citra Bangsa Melalui Novel” (1990), makalah Seminar Hubungan Sastra dan Budaya; (23) “Sastra Indonesia Mutakhir” (1990), makalah Sekitar Masalah Sastra; (24) “Stagnasi Kritik Sastra” (1990), makalah Simposium Kritik Sastra Indonesia Modern; (25) “Kisah Sebuah Odise” (1991), pidato pengukuhan Guru Besar IKIP Surabaya; (26) “Stagnasi Kritik Sastra” (1991) dimuat Horison XXVI (1); (27) “Art and Culture in Surabaya: a Brief Introduction” (1992), diterbitkan IKIP Surabaya; (28) “Sastra dan Kebudayaan” (1992) dimuat Basis September; (29) “Novel dan Jatidiri” (1993) dimuat Basis Juli; (30) “Madelun” (1993) dimuat Matra Agustus (edisi khusus VI); (31) “Harmonium” (1995) Pustaka Pelajar, Yogyakarta; (32) “Mempersoalkan Cerita Pendek” (1999), makalah PSN X, 16—20 April; (33) “Dalang Wayang Kulit” (2000) dimuat Kompas 9 April; (34) “Pendidikan Seni Pertunjukan” (2000), makalah Seminar Seni Pertunjukan dan Pendidikan; (35) “Suratman, Markasan: Sastera Melayu Singapura” (2000); (36) “Fiksi dan Biografi” (2001) Mastera, Februari; 37) “Ironi si Kembar Siam: Tentang Posmo dan Kajian Budaya” dimuat Kalam 18; (38) “Manusia sebagai Makhluk Budaya” (2001), makalah Semilokakarya Dosen ISD & IBD; (39) “Sastra dan Kebangsaan” (2001), makalah Seminar Antarbangsa Kesusaste-raan Asia Tenggara II; (40) “Sastra dan Pluralisme” (2001), makalah Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni dalam Konteks Pendidikan; (41) “Visi Pengembangan Kebudayaan” (2001), makalah Temu Koordinasi Pengembangan Kebudayaan Jawa Timur; (42) “Kritikus Adinan” (2002) Bentang Budaya, Yogyakarta; dan (43) “Memperhitungkan Masa Lampau. Bukuku Kakiku”, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.
Beberapa penghargaan yang diperoleh Budi Darma antara lain (1) mendapatkan Bintang Bhakti Wisuda Fakultas Sastra dan Kebudayaan, penghargaan bagi mahasiswa terbaik di bidang pendidikan dan pengabdian pada masyarakat tahun 1963; (2) mendapatkan hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta untuk Novel Olenka tahun 1980; (3) pada tahun 1982/ 1983, Budi Darma dibicarakan dalam Who’s Who in The World; (4) tahun 1983 Novel Olenka memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta sebagai Novel Terbaik; (5) pada tahun 1984 Budi Darma mendapat Hadiah Sastra dari Balai Pustaka; (6) memperoleh penghargaan South-East Asian Write Award dari pemerintah Thailand tahun 1984 atas karyanya berjudul “Orang-Orang Bloomington”; (7) memperoleh penghargaan dari Walikota Surabaya pada tahun 1990; (8) memperoleh penghargaan dari Gubernur Jawa Timur tahun 1993; (9) pada tahun 1993, mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia; (10) pada tahun 1999, cerpen “Derabat” terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas; (11) tahun 2001, cerpen “Mata yang Indah” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas; (12) pada tahun 2003, memperoleh penghargaan Pengabdian Penulisan Cerpen dari Kompas; (13) memperoleh penghargaan dari Gubernur Jawa Timur tahun 2003; (14) pada tahun 2003, memperoleh Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI. Tahun 2011, Budi Darma menerima penghargaan level internasional, yakni Anugerah Sastra Mastera di Brunei Darussalam. Selain itu, Budi Darma sebagai guru besar Emeritus Universitas Negeri Surabaya pada bulan November 2011 diundang mengajar kritik dan teori sastra di National Institute of Education di Nanyang Technological University, Singapura. Tahun 2020 Budi Darma memperoleh pengargaan kategori Darmatama Sastra dari Badan Pemgembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai Sastrawan Berdedikasi.

Budi Darma menerjemahkan The Legacy karya Intsi V. Himanyunga (1996, Yayasan Obor). Budi Darma juga menulis karya nonsastra “Sejarah 10 November 1945” (Pemda Jatim, 1987), “Culture in Surabaya” (IKIP Surabaya, 1992), “Modern Literature of ASEAN” (editor kepala, 2000), dan Kumpulan Esai Sastra ASEAN (Asean Commitee on Culture and Information). Ada pula karya Budi Darma yang berbentuk cerita pendek yang ditransformasikan dalam bentuk drama “Orez” (dipentaskan mahasiswa ISI Yogyakarta) dan “Kritikus Adinan” (dipentaskan mahasiswa STSI Bandung).

*Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Adrian Pawitra

Sumber: FB Adrian Pawitra

Adrian Pawitra dilahirkan di Bangkalan pada 20 Agustus 1969. Sarana ekonomi Universitas Bangkalan (sekarang Universitas Trunojoyo) ini merupakan sosok yang sangat penting bagi masyarakat Madura, pada khususnya, dan dunia pengembangan bahasa daerah di Indonesia, pada umumnya. Adrian bukanlah seorang yang mengenyam pendidikan kebahasaan, apalagi seorang bahasawan. Ia berprofesi sebagai konsultan perbankan. Namun, kecintaanya terhadap seni budaya Madura telah membawanya rela menempuh jalan panjang yang sunyi dan berliku untuk dapat menyuguhkan karya yang umumnya hanya dapat dilakukan oleh para pakar bahasa.

Adalah ayahnya, almarhum Muhammad Irsyad yang mengilhami Adrian untuk sudi menceburkan diri dalam seni budaya Madura. Berbekal warisan buku Ejaan Madura Tepat Ucap yang disusun ayahnya sejak tahun 1998—2000, Adrian mulai menginventarisasi kosakata bahasa Madura. Ayahnya juga mewariskan banyak naskah kuno tentang Madura serta kamus Madura-Belanda yang diterbitkan sebelum Indonesia merdeka. Untuk menyelamatkan semua naskah warisan tersebut, Adrian dan kawan-kawannya kemudian mendirikan Yayasan Pragalba yang juga diketuainya. Adrian memulai kerja besarnya pada 2001.

Meskipun didukung sumber kepustakaan yang mumpuni tidak mudah bagi Adrian untuk menyusun kamus tersebut. Akan tetapi dengan semangat “tidak malu untuk bertanya”, pria yang juga mengaransemen lagu-lagu Madura ini belajar tanpa lelah untuk menyempurnakan kamusnya dengan menghadiri temu-temu budaya Madura. Pada tahun 2009, jerih payahnya selama sembilan tahun terbayar  lunas. Kamus Lengkap Bahasa Madura-Indonesia yang terdiri atas 18.155 lema ini diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat tahun 2009 (HP)

*LIBAS Edisi Oktober 2016

Bonari Nabonenar

Bonari tergolong pengarang dwibahasa yang cukup produktif. Ia tidak hanya menulis puisi atau cerpen, tetapi juga artikel, esai, anekdot, dan novelet yang ditulis dengan menggunakan media bahasa Jawa dan Indonesia. Karya-karyanya dipublikasikan melalui media, seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Merdeka, Bernas, Suara Merdeka, Wawasan, Surya, Jawa Pos, dan Surabaya Post. Bonari menganggap bahwa bahasa adalah alat yang dapat digunakan untuk mengekpresikan gagasannya.

Bonari dilahirkan di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1 Januari 1964 dengan nama Bonari. Nabonenar adalah nama tambahan. Ayahnya bernama Sugimin dan ibunya bernama Insiyah. Bonari menikah dengan Sri Winarni, S.Pd. pada tahun 1994 dan dikaruniai seorang putri.

Dalam berkarya, Bonari sering menggunakan nama samaran, seperti Sriningtyastuti dan Nuning Ningtyas. Bonari menempuh pendidikan di SD Cakul I (1970—1976), SMP Berbantuan Panggul (1976—1979), SPG Sore di Trenggalek (1979—1982), dan IKIP Surabaya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1982—1987). Setelah lulus, bekal ilmu keguruan itu ia manfaatkan untuk bekerja sebagai guru tidak tetap di SMA Panggul, Trenggalek, pada tahun 1987—1989. Tahun 1992—1994, ia menjadi staf redaksi Tabloid Jawa Anyar. Tahun 1995—2000, ia bergabung dengan JPNN (Jawa Pos News Network) dan tahun 2000 ia menjadi redaktur tabloid X-file. Bersama dengan Leres Budi Santosa dan Arif Santosa, ia memprakarsai berdirinya Lembaga Kajian Budaya Jawa Pos. Ia juga salah seorang penggagas Kongres Sastra Jawa (2001), Pengadilan Sastra Jawa (2002), dan Festival Sastra Buruh. Dalam organisasi ia juga aktif, seperti menjadi pengurus komunitas sastra Jawa Cantrik, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) tahun (2004—2008), dan komite sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (2003—2008). Pada tahun 2003, ia dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura dan mengunjungi Dewan Bahasa di Malaysia. Tahun 2005, ia diundang untuk memberikan workshop penulisan bagi para pekerja rumah tangga (TKI) di University of Hong Kong di Kowloon dan sejak 2006 Bonari menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Peduli. Majalah ini diterbitkan secara terbatas untuk para pekerja diaspora asal Indonesia di Hong Kong.

Bonari sudah mulai menggemari kegiatan menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui pelajaran mengarang yang diberikan oleh gurunya. Sejak kecil ia gemar membaca. Bakatnya di bidang menulis mulai terasah dengan baik ketika duduk di bangku SPG karena mempunyai kesempatan  lebih banyak untuk membaca karya-karya para pengarang Indonesia dan bergaul dengan para pengarang sastra Jawa di Sanggar Sastra Triwida, Tulungagung. Karyanya yang pertama berupa puisi dan dimuat di majalah Taman Siswa Yogyakarta pada tahun 1981. Cerpennya yang berjudul “Klanthung Sastramindring” pernah mendapatkan hadiah sebagai Juara II lomba menulis crita cekak yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta bekerja sama dengan Dewan Kesenian Yogyakarta pada tahun 1991.  Tahun 2010, Bonari mendapatkan anugerah sastra Rancage untuk kategori JasaYang terbaru, pada tahun 2020, karya Bonari yang berjudul Gurit Panglipur mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma yang diberikan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur untuk kategori Buku Sastra Berbahasa Daerah Terbaik.

Sebagai pengarang, Bonari cukup produktif menghasilkan dan memublikasikan karya-karyanya. Beberapa karya Bonari yang pernah dimuat dalam majalah, antara lain “Ombak Kuni”, “Kembang Kang Mekar ing Ketiga Aking” (JB, crita cekak, 1987),  “Pakeliran”, “Omah”, “Lakon” (JB, geguritan, 1987), “Wong Ayu lan Gedhang” (PS, crita cekak, 1990), “Ing Pangkone Sulastri” (MS, crita cekak, 1990), “Rembulan Tatu” (MS, geguritan, 1990),    “Kayu Pating Slekrah”   (DL, crita cekak, 1990), “Lambe” (JB, crita cekak, 1990), “Klantung Sastra-mindring”, “Guru: Kacatur Ngalor-ngidul” (PS, crita cekak, 1991), “Cendhela”, “Angin” (JB, crita cekak, 1991),   “Prahara”  (PS, crita cekak, 1992),  “Dheweke Teka”, “Candhi Wurung” (JB, geguritan, 1992), “Tembang Tangise Sinten” (Surabaya Post, geguritan, 1992), “Jaka Durung Duwe SIM” (JB, crita cekak,1992)., “Maling” (Jawa Anyar, crita cekak, 1994), dan “Ponorogo” (PS, geguritan, 1995).

Karya-karya Bonari juga ada yang diterbitkan dalam bentuk antologi bersama pengarang lain, seperti (1) Byar (1992), yang merupakan kumpulan crita cekak Sanggar Triwida Tulungagung; (2) Mutiara Segegem (Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah IKIP Yogyakarta); (3) “Ana Kembang Mekar ing Tatu”, “Ana Kembang Mekar ing Tawang”, “Sukerta”, “Maneh-maneh”, “Pupuh Nguci-reng” dalam Pisungsung: Antologi Guritan Enam Penyair yang diterbitkan oleh Forum Kajian Kebudayaan Surabaya; (4) Suharto dalam Cerpen Indonesia, yang merupakan kumpulan cerpen berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Bentang Yogyakarta tahun 2001; (5) “Aji Tresna”, “Aku Lan Sliramu”,  “Dhuhkitaku”, “Malatrisna” dalam Kabar Saka Bendulmrisi: Kumpulan Guritan  (PPSJS, 2001); (6) “Dakgelah Lakune Rembulan” dalam Drona Gugat (Bukan Panitia Parade Seni WR Supratman, 1995); dan (7) Bermula dari Tambi, yang merupakan kumpulan cerpen berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Panitia Pekan Seni Surabaya tahun 2001. Di samping menggeluti sastra Jawa, Bonari juga memiliki perhatian pada kebudayaan Jawa dan dunia pendidikan. Perhatiannya itu tampak dari tulisannya, seperti (1) “Cangkriman: Biyen lan Saiki” (Panjebar Semangat, 1987), (2) “Murid: Biyen lan Saiki” (Panjebar Semangat, 1989), (3) “Kasusastran lan Bonsai” (Panjebar Semangat, 1989), (4) “Majalah Sastra Jawa, Perlu” (Mekar Sari, 1990), (5)  “Maneh, Sithik Ngenani Gurit” (Panjebar Semangat, 1990), (6) “Pancakaki: Biyen lan Saiki” (Panjebar Semangat, 1991), “Nasibe Lulusan SPG” (Panjebar Semangat, 1991), “Isih Cilik Ngabotohan” (Panjebar Semangat, 1992), “Sastra Jawa: Juru Kritik lan Tesmak” (Panjebar Semangat, 1992), dan “Nangisi Ludruk” (Panjebar Semangat, 1994).

*Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Widodo Hs., Tokoh Pegiat BIPA yang Humanis

Pak Wid dalam acara Jejaring BIPA 2017

Pak Wid, begitulah kami memanggil Dr. Widodo H.S., M.Pd. yang lahir di Blitar 16 Agustus 1951. Pria berkumis nan bersahaja ini menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Blitar. Gelar sarjanadalam bidang pendidikan bahasa Indonesia (1976) dan gelar magister pendidikan beliau peroleh dari IKIP Malang (1987). Gelar doktor juga beliau peroleh dari IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) pada tahun 2004, dengan disertasi berjudul Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing Model Tutorial: Studi Kasus Pembelajaran BIPA Tingkat Pemula Pada Program Center For Indonesian Studies Universitas Negeri Malang. Suami Indri Suhartini ini dikaruniai dua orang putri, yaitu Rosyida Fajri Rinanti dan Nissa Rahma Nur Aprilia.

Pak Wid menjadi dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, sejak tahun 1980 hingga saat ini. Selama pengabdiannya di UM, ia pernah menjabat Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FS (1987—1988 dan 1990—1993). Widodo juga menjadi Anggota HISKI (1994—sekarang), wakil ketua MLI (1996—2000), ketua bidang pendidikan APBIPA (2004—2008) Dewan Penasihat APPBIPA Pusat  (20015—2019), dan Dewan Penasihat APPBIPA Jawa Timur (2016—2020). Ia juga pernah menjadi sekretaris DKM (1990—1998) dan pembina IPRI (1997—2002).  Bidang yang diminati dan ditekuninya selama ini adalah Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), Psikolinguistik, Logika Bahasa, dan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Karya ilmiah yang sudah dihasilkannya antara lain (1) Pengajaran Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing di Malang pada tahun 1996 sampai 1997 (1998), (2) Living Indonesian (1997), (3) Sosok dan Problematik Pengajar dalam Penyetaraan Program BIPA (1995), (4) Meningkatkan Pajanan Pembelajaran BIPA melalui Program Peer Tutor (1995).

Penerima penghargaan Tokoh Pegiat BIPA Tahun 2016 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini adalah salah satu perintis berdirinya Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA). Ya, nama Pak Wid sebagai pelopor dan pegiat BIPA di Indonesia sudah sangat kondang. Beliau telah menjadi konsultan BIPA di banyak institusi, termasuk Balai Bahasa Jawa Timur. Bahkan, Pak Wid telah menjadi konsultan BIPA di Balai Bahasa Jawa Timur sejak pertama kali Tim BIPA Balai Bahasa Jawa Timur (waktu itu masih Balai Bahasa Surabaya) berdiri pada tahun 2006. Pak Wid meyakinkan Tim BIPA Balai Bahasa Jawa Timur bahwa BIPA tidak hanya bersangkut paut dengan pembelajaran, tetapi juga faktor akademis. Dengan paradigma yang ditanamkan Pak Wid itulah, program BIPA Balai Bahasa Jawa Timur dinamai “Program Pengkajian dan Pembelajaran BIPA”.

Berbincang dengan Pak Wid seolah masuk dalam perbincangan multilapis. Pak Wid kadang berperan sebagai dosen, kadang sebagai bapak, dan kadang sebagai seorang sahabat. Dengan lancar, Pak Wid berbicara tentang BIPA seperti seorang dosen menguliahi mahasiswanya, tetapi tiba-tiba Pak Wid juga mampu bertutur lembut bak seorang bapak yang sedang menyemangati anaknya supaya tahan banting dan teguh semangat. Pak Wid sering melontarkan kata-kata yang mengobarkan semangat di kala rekan-rekan Tim BIPA Balai Bahasa Jawa Timur hampir kehabisan napas untuk menghidupkan program BIPA di Balai Bahasa Jawa Timur. Pak Wid juga tak segan menjadi teman mengopi, bergurau, dan cangkruk sehingga sekat kadang menjadi sirna dan unek-unek, keluh kesah, maupun prasangka sekalipun akan mengalir tanpa rasa sungkan. Pendek kata, Pak Wid adalah mitra diskusi dan tempat mengadu yang sempurna.

Pak Wid masih menyimpan cita-cita, yakni menjadikan BIPA sebagai sebuah ilmu khusus layaknya bahasa Inggris yang memiliki TEFL atau TESOL. Pak Wid bercita-cita agar BIPA suatu saat tidak hanya kuat dalam ranah pembelajaran, tetapi juga dalam ranah akademis dan riset.  

 Kini beliau telah berpulang ke rahmatullah pada hari Jumat, 6 Juli 2018. Selamat jalan guru kami, penyemangat kami, lentera BIPA kami! Beristirahatlah dengan tenang karena kamilah yang akan meneruskan perjuanganmu tuk meraih cita-cita luhurmu! (HP)

*Libas Edisi Juli 2018