Raden Timur Budi, penyair dari Pulau Garam

Timur Budi Raja atau akrab dipanggil Timur adalah salah satu penyair dari pulau garam, Madura. Dalam diri Timur masih mengalir darah biru, terbukti dengan melekatnya gelar Raden di depan namanya. Sebagai penyair, Timur masih sangat muda usianya. Ia telah menulis sajak sejak kelas 4 SD. Selain menulis sajak dan prosa lirik, ia juga menulis beberapa naskah drama dan esai kebudayaan. Beberapa sajaknya telah memenangkan lomba cipta puisi. Tahun 1998, Timur memenangkan Lomba Cipta Puisi (LCP) se-Madura sebagai juara I. Timur juga menyutradarai beberapa pementasan teater, di antaranya Nyare Madura (2003) yaitu sebuah pementasan musik-teater di Unijoyo dalam rangka pertukaran budaya mahasiswa Oxford Madura. Hasil karyanya pertama kali dimuat tahun 1977 bergenre puisi dengan honorarium lima belas ribu rupiah.

Timur Budi Raja atau akrab dipanggil Timur adalah salah satu penyair dari pulau garam Madura. Dalam diri Timur masih mengalir darah biru, terbukti dengan melekatnya gelar raden di depan namanya. Sebagai penyair, Timur masih sangat muda usianya. Ia dilahirkan di Bangkalan, 1 Juni 1979. Darah seninya mengalir dari sang ayah, Syarifuddin Dea. Timur Budi Raja menikah dengan Salis Susmiati. Timur Budi Raja tahun 2002 tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Hukum Unijoyo, Madura. Adapun Sekolah Dasar ditamatkan tahun 1993, Sekolah Menengah Pertama lulus tahun 1995, dan Sekolah Menengah Atas lulus tahun 1998. Timur Budi Raja aktif sebagai penyiar di Radio Swasta Amanna FM (2000—2001); sebagai penyiar di Radio Elbayu (2001); sebagai pengajar ekstrakurikuler Teater di SMANSAKA.

Saat ini, Timur menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Bangkalan dan aktivis di Komunitas Lingkar Sastra Junok. Bersama kawan-kawan dari beberapa daerah, dia menggagas keberadaan Masyarakat Sastra Luar Forum dan Poros Sastra. Timur mulai menulis sajak sejak kelas 4 SD. Selain menulis sajak dan prosa lirik, ia juga menulis beberapa naskah drama dan esai kebudayaan. Beberapa sajaknya telah memenangkan lomba cipta puisi.

Tahun 1998, Timur memenangkan Lomba Cipta Puisi (LCP) se-Madura sebagai juara I. Sajaknya “Biografi dari Beranda Sine” mendapatkan penghargaan dari YKSI (Yayasan Komunitas Sastra Indonesia-Jakarta) dalam lomba cipta puisi Anti Kekerasan se-Indonesia tahun 1998. Sajaknya “Sehabis Sore Ini” mendapatkan penghargaan “Purbacaraka Award” dari sanggar Purbacaraka Fakultas Sastra Udayana-Bali dalam LCP Nusantara tahun 2002. Sajak-sajak Timur Budi Raja pernah juga dimuat di Voice of Law (majalah kampus), Harian Surabaya Pos, Majalah Kidung (Dewan Kesenian Jawa Timur), Horison, Majalah MPA (Mimbar Pengajian Alam), Fajar (harian Sulawesi Selatan), Aliansi Budaya (Unhas-Makasar), Pewarta Siang, Buletin Penggak (Bali), Buletin Lorong (Surabaya), Radar-Jawa Pos (Madura), Harian Pedoman Rakyat, dan sebagainya.

Sajak-sajaknya juga pernah menjadi bagian dalam beberapa kumpulan puisi, di antaranya kumpulan puisi Akulah Mantera (1996), kumpulan puisi pemenang LCP se-Madura Mosshat (1998), kumpulan puisi Anak Beranak (1998), kumpulan puisi 46 penyair se-Jawa dan Bali Istana Loncatan (1998), kumpulan puisi penyair Jawa Timur Luka Waktu (1998), kumpulan puisi nomine LCP Anti Kekerasan YKSI Award Narasi 34 Jam (2001), kumpulan puisi penyair Bangkalan Osteophorosis (2001), kumpulan puisi penyair Madura Hidro Sefalus (2001), antologi Sastra Pelajar dalam Horison (2002), kumpulan puisi pemenang LCP sanggar Purwacaraka Award Ning (2002), kumpulan puisi Festival Seni Surabaya (FSS) Permohonan Hijau (2003), dan kumpulan puisi Festival Seni Surabaya (FSS) Penyair Jawa Timur (2004). Timur Budi Raja juga dikenal aktif di teater.

Dia pernah mengikuti lokakarya teater Ian Jarvis Brown dari Australia yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur tahun 1998. Ia juga pernah mengadakan pementasan teater monoplay dengan judul “Nyanyian-Nyanyian Buram” di tiga kota, yaitu Malang, Surabaya, dan Nganjuk pada Festival Monoplay Keliling Jawa Timur 1998—1999 yang digagas Forum Masyarakat Teater Jawa Timur dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Selain itu, Timur juga mengikuti Temu Teater ke-10 di Yogyakarta tahun 1999; mementaskan teater monoplay “Sirene” (naskah sendiri) tahun 1999 di Bangkalan dan di Gedung Auditorium Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (1999); mengikuti Temu Sastra Kepulauan I di Makasar-Sulawesi Selatan (1999); mementaskan teater monoplay “Prosesia Malam Gerhana” (naskah sendiri) sebagai prolog musik oratorium Jiwa Jiwa Mati karya Memet Khairul Slamet di Gedung Pertunjukan Purna Budaya Yogyakarta dalam Festival Kesenian Yogyakarta ke IX (1999); mengikuti Temu Sastrawan Kepulauan II di Makasar-Sulawesi Selatan (2000); mementaskan teater monoplay Prosesia Malam Gerhana di Sekolah Tinggi Kesenian Wilawatikta Surabaya (2001).

Timur juga menyutradarai beberapa pementasan teater, di antaranya Nyare Madura (2003), yaitu sebuah pementasan musik-teater di Unijoyo dalam rangka pertukaran budaya mahasiswa Oxford Madura; Mari Pulang Ke Indonesia (teater kolosal) di Unijoyo tahun 2004; dan Fragmen Gambar Cinta Dari Aceh dari “Sanggar Lentera” STKIP PGRI Sumenep dalam rangka Peduli Aceh di Gedung Nasional Indonesia Sumenep. Timur juga banyak mendapat penghargaan. Hasil karyanya pertama kali dimuat tahun 1977 bergenre puisi dengan honorarium lima belas ribu rupiah. Sajak-sajak Timur Budi Raja dalam kumpulan Aksara yang Meneteskan Api bertema keterasingan dan kesepian manusia.

Mashuri, Sastrawan’Ngaceng’ dari Lamongan

Mashuri adalah sastrawan yang banyak menulis puisi dan cerita pendek. Mashuri lahir di Desa Wanar, Kecamatan Pucuk, Lamongan, 27 April 1976, dari pasangan Imam dan Maspuanah. Orangtuanya bersuku Jawa dan sehari-hari menjadi petani di Desa Wanar-Lamongan. Mashuri menikah dengan Hani’atul Mariah, wanita kelahiran Pati 9 Desember 1981, dan telah dikaruniai seorang putri dan seorang putra.

Pendidikan formal Mashuri dijalani mulai tahun 1982—1986 di SDN Wanar, Lamongan, tahun 1991 di SMPN 1 Sukodadi, Lamongan, dan MA Ta’sisut Taqwa di Surabaya tahun 1994. Dia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, jurusan Sastra Indonesia, lulus tahun 2002. Selain itu, Mashuri juga tercatat sebagai jebolan pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa pelatihan seni-sastra dan jurnalistik pernah diikutinya ketika masih kuliah di Unair.

Mashuri pernah menjadi wartawan/redaktur surat kabar. Saat ini, namanya tercatat sebagai salah satu pegawai di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sebagai tenaga teknis peneliti bidang sastra. Mashuri banyak bergiat dalam organisasi dan komunitas antara lain Teater Gapus Fakultas Sastra Unair, Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar (FS3LP) Surabaya, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Komunitas Triwikromo Unair Surabaya, LEPASS (Lembaga Pengkajian Agama, Sastra, dan Sejarah), Forum Kajian Pemikiran Islam (FKPI) Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur.

Kali pertama menulis di surat kabar Karya Dharma tahun 1997, Huri berhonor Rp1.500,00. Menulis bagi Mashuri merupakan media ekspresi dan aktualisasi diri dan tentunya sebagai pengamalan ilmu. Hal-hal itulah yang menjadi motivasi dan penjaga keeksisan seorang Mashuri. Kalau sekarang dia masih aktif menulis karena memang itu jalan hidupnya. Honorarium yang diterima Mashuri sekarang berkisar Rp100.000,00— Rp500.000,00. Menurut pengakuan jebolan pondok pesantren Salafiyah Raudlatul Mutaallimin dan pondok pesantren Ta’sisut Taqwa Galang, Lamongan ini, kemampuan menulis yang dimilikinya otodidak, yakni belajar dari penulis-penulis pendahulunya serta diperkaya dengan diskusi bersama teman-teman sekomunitas.

Karya-karya sastra Mashuri berwujud puisi, prosa, esai, dan drama. Adapun karya sastra Mashuri dalam bentuk buku antara lain: (1) Refleksi (Gapus-1995); (2) Seribu Wadah Lilin (Gapus-1995); (3) Menguak Tanah Kering (Gapus-1997); (4) Jawadwipa 3003 (Antologi Puisi Tunggal) (Gapus-2003); (5) Manifesto Surrealisme-Puisi Bersama (FS3LP & Galah Yogya, 2002); (6) Permohonan Hijau (antologi puisi bersama) FSS-2003; (7) Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas-2003); (8) Antologi Penyair Jawa Timur (FSS-2004); (9) Duka Atjeh Duka Bersama (antologi puisi) Dewan Kesenian Jawa Timur 2005; (10) Mahadduka Aceh (puisi) Pusat Dokumentasi Sastra HB. Yassin—2005; (11) Black Forest (kumpulan cerpen) FSS—2005; (12) Festival Mei (puisi) Forum Sastra Bandung—2006; (13) Imajinasi Luka (puisi) Dewan Kesenian Lamongan—2006; (14) Sastra dan Mistisisme (esai) Yayasan Lanskap & Fakultas Psikologi Unair—2003; (15) Kentrung Jancukan (puisi) Gapus—2006; (16) Sebatang Rokok dan Secangkir Kopi (cerpen) Gapus—2006; (17) Kerja Sebagai Estetika Kota Surabaya (Esai) Gapus—2006; dan (18) Malsasa 2005 (puisi) Forum Sastra Bersama—2005.

Tulisan-tulisan hasil karya Mashuri tersebar di berbagai media, antara lain: Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Aksara, Jurnal Thought, Majalah IAIN News, Majalah Aksara, Majalah Sindu, Telunjuk, Kompas, Media Indonesia, Republika, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Surabaya News, Karya Darma, Duta Masyarakat, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Rakyat Merdeka, Memorandum, Media kampus (Gatra dan Situs di Unair), On Off, Jaringan Islam Liberal, Inspirasi (Situs AIAA Australia), dan Arah Kiri (Situs Malaysia) dan KompasJatim.

Selain menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, Mashuri juga aktif menulis karya sastra dalam bahasa Jawa. Media massa yang memuat karya berbahasa Jawa milik Mashuri antara lain Damarjati, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Suket, dan sebagainya. Aktivitas menulis Mashuri juga telah membuahkan beberapa penghargaan, di antaranya 10 besar Lomba Puisi yang diadakan oleh Surat Kabar Rakyat Merdeka, juara harapan II Lomba Menulis Wisata.

Karya monumental Mashuri adalah novel Hubbu yang berhasil memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta Tahun 2006. Karya tersebut mengungguli 248 naskah lain dan memperoleh hadiah utama 20 juta rupiah. Novel ini menurut Mashuri mencampur unsur wayang dan kekinian. Pengagum Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad ini mengibaratkan proses kreatif penciptaan novel Hubbu mirip orang mengandung. Selain menulis karya sastra, Mashuri juga menjadi narasumber berbagai kegiatan kesastraan. Setelah diterima menjadi staf di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur pada tahun 2006, kesibukannya semakin bertambah, yakni sebagai tenaga teknis peneliti sastra. Sejak tahun 2021 dia menjadi peneliti sastra di Badan Riset dan Inovasi Nasional.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Lan Fang, Sang Perempuan Kembang Jepun

Lan Fang, lengkapnya Go Lan Fang, terkenal sebagai penulis prosa, khususnya cerpen dan novel. Lan Fang, memang nama Cina dan memang ia perempuan keturunan Tionghoa bermata sipit, berwajah oriental, khas peranakan Cina. Wanita kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 ini gemar menulis sejak remaja dan menyikapi hobinya tersebut sebagai suatu hiburan atau sarana pencerahan pikiran dan hati. Dua puluh tahun silam, ia mulai merintis kariernya di dunia fiksi. Majalah remaja Anita Cemerlang menjadi lahan pertama uji coba karya-karyanya berupa cerpen. Lan Fang merupakan putri pertama dari pasangan Johnny Gautama, seorang pendeta, dengan Yang Mei Ing. Lan Fang sendiri beragama Budha. Lan Fang menikah dalam usia yang relatif muda dan, pada 1998, melahirkan anak kembar tiga, yakni Vajra Yeshie Kusala, Vajra Vira Kusala, dan Vajra Vidya Kusala.

Setelah menghabiskan masa kecil hingga remaja di Banjarmasin, Lan Fang memulai kehidupan di Surabaya ketika berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya). Ada satu pengakuan menarik tentang motivasi pertamanya menulis, yakni sebagai pencurahan isi hati karena saat itu sedang jatuh cinta. Tulisan Lan Fang, “Catatan yang Tertinggal” kali pertama dimuat tahun 1986 di majalah remaja Anita Cemerlang. Saat itu ia menerima honor pertamanya sebesar Rp75.000,00. Selanjutnya, menulis, menurut Lan Fang, dilakukannya karena dengan menulis ia dapat mengungkapkan apa saja, menyampaikan banyak hal, dan lebih dari itu merupakan suatu perenungan yang tak terbatas tentang berbagai hal. Wanita yang menguasai bahasa Inggris dengan aktif ini, pada tahun 1990—2000, pernah bekerja di sebuah bank swasta. Tahun 2000 hingga sekarang, Lan Fang menggeluti dunia asuransi, yang memungkinkannya bertemu dengan lebih banyak orang dengan beragam karakter. Oleh karena itu, menulis sudah menjadi bagian dari dunianya dan Lan Fang tidak peduli lagi dengan genre atau ragam tulisan.

Ada beberapa kumpulan cerpen dan novel yang sudah dihasilkan dan diterbitkan. Kemampuan berkarya Lan Fang juga tercermin dari banyaknya lomba dan sayembara yang pernah ia menangi. Lomba-lomba tersebut antara lain, Lomba Cerita Pendek Femina tahun 1997, Lomba Cerita Pendek Nyata tahun 1998, Lomba Cerita Bersambung Femina tahun 1997, Lomba Cerita Bersambung Femina tahun 1998, dan Lomba Novel Femina tahun 2003. Tentang proses kreatif, pengarang otodidak ini mengungkapkan bahwa dalam berkarya ia tidak saja mengandalkan mood, tetapi yang lebih penting adalah kedekatannya dengan subjek, objek, serta latar cerita yang sedang digarapnya. Satu hal yang menurut Lan Fang cukup sulit ditentukan adalah ketersediaan waktu. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan utamanya sebagai agen asuransi yang ditekuninya.

Lan Fang termasuk pengarang yang sangat produktif dalam berkarya. Dari beberapa buku karyanya yang sudah diterbitkan, terlihat bahwa kualitas isi karya Lan Fang cukup bagus. Karya-karya tersebut antara lain: Kota Tanpa Kelamin (kumpulan cerpen 2007) diterbitkan Mediakita; Perempuan Kembang Jepun (novel 2006) diterbitkan Gramedia; Laki-Laki yang Salah (kumpulan cerpen 2006); Yang Liu (kumpulan cerpen 2006) diterbitkan Bentang; Jangan Main-main dengan Perempuan, Reinkarnasi (2004) diterbitkan Gramedia; Pai Yin (2004) diterbitkan Gramedia; Kembang Gunung Purei (2005) diterbitkan Gramedia; dan, Kunang-kunang di Mata Indri (2005) diterbitkan FSS dan Logung Pustaka. Selain itu, beberapa karyanya juga dimuat di berbagai surat kabar, yakni “Warna Ungu” (Kompas, 2004), “Perempuan Abu-Abu” (Jawa Pos, 2004), “Mulut” (Jawa Pos, 2005), “Ini Tidak Gila” (Media Indonesia, 2006), “Malam-Malam Nina” (Jawa Pos, 2006, “Toast” (Jawa Pos, 2006), “Orasis” (Suara Merdeka, 2006), “Anak Anjing Berkepala Kambing” (Pikiran Rakyat, 2006), “Bayi Ke Tujuh” (Tabloid Nova, 2006), “Rumah Tanpa Cermin” (Pikiran Rakyat, 2006), “Dua Perempuan” (Suara Merdeka, 2006), dan “Tentang Musim” (Jawa Pos, 2006).

Lan Fang meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, 41 tahun. Ia tutup usia pada 25 Desember 2011 di RS Mount Elizabeth akibat penyakit kanker yang telah lama diidapnya.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

H.U. Mardi Luhung, Sastrawan dari Kota Jenang Ayas

Penyair lulusan Fakultas Sastra Universitas Jember ini memiliki nama sapaan Hendry. Sehari-hari, Pria yang lahir di Gresik, 5 Maret 1965 ini adalah seorang guru bahasa dan sastra salah satu sekolah di Gresik. Karyanya banyak tersebar di berbagai media, seperti Kalam, Surabaya Pos, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Hai, Kuntum, Tebuireng, Memorandum, Kolong, Teras, Buletin DKS, Kidung DKJT, Karya Darma, dan Jurnal Selarong. Puisi-puisi Mardi Luhung dimuat dalam (1) Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997); (2) Memo Putih (2000); (3) Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2003); (4) Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (Horison, 2002); (5) Bapakku Telah Pergi (BMS, 1995); (6) Bertandang Dalam Proses (TUK, 1999); (7) Mimbar Penyair Abad 21 (DKI, 1996); (8) Birahi Hujan (DKJ, Akar, Logung, 2004); dan (9) Living Together (Kalam, 2005). Dalam dunia drama, Mardi Luhung juga memiliki karya, yaitu berjudul Tumpat (1993), Transaksi (1994), dan Dari Tanah Kembali ke Tanah (1994). Terdapat juga buku puisi tunggalnya, yaitu (1) Terbelah Sudah Jantungku (1996); (2) Wanita yang Kencing di Semak (2002), dan buku puisi terbaru Ciuman Bibirku yang Kelabu diterbitkan oleh Akar Indonesia, Yogyakarta (2007). Mardi Luhung pernah memenangi Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diselenggarakan Pusat Bahasa (1999). Selain diundang menjadi narasumber di banyak kegiatan, Mardi Luhung juga mengikuti program penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) di bidang puisi (2002), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), International Literary Biennale (2005), dan diundang dalam Festival Seni Yogyakarta XVIII (2006).

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Herry Lamongan, Sastrawan dari Kota Soto Lamongan

Nama sebenarnya adalah Djuhaeri. Namun, ia lebih akrab dipanggil Herry Lamongan. Lelaki kelahiran Bondowoso, 8 Mei 1959 ini merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Ismail (almarhum), seorang pensiunan polisi (lahir tahun 1930). Ibunya bernama Sukarsih, kelahiran Jember 1933. Herry menikah dengan Ashabul Maimanah, Ama.Pd. kelahiran Gresik, 26 September 1960, yang dinikahinya pada tanggal 8 April 1987.

Bakat menulis Herry berawal dari kegemaran menulis buku harian, mencatat berbagai peristiwa yang terjadi setiap hari, kemudian berkorespondensi dengan banyak kawan di seluruh Indonesia. Kemudian ia ingin menggubah puisi sendiri untuk dipublikasikan/dikirimkan ke media-massa cetak (baik itu koran maupun majalah lokal dan ibu kota). Naskah pertama Herry termuat di koran Eksponen tahun 1983 (Yogyakarta), tanpa mendapatkan honorarium. Hingga kini pekerjaan tersebut terus dilakukan: mencatat, merevisi naskah lama, kemudian mengirimkannya untuk dipublikasikan. Dalam berkorespondensi itu, ia bertemu dengan komunitas HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara) yang berpusat di Mataram, dengan ketuanya Putu Arya Tirtawirya. Melalui HP3N inilah, namanya sebagai penyair diakui oleh komunitas sastra seIndonesia. Di Jawa Timur, ada anggota HP3N selain Herry Lamongan, yaitu Ang Thek Khun dan Aming Aminoedhin (Surabaya), Tan Tjin Siong (BatuMalang), Surasono Rashar (Lumajang), dan Yani Aminoedhin (Jember), Herry bersekolah di Sekolah Dasar di Lamongan (lulus 1972), SLTP di Lamongan (lulus 1975), SLTA di Tuban (lulus 1979), dan lulus sarjana S-1 Universitas Islam Darul Ulum Lamongan (2004).

Pendidikan non-formal yang pernah diikuti Herry Lamongan antara lain: Lokakarya Khusus Deklamasi dan Baca Puisi, Kursus Karang-Mengarang & Teknik Penulisan Fiksi, Pelatihan Seniman Teater Jawa Timur. Riwayat latar belakang pekerjaan Herry Lamongan tidak banyak; sejak tahun 1979 hingga 2005, ia menjadi seorang guru sekolah dasar di Lamongan. Dalam dunia sastra, Herry Lamongan banyak aktif di kegiatan komunitas sastra, antara lain HP3N Jatim (1985—1990), PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tahun 1991—1994, Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) tahun 2000—2007, DKL (Dewan Kesenian Lamongan) tahun 2003—2007. Tidak hanya aktif di komunitas sastra Lamongan dan Jawa Timur, Herry juga berkalikali menjadi juri lomba tulis dan baca puisi di tingkat Kabupaten Lamongan maupun Jawa Timur. Kumpulan puisinya bersama rekan antara lain: Sang Penyair (1986), Lamat (1987), Surabaya Kotaku (1989), Jejak (1991), Semangat Tanjung Perak (1992), Malsasa 1991, 1992, l994, 1996, 2000, 2005, Bunga Rampai Bunga Pinggiran (1995), Memo Putih (2000), Bulan Merayap (2004), Lanskap Telunjuk (2004), Duka Atjeh Duka Bersama (2005), Khianat Waktu (2006), dan banyak lagi. Penghargaan kesusastraan yang pernah diraih adalah penulis terbaik versi Sanggar Minum Kopi Denpasar (1989), Pemakalah Festival Puisi di Batu-Malang (1990), Penulis Gurit terbaik versi Sanggar Triwida (1995). Herry Lamongan beserta keluarga beralamat di Jalan Madedadi VI/36 Perumahan Made, Lamongan 62251. Dia bisa dihubungi melalui telepon (0322) 315132.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Esmiet, Sastrawan dari Tanah Blambangan

Sastrawan dari Banyuwangi ini memiliki nama asli Sasmito. Esmiet lahir di Kasihan, Dlanggu, Mojokerto, pada 20 Mei 1938. Masa kecil Esmiet dilalui dengan keprihatinan karena pada saat itu merupakan awal Perang Dunia II. Pendidikan SR diselesaikannya di Mojokerto, lulus tahun 1952. Setelah itu, Esmiet melanjutkan ke SGB di Surabaya (1957) dan bekerja sebagai guru SR di Kabupaten Mojokerto. Tidak berapa lama Esmiet pindah ke Banyuwangi sebagai guru SD Sempu, Genteng. Sejak saat itu, Esmiet menetap dan menjadi penduduk Banyuwangi. Ia dan keluarga tinggal di Jalan Merapi 74, Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur.

Tahun 1957, Esmiet menikah dengan Sulistiyana atau So Li Nio, seorang gadis keturunan Tionghoa beragama Islam. Usia perkawinan mereka tidak lama dan tahun 1960 Esmiet menikah dengan Hariwati dan dikaruniai sembilan orang putra. Meskipun sudah berkeluarga, Esmiet melanjutkan pendidikannya ke SPG di Banyuwangi dan lulus tahun 1971. Tahun 1982, Esmiet mencoba kuliah di IKIP Banyuwangi, tetapi gagal. Esmiet banyak diundang sebagai pembicara dalam berbagai pertemuan ilmiah, di antaranya Sarasehan Jati Diri Sastra Daerah (Bojonegoro, 1984), Kongres Bahasa Jawa (1991, 1996, 2001), Temu Budaya Jawa Timur dan Bali (Jember, 1988), Kongres Kebudayaan (1991), Sarasehan Bahasa dan Sastra Jawa (Yogyakarta, 1994), dan Seminar Kritik Sastra dan Temu Pengarang Sastra Jawa (1998). Selain itu, Esmiet beberapa kali memberikan ceramah tentang sastra Jawa di perguruan tinggi luar negeri, misalnya di Leiden, Belanda, bersama Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo dan di ANU, Canberra, Australia.

Karier Esmiet terus menanjak. Ia tidak hanya menjadi guru, tetapi juga Kepala SD Sempu I, Genteng, Banyuwangi. Tahun 1978, Esmiet diangkat menjadi penilik kebudayaan. Tahun 1981 ia diangkat menjadi penilik TK dan SD. Selain itu, ia mengajar kesenian di SMA Negeri 1 Genteng, Banyuwangi. Esmiet pensiun tahun 1992 setelah mengabdi selama 35 tahun.

Selain sebagai pendidik, Esmiet pernah menjadi redaktur majalah Jaya Baya (1964). Esmiet juga aktif di organisasi politik. Awal tahun 1960-an ia menjadi anggota PNI, kemudian tahun 1962 menjadi ketua PNI Ranting Jambewangi, Genteng. Pada tahun 1965 ia dipercaya sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Genteng, Banyuwangi. Bahkan, tahun 1966 Esmiet diangkat menjadi anggota DPRD Banyuwangi. Karier Esmiet sebagai anggota dewan memengaruhi proses kreatif karyanya, di antaranya Wong Jompo iku Mati Ping Telu, Geter Desember, dan Sawutuhe ing Birune Langit (ketiga novel ini belum diterbitkan) juga Tunggak-Tunggak Jati (1977). Selepas berkiprah di organisasi politik, Esmiet aktif di bidang kebudayaan dan menjadi ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Komda Jatim. Pada 20 Mei 1974 Esmiet mendirikan Sanggar Parikuning.

Kiprah Esmiet dalam sastra Jawa bermula tahun 1956 dan setahun kemudian cerkaknya yang berjudul “Semanding” dimuat dalam Tjrita Tjekak. Bukti bahwa karya Esmiet bermutu tampak dari seringnya mendapat penghargaan dalam berbagai sayembara, yaitu: “Satus Pitung Puluh Lima”, juara I penulisan cerkak majalah Jaya Baya (1971); “Kamar” (1978), penghargaan juara I cerkak majalah Jaya Baya; penghargaan dari PKJT Surakarta untuk cerkak “Diseblakake Ping Pitu” (1976) dan “Angin Puputan Kedhung Srengenge” (1978); novel Nalika Langite Obah (1997) dianugerahi hadiah sastra Rancage tahun 1998; dan tahun 2001 dianugerahi penghargaan Rancage atas jasa-jasanya mengembangkan bahasa dan sastra Jawa. Beberapa karya Esmiet, yakni: Sambung Tuwuh (bacaan anak, 1979); bacaan remaja Nrajang Selane Ampak-Ampak (1967), Pistule Prawan Manis (1981), Lampu Abang (1981), dan Jaring Kuning (1982); novel dewasa Tunggak-Tunggak Jati (1977), Oyot Mimang (1978), Gapura Putih (1979), Jaring Kuning (1979), dan Nalika Langite Obah (1997); dan, novel panglipur wuyung berjudul Randha Teles, Gedhang Kepok Gedhang Ijo, Pistule Prawan Manis (1965), Lampu Abang (1966), dan Notes Kuning (1966).

Esmiet tidak hanya mengarang karya sastra berbahasa Jawa, tetapi juga sastra Indonesia. Beberapa cerpen berbahasa Indonesia dimuat dalam majalah Stop, Senang, Liberty, POP, dan Detektif & Romantika. Konon sampai tahun 1991 ia telah menulis 2.056 cerpen, 138 cerbung, dan 12 novel.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Bagus Putu Parto, Sastrawan dan Dramawan dari Kota Patria

Bagus Putu Parto, sastrawan dan dramawan kelahiran di Blitar, 2 Juni 1967, memiliki nama asli Bagus Prabowo. Motivator geliat sastra di Blitar inilah yang memperkenalkan istilah ‘sastra pedalaman’. Istilah ini dia perkenalkan saat diskusi pada peluncuran Semangat Tanjung Perak sebuah antologi puisi penyair Surabaya dan Jawa Timur pada tahun 1992 di Taman Budaya Jawa Timur. Kesastraan modern (Indonesia) di Blitar mulai eksis pada dekade 90-an adalah “Lingkar Sastra Blitar”. Lingkar Sastra Blitar didirikan oleh Bagus Putu Parto, Dwi Aprianto, dan Iwung Handayani pada tanggal 1 Oktober 1991. Karena merasa ruang geraknya terlalu sempit pada genre sastra, sehingga pada tanggal 14 Februari 1992, Lingkar Sastra Blitar mengubah nama menjadi Barisan Seniman Muda Blitar.

Sastrawan dan dramawan Bagus Putu Parto memiliki nama asli Bagus Prabowo lahir di Blitar, 2 Juni 1967. Ia mendalami dramaturgi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1991). Tahun 1991 ia mendirikan dan sekaligus memimpin Barisan Seniman Muda Blitar (BSMB). Pada tahun 2000 ia mendapat tambahan jabatan sebagai Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Beberapa karya teaternya antara lain “Drama Kolosal Pemberontakan Peta”, “Perang Sunyi”, “Grebeg Pancasila”, dan beberapa lakon teater anak. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media. Cerpen-cerpennya yang telah dibukukan, antara lain Semar (1992), Seusai Baratayuda (1993), Lima Cerpen Pralakon (1995), dan Muktamar Para Jin (2001). Bagus juga menulis biografi Laki-laki Bersarung Melangkah ke Pendapa (2000). Bagus termasuk salah seorang penggerak Revitalisasi Sastra Pedalaman—gerakan yang pernah mewarnai isu sastra nasional di pertengahan tahun 90-an. Gerakan ini pada dasarnya ingin meniadakan Jakarta sebagai sentral sastra di tanah air.

Gaung Revitalisasi Sastra Pedalaman di Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari peranan Bagus Putu Parto. Ia adalah seorang sastrawan sekaligus motivator geliat sastra di Blitar. Istilah ‘sastra pedalaman’ pertama kali dimunculkan oleh Bagus Putu Parto saat diskusi pada peluncuran Semangat Tanjung Perak sebuah antologi puisi penyair Surabaya dan Jawa Timur pada tahun 1992 di Taman Budaya Jawa Timur. Dengan gerakannya itu, Bagus menerbitkan dalam bentuk yang sangat—buku-buku seperti antologi cerita pendek Nyanyian Pedalaman I pada tanggal 14 Februari 1993. Buku ini diterbitkan oleh Barisan Seniman Muda Blitar. Dalam buku tersebut, Suparto Brata memberikan pengantar berjudul “Panorama Sastra di Tangan Tuan”. Ia memberikan apresiasi yang tinggi terhadap semangat spontan pemprakarsa penerbitan buku ini. Antologi yang memuat cerita pendek karya empat sastrawan Jawa Timur, yaitu “Hanya yang Bersih Dapat Menyatu dengan Udara” (Bonari Nabonenar), “Seusai Baratayudha” (Bagus Putu Parto), “Eksekusi” (Kusprihyanto Namma), “Aku Termasuk Kategori Anak Bandelkah Aku?” (W. Yudhie), serta satu cerita pendek “Cahaya” karya seorang cerpenis Yogyakarta, Suwardi Endraswara. Ini dianggap merupakan titik awal semangat geliat penerbitan karya sastra di daerah (pedalaman) yang menafikan peran Surabaya sebagai pusat kesastraan di Jatim.

Dua cerita pendek Bagus Putu Parto berjudul “Semar” dan “Dokterandus Mul Gugat” termuat dalam antologi sastra tiga kota Bias Luka. Tahun 1994, Bagus, melalui Barisan Seniman Muda Blitar, kembali menerbitkan sebuah Antologi Cerita Pendek Nyanyian Pedalaman II. Buku yang diberi kata pengantar oleh Beni Setia (Caruban, Madiun) ini memuat empat cerita pendek karya empat sastrawan Jawa Timur yaitu “Tanding” karya Bagus Putu Parto (Blitar), “Maling” karya Bonari Nabonenar (Trenggalek), “Dracula” oleh Kusprihyanto Namma (Ngawi), dan “Wibawa” karya Tan Tjin Siong (Dampit). Peluncuran buku ini dilakukan pada tanggal 6 Februari 1994 di Blitar. Kesastraan modern (Indonesia) di Blitar dapat dikatakan mulai eksis pada dekade 90-an adalah “Lingkar Sastra Blitar” yang mengawali geliat sastra tersebut. Lingkar Sastra Blitar didirikan oleh Bagus Putu Parto, Dwi Aprianto, dan Iwung Handayani pada tanggal 1 Oktober 1991. Kelompok kesenian ini didirikan sebagai upaya menggali potensi serta menciptakan komunitas sastra dan teater yang selama ini masih terbatas berkutat dalam pengajaran di sekolah maupun kampus. Langkah awal yang dilakukan komunitas ini adalah menerbitkan buletin Lingkar Sastra Blitar. Karena merasa ruang geraknya terlalu sempit terbatas pada genre sastra bersama dengan pementasan drama kolosal Pemberontakan Peta tanggal 14 Februari 1992, Lingkar Sastra Blitar mengubah nama menjadi Barisan Seniman Muda Blitar.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Aming Aminoedhin, sang “Presiden Penyair Jawa Timur”

Aming Aminoedhin. Penyair dan penggurit kelahiran Ngawi ini memiliki nama asli Mohammad Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 Desember 1957, Aming merupakan penggagas acara baca puisi peduli “Perang Irak” dan pentas seni kemanusiaan “Duka Atjeh Duka Bersama” di Taman Budaya Jawa Timur. Karya puisinya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, dan sebagainya.

Aming adalah anak daripasangan A.H. Aminoedhin (lahirtahun 1918), seorang guru agamaIslam di sebuah SMPN, danSoeparijem (lahir tahun 1925)seorang guru di SDNRonggowarsito 2 Ngawi.Anak kelimadari delapan bersaudara ini lahir dalam keluarga pecinta seni. Bakat menulisAming didapat dari lingkungankeluarganya. Salah seorangpamannya merupakan salah satusastrawan tokoh Angkatan ’66versi HB Jassin, bernama M.Alwan Tafsiri.Duakakak kandungnya juga seorangpenulis cerpen, puisi, dan esai,yaitu M. Har Harijadi (alm) danLia Aminoedhin. Aming Aminoedhin menikahdengan Sulistyani Uran. Pasangan inidikaruniai empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan.Amingmenempuh pendidikannya di sekolahdasar di SDN Ronggowarsito 2Ngawi (lulus 1970), sekolahmenengah sekolah menengahpertama di SMPN 1 Ngawi (lulus1973), dan sekolah menengahatas di SMAN Ngawi (lulus 1976).Selepas SMA, ia melanjutkan keFakultas Sastra, Jurusan Bahasadan Sastra Indonesia, UniversitasSebelas Maret Surakarta (1977).Gelar sarjana muda (B.A.)diraihnya tahun 1982. Sebelumsarjana muda diraih, ia sempat kuliah D3 satu tahun pada jurusanyang sama, di fakultas keguruan UNS,dengan mendapatkan ijazahDiploma dan Akta III, pada tahun1981. Aming meraihgelar sarjana sastra (S1), JurusanBahasa dan Sastra Indonesia UNS pada tahun 1987.

Tahun 1984, Aming diangkat menjadi PNS di Kantor Wilayah Departemen Pendidikandan Kebudayaan Propinsi JawaTimur. Ia bekerja di SubbagianPenerangan, Bagian Tata Usaha,pada bidang penerbitan majalahbulanan Media sebagai pemimpinredaksi. Ia pernah juga ikutmembidani dan mengelola keredaksionalan Tabloid Bekal, koranpelajar Jawa Timur yangdiprakarsai Harian Surabaya Postdan Kanwil Depdikbud JawaTimur. Ikut pula menjadi RedaksiMajalah Kebudayaan Kalimas diSurabaya, menjadi Staf RedaksiBuletin DKS (Dewan KesenianSurabaya), dan Majalah MemoridaKanwil Depdikbud Jawa Timur.

Dalam bidang seni dan budaya, Aming Aminoedhin, pernah menjadi koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) di PPIA tahun 1987—1990, koordinator Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur tahun 1985— 1990, dan sebagai koordinator Forum Apresiasi Sastra (Forasamo), pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (2004—sekarang). Periode tahun 1995—sekarang Aming masih menjadi pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Dalam PPSJS, ia membidani terbitnya Teplok Dluwangwarta PPSJS sebagaipemimpin redaksi. Ia pernahdikirim mewakili Jawa Timurdalam Pertemuan SastrawanNusantara XII di Singapura padatahun 2003. Sejak tahun 2000,Aming dipindahkan dari KanwilDepdikbud Jawa Timur ke BalaiBahasa Surabaya.Ia pernah menjadi aktorterbaik Lomba Drama se-JawaTimur 1983 di Surabaya. Saat ituia bermain dengan kelompokTeater Persada Ngawi, pimpinanMh. Iskan. Komunitas TeaterPersada inilah yang memberikanbanyak masukan inspirasi dalamberkarya sastra, utamanya menulis puisi dan bermain drama.Aming merupakan penggagas Malam Sastra Surabaya(Malsasa). Ia juga menggagasacara baca puisi peduli “PerangIrak” di Taman Budaya JawaTimur dan pentas seni kemanusiaan “Duka Atjeh Duka Bersama”di Taman Budaya Jawa Timur.

Sebagai penulis puisi, Aming pernah mengikuti Temu Penyair Jawa Tengah di Semarang (1983), Temu Penyair Indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987), dan ikut memberikan pelatihan baca puisi dan juga menjadi juri berbagai macam kejuaraan dan lomba di berbagai kota di Jawa Timur, antara lain Surabaya, Batu, Lamongan, Lumajang, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung, Probolinggo, dan sebagainya. Karya puisinya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post, dan sebagainya. Sedangkan majalah yang pernah memuat puisinya antara lain Gadis, Putera dan Puteri Indonesia, Pusara, Bende, Media, Zaman, Horison, dan Majalah Kebudayaan Basis. Kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain, di antaranya: Tanah Persada (penyunting), Teater Persada Ngawi, 1983), Wajah Bertiga (penyunting), Sintarlistra Surabaya, 1987), Tanah Kapur (penyunting), Komunitas Teater Persada Ngawi, 1990), Kereta Puisi (kumpulan puisi, Dewan Kesenian Surabaya, 1990), Burung-Burung (penyunting), Sintarlistra Surabaya, 1990), Pagelaran, Surabaya Kotaku (penyunting), Dewan Kesenian Surabaya, 1990), Malsasa ’91 (penyunting), Dewan Kesenian Surabaya & Sufo, 1991), Malsasa ’92 (penyunting), Penerbit Sintarlistra, 1992), Semangat Tanjung Perak (penyunting, 1992), Malsasa ‘94 (penyunting, Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 1994), Bunga Rampai Bunga Pinggiran (penyunting, antologi puisi, 1995), Malsasa ’96 (penyunting, Dewan Kesenian Surabaya, 1996), Tanah Rengkah (penyunting, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1997), Sketsa Malam (kumpulan puisi, dalam proses, 2000), Malsasa 2000 (penyunting, Balai Bahasa Surabaya, 2000), Omongan Apa Wae (penyunting kumpulan puisi, Taman Budaya Jawa Timur, 2000), Berjamaah di Plaza (kumpulan puisi, Mandiri Press Mojokerto, 2000), Mataku Mata Ikan (kumpulan puisi, DKJT, 2004), Embong Malang (kumpulan puisi, proses cetakan, 2005), Memutih Putih Begitu Jernih (Forum Sastra Bersama Surabaya, 2008), Sajak KunangKunang dan Kupu-Kupu (kumpulan sajak anak-anak, Forum Sastra Bersama Surabaya, 2008), Husst, Nyenyet, Reportase Sunyi, Memo Putih, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, Tanpa Mripat dan Kutha Surabaya.

Aming Aminoedhin bertempat tinggal di Perumahan Puri Mojobaru AZ-23, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Pos-el amri.mira@gmail.com, atau amingaminoedhien.blogspot.com. (WR)

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi

Abdullah Fauzi, Penyair “Dukun Santet” dari Blambangan

Abdullah Fauzi atau akrab dipanggil Fauzi atau Kang Ujik, lahir di Pengantingan, Banyuwangi 22 Juli 1965. Fauzi merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Mohamad Hisyam dan Wadiah. Sejak 1987, Fauzi menjadi guru Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam di Banyuwangi. Tahun 1988, ia menjadi staf tata usaha SMP Sunan Giri 1 Banyuwangi. Selain itu, ia bekerja sebagai pewarta di Radio Khusus Pemerintah Daerah Banyuwangi. Sebagai wartawan, ia pernah bekerja pada surat kabar Bali Post (1992), Banyuwangi Pos (1998), dan Gema Blambangan (1999). Saat ini, Fauzi adalah staf humas dan protokol Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Dalam komunitas sastra di Banyuwangi, Fauzi duduk pada komite teater Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Fauzi konsisten dalam berkarya, yakni menggunakan bahasa Using.

Sampai saat ini telah banyak karya sastra yang dihasilkan, di antaranya Undharasa (2000) antologi puisi Using yang diterbitkan DKB, kumpulan puisi Dubang (2002) yang diterbitkan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, dan Sastra Campursari (2002) yang diterbitkan Taman Budaya Jawa Timur. Khusus untuk Dubang, puisi ini menjadi bacaan wajib dalam berbagai lomba yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Karya Fauzi juga tersebar di berbagai surat kabar; di Surabaya Post antara lain “Cul” (1992), “Dadia Wis” (1992), “Nguber Angin”, Angin Impen” (1995), “Kali Lo, Banyu Susu” (1996), “Cempaka, Cekak” (1996), “Uler Kambang”, “Panjer Kiling”, “Wadal Suket” (1997), “Jejeg”, “Keneng Gerang”, “Wong Tani”, “Undha Sensren”, “Undha Ketepis”, dan “Entekentekan” (1998); terbit pada Banyuwangi Post antara lain, “Jejega”, “Manuk Emprit”, “Anggerangger”, “Isun Mulih”, dan “Kembang Telon” (1999); terbit di Radar Banyuwangi antara lain “Wayah Lingsir” dan “Kancil Pilek” (2001); di harian Jawa Pos antara lain “Dubang”, “Aja Pakis Paria Bain”(2002).

Selain menggunakan bahasa Using, Fauzi juga menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, misalnya cerpen “Inah Jadi Lakon” (1998), antologi puisi Detak (1997), puisi “Gandrung” (2001), antologi puisi Wirid Muharram (2001), antologi puisi Dzikir (2001), Menara 17 (2002), Gayuh, dan Tilawah (2003). Kang Ujik pernah pula memenangi juara baca puisi Using, lomba dongeng Using, dan juara lomba baca wangsalan pada tahun 2001. Penghargaan yang pernah didapat adalah sebagai pengabdi seni dan budaya daerah dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi (2002). Penyair “substantif” ini menulis puisi, cerpen, esai yang tersebar di berbagai media massa, di antaranya Tabloid Gema Blambangan, Gandrung Post, Banyuwangi Post, koran Banyuwangi (Redaksi), majalah Budaya Seblang (Redaktur), majalah Budaya Jejak, dan lain-lain. Di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS), penyair “Dukun Santet” ini aktif di berbagai lembaga seni dan budaya sekaligus menjadi Pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Komite Teater, Pengawas Yayasan Pusat Dokumentasi Budaya Banyuwangi (PDBB), Wakil Ketua Kelompok Peduli Using (Kepus), Pimpinan Redaksi Buletin Baiturrahman (2000—2001) dan sampai sekarang sebagai tim redaksi sekaligus menjadi Koordinator Humas dan Informasi Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa TimurBalai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Sirikit Syah, Sang Tokoh Kebebasan Pers

Sirikit Syah tergolong cerpenis koran karena cerpen-cerpennya terbit lebih dulu di koran sebelum diterbitkan menjadi buku dan menunjukkan keterikatannya de-ngan aturan koran, yaitu pendek dan masalah-masalahnya tidak jauh dari masalah yang diberita-kan koran. Kumpulan cerpen pertamanya berjudul Harga Perempuan dan diterbitkan oleh penerbit Gorong-gorong Budaya, Jakarta pada tahun 1997. Kumpulan cerpennya yang ke-2 berjudul Sensasi Selebriti diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta pada tahun 2007.

Sirikit lahir di Surabaya pada tanggal 28 Juli 1960. Ia anak ke-7 dari dua belas bersaudara. Sirikit berasal dari suku Jawa dan beragama Islam. Pendidikan formalnya sejak SD sampai dengan SMA ia selesaikan di Surabaya. Selepas SMA, ia meneruskan ke Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Negeri Surabaya dan lulus pada tahun 1984 dengan skripsi ”Cerpen-cerpen Ernest Hemingway” di bawah bimbingan Budi Darma.

Sirikit menolak tawaran menjadi dosen di almamaternya dan memilih bergabung dengan Surabaya Post sebagai wartawan. Pada tahun 1988, ia mendapat beasiswa dari Nihon Shimbun Kyokai (NSK) Jepang. Ketika sudah menduduki jabatan redaktur pada tahun 1990, Sirikit beralih ke SCTV dan memulai kariernya dari bawah kembali. Kariernya di SCTV berkembang mulai dari pengkliping pemberi-taan, staf humas, sekretaris, manager produksi, penulis script, reporter, produser hingga koordinator liputan Indonesia Timur. Tahun 1996, Sirikit berhenti dari SCTV dan menjadi koresponden  The Jakarta Post serta konsultan di Centris (Centre for Television Research and Inovations).

Tahun 1994—1995, ia mendapat beasiswa Hubert H. Humphrey dari pemerintah Amerika Serikat untuk kuliah dan magang di bidang jurnalisme televisi di AS. Ia kuliah di Syracuse University, Syracuse, New York kemudian magang di stasiun lokal WHTV-5 yang berafiliasi dengan CBS dan di CNN biro Washington DC. Sirikit adalah wanita karier yang banyak berkecimpung dalam dunia kewartawanan.

Di Jawa Timur namanya tidak dapat dilepaskan dari dunia komunikasi. Tahun 1996, ia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Media Watch yang mengamati dan mengkaji liputan-liputan dan tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai media. Kajian itu diterbitkan setiap bulan dalam bentuk newsletter. Ia juga menjadi penggerak peace journalism di Jawa Timur. Untuk itu, ia mendapat penghargaan dari lembaga asal Jepang, Ashoka pada tahun 2002. Ia menjadi ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur tahun 2004.

Di samping sebagai warta-wan dan sastrawan, ia juga dikenal sebagai budayawan, seniman, dosen, dan ibu rumah tangga. Ia banyak aktif di bengkel-bengkel kesenian. Ia pernah menjabat Ketua Bengkel Muda Surabaya, Ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, dan Ketua Presidium Dewan Kesenian Surabaya. Dalam dunia akademik, Sirikit juga tercatat pernah menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) dan menjadi dosen di Universitas Dr. Soetomo. Ia menikah dengan Choirul Anam dan dikaruniai dua putra, Aldila Kirana dan Bintang Choirulputra.

Sirikit sudah menyukai dunia tulis menulis sejak sekolah dasar. Kemampuannya menulis berkembang baik semasa SMA karena banyak membaca dan bergaul dengan para seniman. Ia aktif menulis ketika mahasiswa di FPBS IKIP Surabaya. Ia pernah memenangkan lomba penulisan cerpen antarmahasiswa FPBS se-Indonesia tahun 1979—1980.

Peran ganda Sirikit sebagai wartawan dan sastrawan tergam-barkan dalam cerpen-cerpennya yang juga meramu dua unsur yang tidak selamanya sama, yaitu kontemporer dan kontekstual. Cerpen-cerpen Sirikit memang cocok untuk koran karena memenuhi hakikat koran, yaitu berita. Sirikit mengangkat sisi human interest dari berita-berita di koran, seperti perselingkuhan, pelecehan, dan ketidakadilan.

Sirikit Syah meninggal dunia pada 26 April 2022 karena kanker yang telah lama menggerogoti tubuhnya.

 

Sumber: Roesmiati, Dian. 2012. Ensiklopedia Sastra Jawa Timur. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur