Yunani

Yunani tergolong perempuan pengarang sastra Jawa yang produktif. Cerita bersambungnya telah dimuat di berbagai media massa berbahasa Jawa dan tidak sedikit yang sudah terbit dalam bentuk buku. Yunani lahir di Tuban tanggal 2 Februari 1946 dengan nama Sri Wahyuni. Ia adalah anak kelima yang lahir dari pasangan R. Ajeng Soewarni dan R. Soediyono yang berasal dari Solo. Pendidikan formalnya adalah SR (1952— 1958), SMP (1958—1961), SMA (1961—1964) yang ditempuh di kota kelahirannya, Tuban. Setelah lulus dari SMA, ia melanjutkan ke pendidikan tinggi (keguruan) di kota Bojonegoro. Ia mengajar di SMP Nusantara Cepu tahun 1965— 1966. Tahun 1966, ia hijrah ke Surabaya dan menggeluti dunia swasta selama setahun. Sejak tahun 1980, ia bekerja tetap sebagai wartawan dan redaktur mingguan bahasa Jawa, Jaya Baya, hingga sekarang. Ia menikah dengan Ismail Hadi Nugraha dan dikarunia tiga orang anak. Media yang pertama kali memuat tulisannya adalah Jaya Baya. Kemampuannya di bidang menulis diakuinya sebagai karunia Allah dan bakat alam. Kedua faktor itu dikembangkan dengan baik dan dalam perjalanan proses kreatifnya, ia mengaku mendapat bantuan dari Balai Bahasa Yogyakarta dan media berbahasa Jawa yang telah menerbitkan karya-karyanya. Pada umumnya, karyakaryanya berupa novel, antara lain Dokter Wulandari (1998, Balai Pustaka), Katresnan Lingsir Sore (2000, Citra Jaya Murti Surabaya), Rumpile Ati Wanita, Ayu Sri Rahayu, Sedhulur Lanang, Sumilaking Pedhut Klawu, Prahara I, Prahara II, Pengarep-Arep Sacuwil ing Tlatah Mencil, Emas Putih, Mega Klawu Ing Wulan Penganten, Cemara-Cemara Puskesma, Sumiliring Angin Padesan, Kadho Kagem Ibu, Rengat-Rengat Ing Kaca Bening, Bebanten, Ibu, Kadurakan ing Sekar Putih, Rembulan ing Dhuwur Kutha, Putu, dan Angin Saka Paran. Adapun karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, antara lain berupa cerita bersambung adalah “Menggapai Cinta yang Tertinggal” (Surabaya Post, 1992). Selain itu, ada juga karya berbahasa Indonesia berupa cerita untuk anak-anak seperti Panji Kelaras, Perjalanan ke Timur, Kartini Kecil yang diterbitkan oleh Citra Jaya Murti Surabaya. Adapun karyanya yang berupa geguritan dan terbit dalam antologi bersama, antara lain: (1) “Iki Tresnaku”, “Jiarah”, “Paceklik”, dalam Negeri BayangBayang (Festival Seni Surabaya, 1996); (2) “Bedugul”, “Ubud”, “Jojogan”, “Tuban”, “Kanggo Daddy”, “Kanggo Priya Kang Nyundhukake Kembang Mlati ing Rambutku”, “Wis Ora Ana Maneh Kanggo Kowe”, “Chrysant”, “Bougenville”, dan “Amarillys” dalam Kalung Barleyan (LPPM IKIP Surabaya); dan, (3) “Memori” dalam Drona Gugat (Bukan Panitia Parade Seni WR Supratman, 1995).

Wina Bojonegoro

Perempuan bernama asli Endang Winarti ini biasa memakai nama pena Wina Bojonegoro dalam tulisannya. Ia lahir di Bojonegoro 10 Agustus 1962 dan bekerja sebagai sekretaris di PT. Telkom Surabaya yang beralamat di Jalan Ketintang 156 Surabaya 60231. Karya-karya Wina yang pernah dimuat, antara lain “Orang-orang Tersayang” (majalah Pertiwi, 1988), “Takdir” (Surabaya Post, 1988), “Surat” (Jawa Pos, 1999), “Namaku Giri” (Surabaya Post, 2001), “Miss Markonah” (Jawa Pos, 2003), “Arimbi Vs Basuki” (Jawa Pos, 2002), “Musim Semi di Yunani” (Jawa Pos, 2002), “Perempuan Yang Menanti” (Jawa Pos, 2001), “Perjalanan Terakhir” (Jawa Pos, 2004). Selain itu, dia juga membuat buku kumpulan cerpen Episode Surat Kejantanan (Logung Pustaka, 2005 ). Wina juga pernah menjadi penyunting laman internal Telkom, aktris terbaik dalam Lomba Drama Lima Kota (LDLK) 1988, dan pendiri sekolah keterampilan “Putri Kinasih”.

Widodo Basuki

Widodo Basuki tergolong pengarang sastra Jawa yang produktif. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media berbahasa Jawa, seperti Penjebar Semangat dan Jaya Baya. Meskipun lebih dikenal sebagai penyair, Widodo Basuki juga menulis cerpen, esai, drama, cerita bersambung, dan cerita rakyat untuk anak-anak. Ia sering diundang untuk membacakan puisi-puisinya, terlibat dalam pementasan drama, dan menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan sarasehan. Dalam tulisannya, kadang-kadang ia menggunakan nama Liesty W, W. Basuki, dan Widodo B. Widodo Basuki lahir di Trenggalek tanggal 18 Juli 1967. Ia anak ke-5 dari delapan bersaudara. Ibunya bernama Asilah dan ayahnya bernama S. Muchtarom. Ia berasal dari etnis Jawa dan beragama Islam. Widodo Basuki menempuh pendidikan di SD Tawing I (1974—1980), SMP Munungan (1980—1983), dan SMAN I Trenggalek (1983—1986). Setelah lulus dari SMAN I Trenggalek, ia meneruskan ke STK “Wilwatikta” Surabaya (1986—1990) dan lulus dari IKIP PGRI Surabaya (1994—1997) jurusan seni rupa. Ia menikah tahun 1995 dengan Dra. Sri Sulistiani, M.Pd. dosen Bahasa dan Sastra Jawa di Universitas Negeri Surabaya. Ia mempunyai dua anak, yaitu Abhimata Zuhra Pramudita (1997) dan Gupita Zahra Laksmi Mahardhika (1999). Sebelum menjadi wartawan dan redaktur majalah Jayabaya dari tahun 1993 sampai sekarang, Widodo Basuki pernah bekerja sebagai desainer taman PT. Moer Sociates (1991—1992), guru menggambar SD (1987—1991), dan penulis lepas (1987—1993). Karyanya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku, baik sebagai antologi sendiri maupun bersama, antara lain: (1) Gurit Panantang (Bengkel Muda Surabaya, 1993, pernah dibaca di DKS dan aula Deppen Blitar tahun 1993); (2) “Layang Saka Tlatah Wetan”, “Manjing Djroning Dhisket”, “Rembulane Dahpaser” “Tembang ing Sungapan”, “Pitakon” dalam Pisungsung: Antologi Guntan 6 Penyair (1995); (3) “Episode Sawise Iku” dalam Drona Gugat (Bukan Panitia Parade Seni WR Supratman, 1995); (4) Layang Saka Paran; (5) “Jagir Wonokromo Surup Surya” “Layang Saka Tlatah Sumbreng” “Pithakon ing Pethit Ombak” dalam Kabar Saka Bendulmrisi: Kumpulan Guritan (PPSJS, 2001); (5) “Nyuwun Praune Anakku”, “Kadurakan ing Kidul Srengenge” dalam Omonga Apa Wae: Kumpulan Puisi dan Guritan (Festival Cak Durasim, 2000); (6) “Tembang Lemah Ngare”, “Bebanteng Majapahit”, “Kadurakan ing Kidung Srengenge”, dalam Negeri Bayang-Bayang (Festival Seni Surabaya, 1996); (7) “Megatruh ing Tengah Wengi”, “Nalika Bende Tinabuh” dalam Prosesi Kolaborasi Ruwatan Balai Pemuda (Seni Multimedia Komunitas Seniman Surabaya, 1998); (8) “Mbatik”, “Kadurakan ing Kedhung Srengenge”, “Medhitasi Godhong Gedhang: Pelukis Agus Koching” dalam Gerimis Lembayung: Puisi, Essay, dan Geguritan; (9) Kitir Tengah Wengi (terbitan sendiri dan dibaca pada acara Semaan Sastra di Galeri DKS); (10) Layang Saka Tlatah Wetan: Antologi Guritan (terbitan sendiri dan dibaca pada Malam Pagelaran dan Diskusi Sastra Daerah di DKJ TIM Jakarta); (11) “Megatruh Tengah Wengi”, “Ublik ing Trotoar” “O, Jogrok”, “Bambar Bunelan” dalam Tes….: Antologi Puisi Penyair Jawa Timur (Taman Budaya Jawa Timur, 1987); (12) Liong, Tembang Prapatan (Taman Budaya Yogyakarta, 1999); (13) Wulan Sandhuwuring Geni (Yayasan Obor Jakarta, 1996); (14) Bandha Warisan, Antologi Dongeng Jawa (SSJY-LKBS, 2001), Bandha Pusaka: Antologi Crita Cekak (SSJY-LKBS, 2001), dan Ayang-Ayang Wewayangan (PPSJS, 1992). Selain itu ada tulisantulisannya yang lain, seperti (1) Menak Sopal dan Buaya Putih (berupa cerita untuk anak, PT Citra Jaya Murni, 1997), (2) Orang-orang Berpeci (berupa naskah drama untuk Bengkel Muda Surabaya tahun 1996), (3) Geger Kali Rungkut (berupa naskah wayang kentrung bersama-sama dengan Bengkel Muda Surabaya tahun 1998) dan tulisan-tulisannya yang berupa cerpen, cerita bersambung, cerita anak-anak, cerita wayang, artikel sastra tersebar di berbagai media, seperti Jaya Baya, Panjebar Semangat, Surabaya Post, Jawa Pos, Surya. Karya-karyanya sering mendapat penghargaan. Penghargaan paling bergengsi yang pernah diterima adalah dari Yayasan Rancage untuk kumpulan puisinya yang berjudul Layang Saka Paran pada tahun 2000. Puisinya yang berjudul “Guritan Pari Sawali” pernah terpilih sebagai juara I versi Kanwil Depdikbud Jawa Timur tahun 1996. Cerpen berjudul “Cak Dul lan Maimanah” adalah karya cerpennya yang memenangkan juara harapan II dari Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) tahun 1998. Cerpennya yang berjudul “Supinah” terpilih sebagai sepuluh besar dalam lomba penulisan cerpen berbahasa Jawa Taman Budaya Yogyakarta tahun 1998 dan dimasukkan dalam antologi Liong: Tembang Prapatan (1999). “Njaga Banyune Sendang” juara I Naskah Dongeng, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta dan Lembaga Kajian Budaya Surakarta tahun 2002. “Kudhi Bujel” juara harapan I lomba menulis cerpen Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta dan Lembaga Kajian Budaya Surakarta 2002). “Lumantar Koperasi, Ndadekake Wong Cilik Bisa Gumuyu” juara I Jurnalistik Perkope-rasian, Depkop-Deppen Jawa Timur tahun 1993. Pada tanggal 24 Juni 1999, ia diundang untuk membacakan puisinya dalam acara gelar sastra daerah oleh Dewan Kesenian Jakarta bertempat di Taman Ismail Marzuki. Tahun 2001, ia menjadi pemakalah dalam Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta dan diundang pada Kongres Internasional Budaya Sunda di Bandung serta terlibat dalam penerjemahan teks klasik dan pesisiran naskah Jawa Lama, Serat Babad Madura. Widodo juga aktif di seni teater Bengkel Muda Surabaya, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, Kelompok Seni Rupa Bermain, mengisi fragmen bahasa Jawa di TVRI, siaran pembinaan bahasa dan sastra Jawa di RRI Surabaya bersama Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, dan mengikuti pameran lukisan dan keramikIa pernah menduduki posisi sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya periode tahun 1998—2003. Di samping itu, ia berusaha memasukkan sastra Jawa dalam kentrung atau naskah drama yang dipentaskan bersama temantemannya di Bengkel Muda Surabaya. Untuk berbagai aktivitas dan perhatiannya pada sastra Jawa modern di Jawa Timur, Widodo Basuki mendapat perhatian dan apresiasi dari Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur berupa Penghargaan Seniman Jawa Timur pada tahun 2004.

Warno

Warno adalah nama yang lazim dipakai dalam dunia kepengarangan. Laki-laki yang bernama lengkap Suwarno, S.Pd., M.M., ini terlahir di desa Ngemplak, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, tanggal 14 Juli 1964. Di dalam dunia kepengarangan, Suwarno menggunakan nama samaran seperti Nano Warnono, Laras Gupitasari, Lilik Endang W, Sontoloyo, dan Mutitah. Alasannya menggunakan nama samaran untuk memberikan perbedaan antara nama yang ia gunakan dalam tulisantulisan formal dengan nama yang ia gunakan dalam dunia kepengarangan. Laki-laki beragama Islam ini telah menyelesaikan pendidikan formal SD tahun 1977 di Ngemplak, SMP tahun 1981 di Baureno, SMU/SPG tahun 1984 di Bojonegoro, Perguruan Tinggi/ IKIP tahun 1998 di Bojonegoro dan Pasca Sarjana tahun 2003 di Surabaya. Ia mulai menulis sejak tahun 1982 di Bojonegoro, dan karya pertama yang dihasilkannya, berjudul “Dan Mendung Telah Berlalu”, meraih Juara Harapan I dalam lomba yang diadakan oleh Suara Karya Minggu. Karya-karya yang ia hasilkan meliputi geguritan, cerkak (cerita cekak), cerita misteri, dongeng, dan karya nonsastra lainnya. Media yang memuat karya-karyanya antara lain Suara Karya Minggu, majalah Mekar Sari, Jaya Baya, Jaka Lodhang, dan Panjebar Semangat. Di samping media berbahasa Jawa karyanya juga dimuat dalam majalah Mingguan Guru, Bekal Pembina, dan Jawa Pos. Berikut adalah karya-karya Suwarno. 

Crita Cekak ‘Cerita Pendek’

(1)“Tikus” (Jaya Baya), (2) “Amplop” (Jaya Baya), (3) “Kopi Pait” (Djaka Lodhang, No. 27), (4) “Anak Telu” (Mekarsari, No. 52), (5) “Kijang Ijo Lumut” (Mekarsari, No. 12, tahun 1986), (6) “Helm” (Jaya Baya, 26 Mei 1996), (7) “Kuis” (Jaya Baya, 1 September 1996), (8) “Sarampunge Wisuda” (Mekarsari No. 35, tanggal 25 Oktober 1998), (9) “Dukun Santet” (Mekarsari, No. 47, 17 Januari 1997), (10) “Jilbab Putih” (Mekarsari, No. 49, 31 Januari 1997), (11) “Jinem” (Mekarsari, No. 03/XL, Maret 1997), (12) “Wisa” (Penjebar Semangat, No. 5, 1 Pebruari 1997), (13) “Keris” (Mekarsari, No. 07/XLI, 11 April 1997), (14) “Meja Kursi” (Panjebar Semangat, No. 20, 17 Mei 1997), (15) “Sambel” (Jaya Baya, 27 Juli 1997), (16) “Stempel” (Mekarsari, No. 23/XLI, 1 Agustus 1997), (17) “Botoh” (Panjebar Semangat, No. 45, 8 Nopem-ber 1997), (18) “Kompor” (Panjebar Semangat, no. 44, 30 Oktober 1999), (19) “Mulih” (Jaya Baya, 13 Oktober 1999), (20) “Glathi” (Panjebar Sema-ngat, No. 42, 14 Oktober 2000) dan (21) “Tumus” (Jaya Baya, No. 14, 20 April 2002). 

Cerita Misteri 

  1. “Dhemit Kedhung Bulus” (Panjebar Semangat, No. 8, 24 Pebruari 1996), (2) “Dhanyange Ngamuk” (Panjebar Semangat, No. 27, 6 Juli 1996), (3) “Ngojeg Pocongan Mayit” (Mekarsari, No. 20/II, 26 Agustus 1996), (4) “Tangis Ing Omah Joglo” (Mekarsari. No. 45/II, 7 Pebruari 1997), (5) “Peri Kuburan Kembar” (Mekarsari, No. 09/III, 30 Maret 1997), (6) “Tenda Sanga Wolu” (Panjebar Semangat, No. 27, 5 Juli 1997), (7) “Kemah Bareng Lelembut” (Mekarsari, No. 17/III, 25 Juli 1997), (8) “Dhanyang Kuburan Ngemplak” (Mekarsari, No. 24/III, 12 September 1997), (9) “Dhanyang Kedhung Bulus Ewuh” (Mekarsari, No. 28/III, 10 Oktober 1997), (10) “Disa-ruwe Dhanyang” (Panjebar Semangat, No. 2, l 9 Januari 1998), (11) “Arwah Njaluk Piagam” (Mekarsari, No. 40, 2 Januari 1998), (12) “Sundel Bolong” (Panjebar Semangat, No. 10, 7 Maret 1998), (13) “Njaluk Kawigaten” (Panjebar Semangat, No. 49, 4 Desember 1999). 

 

Dongeng

(1)“Kupu Lan Konang” (Jaya Baya, tahun 1995), (2) “Luwak Kang Srakah” (Jaya Baya, 23 Pebruari 1997), (3) “Dongeng” (Jaya Baya, 20 Juni 1999). 

 

Geguritan ‘Puisi’

 (1) “Semut” (Jaya Baya, 1993), (2) “Marang Kancaku” (Jaya Baya, 1993), (3) “Kusir Tuwa Ing Dhuwur Kreta” (Jaya Baya, 1993), (4) “Satumpuk Gurit Kang Kok Indhit” (Panjebar Semangat, no. 6, Pebruari 1994), (5) “Pitakon” (Jaya Baya, 1994), (6) “Ing Sawijining Panggonan” (Panjebar Semangat, No. 30, 23 Juli 1994), (7) “Sedya” (Panjebar Semangat, No. 31, 30 Juli 1994), (8) “Tinarbuka” (Jaya Baya, 1994), (9) “Kucing Lan Tikus” (Jaya Baya, 1995), (10) “Nalika Kudu Jumangkah” (Panjebar Semangat, No. 29, 22 Juli 1995), (11) “Nalika Sandhal Jepit Pedhot” (Jaya Baya, 1994), (12) “Ing Sarasehan” (Jaya Baya, 1995), (13) “Sadawane RelRel” (Panjebar Semangat, No. 43, 28 Oktober 1995), (14) “Marang Simbah” (Jaya Baya, 1995), (15) “Tikus-tikus” (Panjebar Semangat,, No. 1, 7 Januari 1995), (16) “Aranana Aku” (Jaya Baya, 1995), (17) “Gambar-gambar Ing Kalender” (Jaya Baya, 1995), (18) “Ing Etalase” (Jaya Baya, 1995), (19) “Banyu” (Jaya Baya, 1995), (20) “Gurit Kanggo Adhi” (Panjebar Semangat, No. 13, 1 April 1995), (21) “Kanvas I” (Panjebar Semangat, No. 14, 8 April 1995), (22) “Gurit Kanggo Bocah Lanang” (Panjebar Semangat, No. 44, 4 Nopem-ber 1995), (23) “Gurit Kanggo Sumitra” (Djaka Lodang, No. 16, 1996), (24) “Samungguhna Urip Iki” (Djaka Lodang, No. 18, 1996), (25) “Wengi Ing Pojok Halte” (Djaka Lodang, No. 22, 1996), (26) “Tikus Lan Kucing” (Djaka Lodang, No. 30, 1996), (27) “Kasunyatan” (Djaka Lodang, No. 32, 1996), (28) “Marang-Mu’ (Djaka Lodang, No. 32, 1996), (29) “Lumut” (Panjebar Semangat, No. 5, 3 Pebruari 1996), (30) “Tansaya Cedhak” (Djaka Lodang, No. 40, 1996), (31) “Potret” (Djaka Lodang, No. 44, 1996), (32) “Piweling” (Djaka Lodang, No. 44, 1997), (33) “Reroncen Pandonga” (Djaka Lodang, No. 50, 1997), (34) “Jero Tlaga Wening-Mu” (Djaka Lodang, No. 50, 1997), (35) “Ing Sarasehan” (Djaka Lodang, No. 52, 1997), (36) “Rembulan Ing TlagaMu” (Mekarsari, No. 48/XL, 24 Januari 1996), (37) “Horeg” (Mekarsari, No. 46/XL, 10 Januari 1995), (38) “Lingsir” (Panjebar Semangat, No. 12, 23 Maret 1996), (39) “Layon” (Panjebar Semangat, No. 12, 23 Maret 1996), (40) “Gurit” (Panjebar Semangat, No. 17, 27 April 1996), (41) “Pandakwa” (Panjebar Semangat, No. 17, tanggal 27 April 1996), (42) “Episode Sumantri Lan Sikrasana” (Panjebar Semangat, No. 16, 20 April 1996), (43) “Sepi” (Jaya Baya, 1996), (44) “Gurit Marang Adhi” (Jaya Baya, 1996), (45) “Marang Bapak Lan Simbah” (Mekarsari, No. 12/XL, 17 Mei 1996), (46) “Marang Sitaressmi” (Jaya Baya, 1996), (47) “Aja” (Panjebar Semangat, No. 24, 15 Juni 1996), (48) “Dongenge Simbah” (Panjebar Semangat, No. 28, 13 Juli 1996), (49) “Perang Kang Sejati, (Mekarsari, No. 30/XLI, 19 September 1996), (50) “Bebadra” (Panjebar Semangat, No. 38, 21 September 1996), (51) “Gurit Katresnan” (Panjebar Semangat, No. 42, 19 Oktober 1996), (52) “Ing Ngarep Layar Bening” (Panjebar Semangat, No. 42, 19 Oktober 1996), (53) “Swaraswara Jangkrik” (Mekarsari, No. 39/XL, 22 Nopember 1996), (54) “Ing Pasar” (Jaya Baya, 1996), (55) “Kaki Tuwa Pinggir Tlaga” (Panjebar Semangat, No. 52, tanggal 28 Desember 1996), (56) “Watu” (Mekarsari, No. 45/XL, 3 Janu-ari 1997), (57) “Sawijining Pitakon” (Mekarsari, No. 49/XL, 31 Januari 1997), (58) “Prosesi” (Mekarsari, No. 01/XL, 28 Pebruari 1997), (59) “Kingkin” (Panjebar Semangat, No. 10, 8 Maret 1997), (60) “Pitakon” (Panjebar Semangat, No. 10, 8 Maret 1997), (61) “Ulegan” (Panjebar Semangat, 15 Maret 1997), (62) “Rembulan Ing Pucuk Cemara” (Panjebar Semangat, No. 16, 19 April 1997), (63) “Gurit Kangen” (Panjebar Semangat, No. 23, 7 Juli 1997), (64) “Praupan- praupan Aeng Dina Iki” (Mekarsari, No. 15/XLI, 6 Juni 1996), (65) “Gurit Pitakon” (Jaya Baya, 1997), (66) “Tetela” (Mekarsari, No. 19, 4 Juli 1997), (67) “Wis Dhungkap Surup” (Mekarsari, No. 20/XLI, 11 Juli 1997), (68) “Karikatur” (Mekarsari, No. 25/XLI, 15 Agustus 1997), (69) “Tem-bang Tlutur” (Mekarsari, No. 26/XLI, 22 Agustus 1997), (70) “Marang Laku Bebadra” (Mekarsari, No. 31/XLI, 26 September 1997), (71) “Ing Panda-daran” (Panjebar Semangat, No. 40, 4 Oktober 1997), (72) “Tembang Panguripan” (Jaya Baya, 1997), (73) “Sepi” (Mekarsari, No. 36/XLI, 31 Oktober 1997), (74) “Ing Titik Koordinat” (Panjebar Semangat, No. 44, 1 Nopember 1997), (75) “Ing Garis Wates” (Panjebar Semangat, No. 46, 15 Nopember 1997), (76) “Gurit” (Panjebar Semangat, No. 48, 28 Nopember 1997), (77) “Ing Wit Ngrembuyung” (Jaya Baya, 14 Desember 1997), (78) “Bener Kandhamu” (Mekarsari, No. 43/XLI, 19 Desember 1997), (79) “Layang” (Mekarsari, No. 47/XLI, 16 Januari 1998), (80) “Bocah Bajang” (Panjebar Semangat, No. 3, 17 Januari 1998), (81) “Wong Lara” (Panjebar Semangat, No. 4, 24 Januari 1998), (82) “Potret” (Makarsari, No. 48/III, 27 Pebruari 1997), (83) “Banyu Kali” (Mekarsari, No. 52/XL, 20 Pebruari 1998), (84) “Sore Ing Plataranmu” (Jaya Baya, 28 Juni 1998), (85) “Antaraning Bumi Lan Langit” (Panjebar Semangat, No. 33, 5 Agustus 1998), (86) “Omah” (Panjebar Semangat, No. 34, 22 Agustus 1998), (87) “Pandakwa” (Jaya Baya, 13 September 1998), (88) “Kasunyatan” (Jaya Baya, 27 September 1998), (89) “Tamba” (Jaya Baya, 18 April 1999), (90) “Dzikir” (Jaya Baya, 18 Juli 1999), (91) “Nyekar” (Jaya Baya, 12 Desember 1999), (92) “Gambargambar Sajroning Pigura” (Jaya Baya, 12 Nopember 2000), (93) “Gurit Pepeling” (Jaya Baya, No. 25, 23 Pebruari 2002), (94) “Layang Katresnan” (Jaya Baya, No. 30, 24—30 Maret 2002), (95) “Horeg” (Jaya Baya, No. 45, Minggu I Juli 2003), (96) “Gendera” (Jaya Baya, No. 05, Minggu I Oktober 2003), (97) “Dheweke Ngaku Pahlawan” (Panjebar Semangat, No. 18 tahun 2004), (98) “Prasapa” (Panjebar Semangat, No. 19 tahun 2004), (99) “Ing Ngarep Kaca Pengilon” (Panjebar Semangat, No. 48 tahun 2004), (100) “Marang Bapak lan Simbah” (Jaya Baya, No. 13, 24— 30 November 2002), (101) “Iradat” (Jaya Baya, No. 13, 24 – 30 November 2002), “Ing Ngendi Pepadhang” (Jaya Baya, No. 01, Minggu I September 2004), “Piwulang (Panjebar Semangat, No. 47, 20 November 2004), (Panjebar Semangat, No. 18 tahun 2004). Sekarang tinggal di Komplek Perumahan Gajah Indah Blok O/18—19, Baureno, Kabupaten Bojonegoro, telepon (0322) 454667.

Wahyu Haryanto

Wahyu Haryanto ini dilahirkan di Surabaya 14 Oktober 1972. Karier W. Haryanto di bidang tulis menulis berawal dari surat kabar Surabaya Post tahun 1995 dengan sajaknya berjudul “Rekonstruksi Bisu” yang beraliran simbolis. Sejak saat itulah, tulisan-tulisan W. Haryanto kerap mengisi rubrik berbagai surat kabar maupun jurnal di Jawa Timur. Kebanyakan karya W. Haryanto beraliran realisme dan juga ilusionisme-naratif karena kedua aliran ini dianggap mampu membuka simpul terdalam dari kesadaran diri. Dia pernah menjadi juara III dalam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional tahun 1999 dan masuk dalam sepuluh (10) besar Lomba Kritik Sastra oleh Dewan Kesenian Jakarta

Penyair yang memiliki nama lengkap Wahyu Haryanto ini dilahirkan di Surabaya 14 Oktober 1972. W. Haryanto adalah anak sematawayang dari pasangan Warno (alm.) seorang purnawirawan TNI angkatan laut, beragama Islam, dan bersuku Jawa dengan Istuning Rubingah seorang ibu rumah tangga yang juga bersuku Jawa dan beragama Islam. Tahun 2004, W. Haryanto mencoba mengikuti tes pegawai negeri di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dan berhasil diterima sebagai pegawai negeri dan ditempatkan di Balai Bahasa Surabaya (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur). Tahun 2008, W. Haryanto menikah dengan Puput Amiranti, seorang guru dan sastrawan di Blitar. Bakat menulis We begitu ia akrab dipanggil semakin terasah ketika ia berkuliah di Fakultas Sastra Unair Surabaya. We menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) di Surabaya hingga tamat tahun 1985. Selanjutnya, ia belajar di sekolah menengah pertama (SMP) dan lulus tahun 1988. Sementara itu, pendidikan SMA ditempuh di Surabaya dan lulus tahun 1991, kemudian ia melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga (Unair) mengambil program S1 Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia lulus tahun 1996. Pada tahun 2000 We terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Unair. W. Haryanto selain menggeluti bidang sastra khususnya genre puisi, juga aktif di berbagai organisasi yang benafaskan sastra dan budaya. Sejak 2003 sampai dengan tahun 2008 ia berperan aktif di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) sebagai komite sastra. Ia pernah aktif di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) sebagai ketua divisi penerbitan. Sebelumnya, ia juga bergabung dengan “Teater Gapus” milik Fakultas Sastra Unair (1994—2002) sebagai penulis naskah dan direktur artistik. Di samping itu ia aktif dalam Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) sebagai anggota sejak tahun 1997—1999. Karier W. Haryanto di bidang tulis menulis berawal dari surat kabar Surabaya Post tahun 1995 dengan sajaknya berjudul “Rekonstruksi Bisu” yang beraliran simbolis. Sejak saat itulah, tulisan-tulisan W. Haryanto kerap mengisi rubrik berbagai surat kabar maupun jurnal di Jawa Timur. Kebanyakan karya W. Haryanto beraliran realisme dan juga ilusionisme-naratif karena kedua aliran ini dianggap mampu membuka simpul terdalam dari kesadaran diri. Karya-karya W. Haryanto yang telah dimuat di surat kabar atau majalah, antara lain: “Rekonstruksi Bisu” dimuat dalam Surabaya Post (1995); “Kepompong Kenangan” dimuat di Kompas (2000); (3) “Lukisan Pengantin” dimuat di Kompas (2001); (4) “Januari dari Sebuah Perairan” dimuat dalam jurnal Kalam edisi 13 tahun 1999; (5) “Jawa” dimuat di jurnal Filsafat Mitra Budaya edisi 4 tahun 2002. Kebanyakan tulisan W. Haryanto memakai media bahasa Indonesia, dan memasukkan cengkok-cengkok musikal dalam bentuk dialek Suroboyoan. Salah satu karyanya berjudul “Ganda Mayit” beraliran simbolis ditulis dalam bahasa Jawa dan dimuat dalam antologi Kabar Saka Bendulmrisi terbitan PPSJS tahun 2001. Selain aktif menulis, W. Haryanto juga sering mengikuti berbagai lomba yang berkaitan dengan dunia seni dan sastra. Dia pernah menjadi juara III dalam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional tahun 1999 dan masuk dalam sepuluh (10) besar Lomba Kritik Sastra oleh Dewan Kesenian Jakarta. Beberapa karya W. Haryanto yang dipublikasikan dalam bentuk buku, antara lain: (1) “Memori Surabaya”, simbolis dimuat dalam Malsasa 1996, terbitan Dewan Kesenian Surabaya; (2) “Ikan”, simbolis dimuat dalam Ruwatan Balai Pemuda tahun 1998 terbitan Komunitas Seniman Surabaya; (3) “Labirin Dari Mata Yang Bening”, simbolis dimuat dalam Istana Loncatan tahun 1998 terbitan Lingkar Sastra Junak; (4) “Tunjungan 2000”, simbolis dimuat dalam Malsasa tahun 2000 terbitan Balai Bahasa Surabaya; (5) “Labirin Dari Mata Mayat” (antologi tunggal) terbitan DKJT tahun 2003; (6) “Cerita Buat Putri Rajab” (antologi tunggal), ilusionisme-naratif terbitan Komunitas Anarki tahun 2004; (7) “Manifesto Surrealis”, terbitan FS3LP dan Galah Yogyakarta tahun 2002.

Trinil

Trinil dapat digolongkan sebagai pengarang generasi muda sastra Jawa. Meskipun tergolong baru, dia banyak dibicarakan karena dianggap memelopori penulisan karya sastra dengan ragam dialek Surabaya, khususnya dalam genre puisi. Trinil lahir di Surabaya tanggal 27 Juli 1965 dengan nama Sri Setyawati. Dia anak ketiga dari empat bersaudara, dua perempuan dan dua laki-laki. Trinil berasal dari suku Jawa dan beragama Islam. Trinil menempuh pendidikan SD tahun 1972—1978, SMP tahun 1978— 1981, SMA Tritunggal 3 tahun 1981—1984, STK Wilwatikta tahun 1985— 1989, dan IKIP Negeri tahun 1992—1997 di kota kelahirannya Surabaya. Atas biaya dari Fakultas, Trinil menyelesaikan pendi-dikan S2 di Universitas Negeri Surabaya. Pendidikan doktor ditempuhnya di Universitas Negeri Malang. Ketika menjadi mahasiswa seni tari, Trinil mendapat penghargaan dari Menpora sebagai pemeran utama dalam lakon Rumah Tak Beratap yang dipentaskan dalam Pekan Teater Nasional tahun 1996 dan dari Direktorat STSI Surakarta sebagai penari eksibisi dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Surakarta tahun 1996. Setamat dari Jurusan Seni Tari, IKIP Surabaya, sejak tahun 1998 sampai sekarang, Trinil mengabdikan diri sebagai pengajar di Universitas Negeri Surabaya (dahulu IKIP Surabaya). Sebelumnya, dia pernah mengajar di TK tahun 1984—2000 dan selalu menang dalam lomba sebagai koreografer. Trinil menikah dengan Edhy Brodjowaskito, seorang Pegawai Negeri di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Dari pernikahan itu, Trinil dikaruniai tiga orang anak, yaitu Randhu Radjawanu (lahir 1989), Dhirgan Grudowaringin (lahir 1992), dan Merak Badra Wakaruyung (lahir 2001). Ayah Trinil bernama Salam Parto Suyidno berasal dari Ngawi dan ibunya bernama Armunah berasal dari Gresik. Trinil memunyai tiga orang saudara, yaitu Endang Sri Purwanti (Guru SMP), Bambang Sukarno (Pegawai PJKA), dan Djoko Setyo Utomo (Swasta). Trinil mulai menulis tahun 1997 di Majalah Jayabaya. Selain dalam bahasa Jawa ragam dialek Surabaya dan Surakarta, dia juga menulis dalam bahasa Indonesia. Tulisan dalam bahasa Indonesianya berupa esai untuk tabloid Wisata dan Budaya dan majalah Budaya Dewan Kesenian Jawa Timur. Tulisannya mengenai pendi-dikan, feminisme, wisata, budaya, seni, dan sejarah ada di majalah Kidung dan tabloid Bromo (1998—2001). Hasil karyanya yang berupa puisi dan novel sudah diterbitkan, yaitu Donga Kembang Waru (2000) dan Sarunge Jagung (2004). Upaya Trinil mengangkat mar-tabat ragam dialek Surabaya menjadi bukti nyata bahwa pengarang yang hidup dalam komunitas budaya tertentu dapat mengekspresikan gagasannya dan pengalaman hidupnya melalui bahasa yang dikuasainya. Trinil berhasil menempatkan budaya Jawa-Surabaya sebagai ruh dalam puisi-puisinya dan hal itu merupakan lompatan langka karena selama ini Surabaya telah ditampilkan dalam berbagai wajah, baik dalam karya seni maupun dalam cultural events, tetapi belum berhasil menghadir kan ruh Surabaya di dalamnya. Ragam dialek Surabaya dianggap sebagai bahasa yang kasar dan hampir tidak pernah dipilih sebagai bahasa sastra, apalagi puisi sehingga keberanian Trinil tergolong istimewa dalam dunia sastra Jawa. Puisi Trinil khas Surabaya karena memiliki rima, mencakup berbagai kata kiasan yang ada di Jawa Timur dan memakai struktur sastra tradisional, seperti Dandhanggula, Pucung, dan Maskumambang. Kekhasan itu terutama dikarenakan menggunakan bahasa ragam dialek Surabaya dan berisi kritik terhadap kota Surabaya. Trinil telah memasarkan ragam dialek Surabaya kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda agar tidak malu menggunakannya. Ia menunjukkan bahwa karya sastra etnik bukan karya yang memalukan. Trinil pantas disebut sebagai satu-satunya pembaharu dalam dunia sastra Jawa modern ragam dialek Surabaya.

Tjahjono Widijanto

Tjahjono Widijanto lahir di Ngawi, 18 April 1969 dari pasangan H. Soeparmo, B.A. dan Hj. Isdiwati. Terlahir kembar dengan Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widijanto menghabiskan masa kecil hingga SMA di Ngawi. Kedua orangtuanya adalah pensiunan guru. Ayahnya pensiunan guru SPG Negeri Ngawi, sedangkan ibunya pensiunan guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Keduanya kini beralamatkan Jalan Hasanudin 18 Ngawi. Selain Tjahjono Widarmanto, ia mempunyai dua kakak yaitu Isdarmawanto dan Widiastuti, S.H. Menikah dengan Lilis—lahir di Nganjuk, 12 Maret 1978— Tjahjono Widijanto dikaruniai seorang putri. Sekarang, Tjahjono Widijanto bersama keluarganya bertempat tinggal di Jalan Hasanudin, Gang Cimanuk, Ngawi. Tjahjono Widijanto menyelesaikan pendidikan sejak tingkat SD (lulus 1983), SMP (lulus 1985), dan SMA (lulus 1987) di Ngawi. Berbeda dengan saudara kembarnya, Tjahjono Widijanto melanjutkan kuliah di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang (sekarang UM). Mendapatkan gelar sarjana pada tahun 1992. Pendidikan informal yang pernah diikuti antara lain MMAS, Intensif Training Pelatihan Teater, Diklat Jurnalistik, Seminar Kebahasaan Tingkat Nasional di Jakarta, dan Kongres Bahasa Indonesia. Karier Tjahjono Widarmanto berawal saat ia menjadi redaktur Majalah Kebudayaan Iklim Malang (1990—1992), Majalah Kebudayaan Kalimas (1990—1994), Majalah Rontal (2000—2002). Dunia kepenulisan yang digelutinya mengasah keterampilan menulis baik karya sastra maupun karya nonsastra. Profesi yang ditekuni hingga kini adalah menjadi pengajar atau guru. Ia pernah mengajar di SMPN di Ngawi pada tahun 1995, kemudian mutasi ke SMAN 1 Ngawi hingga sekarang. Dalam Komunitas Sastra Ketintang Surabaya, ia bertemu dengan teman-teman sastrawan lainnya, seperti R. Giryadi, M. Zaelani Tammaka, Tengsoe Tjahjono, Jack Parmin, Bonari Nabonenar, Suyatno, Sugeng Wiyadi, dan banyak lagi. Menurut pengakuannya, naskah pertamanya dimuat di Harian Berita Buana Jakarta, tahun 1989. Honor pertama yang diterimanya saat itu adalah Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Sekarang, honor yang dapat ia raih untuk satu tulisannya berkisar Rp350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah). Sama halnya dengan Tjahjono Widarmanto, setelah lulus kuliah, Tjahjono Widijanto pulang ke Ngawi. Di tanah kelahirannya, Ngawi, ia bersama saudara kembar dan Anas Yusuf, membentuk ‘Kelompok Lingkar Sastra Tanah Kapur’. Kelompok ini pernah menerbitkan antologi puisi 9 penyair Ngawi bertajuk Surat Dari Ngawi. Kumpulan ini memuat karya puisi Mh. Iskan, Junaidi Haes, Aming Aminoedhin, Anas Yusuf, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widijanto, M. Har Harijadi, Agus Honk, dan Setiyono. Masih di Ngawi, bersama Tjahjono Widarmanto dan Anas Yusuf, ia juga mendirikan komunitas teater bernama Teater Sampar dan sempat mementaskan naskah Motinggo Bosye berjudul “Malam Jahanam”. Selain mendirikan komunitas sastra Kelompok Lingkar Sastra Tanah Kapur dan Teater Sampar, Tjahjono Widijanto bersama kembarannya Tjahjono Widarmanto, juga pernah menerbitkan jurnal sastra Rontal. Kegiatan seni dan budaya yang pernah dilakukan Tjahjono Widijanto bersama komunitasnya antara lain Diskusi Sastra dan Temu Penyair Empat Kota (1994), Pementasan naskah “Sang Juru Nikah” (1994), Dialog Ilmiah Sastra Jawa (1995), Pentas Deklamasi Tunggal (1995), Dialog Kebudayaan Islam (1995), Pameran Lukisan dan Fotografi (1996), Pementasan naskah ‘The Boor’ (1997), Parade Puisi (1998), Malam Sastra Baca Puisi ‘Secangkir Kopi buat Kota Ngawi’, dan Diskusi Kebudayaan (2001). Naskah karya sastra Tjahjono Widijanto banyak dimuat di pelbagai koran dan majalah, antara lain Jawa Pos, Bali Post, Solo Pos, Surabaya Post, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Republika, Suara Karya, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Kompas, Suara Pembaruan, dan Majalah Sastra Horison, Perisai (Malaysia), Bahana (Brunei Darussalam), serta Radio Suara Jerman. Hasil karya Tjahjono Widijanto antara lain (1) Monolog Ibu, kumpulan puisi, 1990, Malang; (2) Ekstase Jemari, kumpulan puisi, 1996, Malang; (3) Peta Tak Terbaca. Kumpulan puisi, 2003, Surabaya; (4) Birahi Hujan, kumpulan puisi, 2004, Jakarta; (5) Apa Khabar Sastra, kumpulan esai, 2002, Surabaya; (6) Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam, 1994, Ngawi, LSTK; (7) Tegak Lurus Dengan Langit, kumpulan esai, 2002, Jakarta; (8) Kumpulan Guritan “Drona Gugat”. 1995. Surabaya; (9) Kumpulan Puisi dan Guritan “Omonga Apa Wae”, Surabaya, 2000, TBJT; (10) Memo Putih, kumpulan puisi, 2000, Surabaya, DKJT; dan (11) Luka Waktu, kumpulan puisi, 1999, Surabaya, Taman Budaya Jatim. Kegiatan sastra yang pernah diikutinya, antara lain Jambore Budaya Nasional di Malimping (Banten, 1996), Surabaya Art Festival (1996), dan Temu Penyair se-Jawa-Sumatera-Bali (Lampung, 1996).

Tjahjono Widarmanto

Tjahjono Widarmanto merupakan sastrawan dari Ngawi yang masih eksis di genre cerpen. Ia lahir di Ngawi, 18 April 1969 dari pasangan H. Soeparmo (pensiunan guru SPG Negeri Ngawi) dan Hj. Isdiwati (pensiunan guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi). Tjahjono Widarmanto memiliki saudara kembar bernama Tjahjono Widianto yang berprofesi sama. Selain saudara kembarnya tersebut, Tjahjono Widarmanto mempunyai dua kakak yaitu Isdarmawanto dan Widiastuti, S.H. Tjahjono Widarmanto beristrikan seorang guru bernama Maghfira Wijayanti dan memiliki seorang putra bernama Shirly Shofiya Kamila Rosyda KW (Ngawi, 11 Oktober 2004). Saat ini Tjahjono Widarmanto bersama keluarga bertempat tinggal di Perumahan Chrisan Hikari B-6, Jalan Teuku Umar Timur, Ngawi. Pendidikan formal Tjahjono Widarmanto sejak tingkat SD (lulus 1983), SMP (lulus 1985), dan SMA (lulus 1987), diselesaikan di Ngawi. Setelah lulus dari SMA, Tjahjono Widarmanto melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya (sekarang Unesa) dan mendapat gelar sarjana tahun 1992. Pendidikan informal dan kegiatan kebahasaan dan kesastraan yang pernah diikuti antara lain MMAS, Intensif Training Pelatihan Teater, Diklat Jurnalistik, Seminar Kebahasaan Tingkat Nasional di Jakarta, dan Kongres Bahasa Indonesia. Tjahjono Widarmanto bersama saudara kembarnya, Tjahjono Widijanto dan seorang rekannya, Anas Yusuf, membuat “Kelompok Lingkar Sastra Tanah Kapur” di Ngawi, dengan menerbitkan antologi puisi 9 penyair Ngawi bertajuk Surat Dari Ngawi. Mengawali karier saat masih berkuliah, Tjahjono Widarmanto, pernah menjadi redaktur Majalah Kebudayaan Kalimas Surabaya (1990—1994), Majalah Bende (2000—sekarang), dan Majalah Rontal (2000— 2002), sedangkan dalam dunia pendidikan atau menjadi guru, ia mengajar di SMPN 1 Beringin Ngawi (1995), kemudian dimutasi menjadi guru di SMAN 2 Ngawi hingga sekarang. Tjahjono juga menjadi dosen di STKIP PGRI Ngawi, mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Selain menjadi guru, ia tetap menulis karya sastra, baik cerita pendek, puisi, dan esai sastra dan budaya di berbagai koran lokal dan ibu kota, serta bermain drama. Tjahjono Widarmanto belajar menulis sejak masih duduk di bangku SMA. Kemampuan menulis tersebut terus dikembangkan pada saat ia berkuliah di IKIP Surabaya. Di kampus, Komunitas Sastra Ketintang Surabaya adalah lembaga yang membuat Tjahjono Widarmanto kian terpacu kreativitasnya dalam dunia tulismenulis. Salah seorang yang dianggapnya sebagai motor pemompa semangatnya untuk terus-menerus berkarya sastra adalah Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo (almarhum). Motivasi menulisnya adalah dapat menyampaikan ide pada orang lain, menambah wawasan hidup dan kehidupan, serta berharap bisa dikenal masyarakat banyak. Masih di kotanya Ngawi, bersama kembaraannya Tjahjono Widijanto dan Anas Yusuf, mendirikan komunitas teater bernama Teater Sampar dan sempat mementaskan naskah Motinggo Busye berjudul “Malam Jahanam”. Kegiatan seni dan budaya yang pernah dilakukan Tjahjono Widarmanto bersama komunitasnya antara lain: Diskusi Sastra dan Temu Penyair Empat Kota (1994), Pementasan naskah ‘Sang Juru Nikah’ (1994), Dialog Ilmiah Sastra Jawa (1995), Pentas Deklamasi Tunggal (1995), Dialog Kebudayaan Islam (1995), Pameran Lukisan dan Fotografi (1996), Pementasan naskah The Boor (1997), Parade Puisi (1998), Malam Sastra Baca Puisi ‘Secangkir Kopi buat Kota Ngawi’ dan Diskusi Kebudayaan (2001). Naskah karya sastranya banyak dimuat di berbagai koran dan majalah, baik lokal Jatim maupun ibu kota, dan luar negeri, antara lain: Jawa Pos, Bali Post, Solo Pos, Surabaya Post, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Republika, Suara Karya, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Kompas, Suara Pembaruan, dan Majalah sastra Horison, Perisai (Malaysia), Bahana (Brunei Darussalam), Radio Suara Jerman, dan banyak lagi. Hasil karya Tjahjono Widarmanto antara lain: (a) Belukar Baja, kumpulan puisi, 1990, Surabaya, University Press; (b) Malsasa, kumpulan sajak Surabaya, 1994, Surabaya: DKS; (c) Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam, 1994, Ngawi: LSTK; (d) Improvisasi Retak, kumpulan puisi, 1995, Surabaya: KSRB; (e) Negeri Bayang-Bayang, kumpulan puisi, 1996, Surabaya, SAF; (f) Akulah Ranting, kumpulan puisi, 1996, Malang: Dioma; (g) Kumpulan Guritan “Drona Gugat” Surabaya: 1995: Bukan Panitia Festival WR Soepratman; (h) Kumpulan Guritan Bersama “Tes”, Surabaya, 1998: Taman Budaya Jatim; (i) Kumpulan Puisi dan Guritan “Omonga Apa Wae”,  Surabaya, 2000: TBJT; (j) Luka Waktu, kumpulan puisi, 1999, Surabaya: Taman Budaya Jatim; (k) Memo Putih, kumpulan puisi, 2000, Surabaya: DKJT; (l) Dalam Pusat Pusaran Angin, kumpulan puisi, 1997, Surabaya, KSRB; (m) Kubur Penyair, kumpulan puisi, 2002, Yogyakarta, Diva Press; (n) Kitab Kelahiran, kumpulan puisi, 2003, Surabaya, DKJT; (o) Birahi Hujan, kumpulan puisi, 2004, DKJ; (p) Purnama di atas Kapuas, kumpulan cerpen, 2002, Jakarta; (q) Tegak Lurus Dengan Kaki Langit, kumpulan esai, 2002, Jakarta; (r) Dari Bumi Lada (antologi temu penyair se-Jawa, Sumatera, Bali); (s) Apa Khabar Sastra? Kumpulan Pemikiran Sastra, antologi esai, 2002: DKJT; dan (t) Seks dan Erotisme dalam Sastra (esai-esai pendek, 1992). Adapun pengalaman dalam dunia pendidikan dan menulis (a) 1990—1994 menjadi staf redaksi Majalah Kebudayaan Kalimas yang terbit di Surabaya; (b) 1992—1994 mengajar di SMUN 1 Ngrambe; (c) 1995—1997 mengajar di SMUN I Ngawi dan SMEA Negeri Ngawi; (d) 1995— sekarang Dosen di STKIP PGRI Ngawi; (e) 1998—2001 mengajar di SLTPN 1 Bringin; (f) Juli 2001—sekarang mengajar di SMUN II Ngawi. Selain mengajar, sejak kuliah (1987) menekuni dunia kepenulisan dengan menulis artikel dan puisi di hampir seluruh media Indonesia. Tulisannya berupa artikel (pendidikan, sosial, sastra, kebudayaan) dan puisi dimuat di Bahana (Brunai Darussalam), Perisai (Malaysia), Horison, Kompas, Republika, Jawa Pos, Deutche Welle (Suara Jerman), Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Tjahyono pernah mengikuti Jambore Budaya Nasional di Malimping (Banten, 1996), Surabaya Art Festival (1996), Temu Penyair se-Jawa-SumateraBali (Lampung, 1996), Temu Sastra Nasional (Tasikmalaya, 1998), Peringatan Bulan Bahasa tahun 2000 (sebagai pembicara), Kongres Sastra Jawa (Surakarta, 2001; sebagai pembicara), Forum Sastra Sufistik di (Gresik, 2001; sebagai pemakalah tunggal); Bengkel Penulisan Sastra Siswa se-Surabaya di Balai Bahasa Jatim (2001; sebagai instruktur), Kongres Sastra Cerpen Nasional II (Bali, 2002), Halaqah Kebudayaan yang diadakan Desantara Institute for cultural Studiesdi Ponorogo (2002; sebagai pembicara), Dialog Nasional Refleksi Reformasi di STAIN Surakarta (2002), Festival Kebudayaan di Samarinda (Agustus, 2002; sebagai pembicara dan peserta). Dia juga pernah menjadi Tim Kurator penganugerahan Seniman-Budayawan terbaik Jatim 2001 dan 2002, juri dalam Lomba Penulisan Karya Sastra Festival Seni Mahasiswa Tk. Nasional (Feksiminal) tahun 2002, Juara ke-5 Lomba Mengulas Karya Sastra Tingkat Nasional (LMKS) 2002 yang diadakan Depdiknas dan Majalah Horison, urutan 10 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional (LMCP) 2002 yang diselenggarakan oleh Depdiknas Pusat dan Majalah Sastra Horison, pembicara dan peserta dalam lokakarya Pemilihan Buku Bahan Ajar Sastra untuk SLTP dan SMU di Jakarta (15—19 Desember 2002), anggota Dewan Pakar dan Dewan Pertimbangan Taman Budaya Jawa Timur untuk periode 2003—2005.

Titah Rahayu

Penulis perempuan yang sering menggunakan nama samaran Ayu, Anggie Melati atau Estri Sekar Pratiwi ini lahir di Mojokerto pada 19 September 1963. Anak pertama dari empat bersaudara ini adalah putra pasangan Soekidjo (Trenggalek) dan Muliah Dwi Purwanti (Mojokerto). Titah menyelesaikan pendidikan SD (1968—1974) di Kediri, SMP (1975—1977), SMA (1978— 1981) di Trenggalek. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di FMIPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1981—1986). Titah Rahayu menikah tahun 1989 dan memiliki dua orang putra. Saat tinggal di Surabaya, ia membantu majalah Jaya Baya mengelola rubrik sastra bersama Yunani. Keseriusannya menggeluti sastra Jawa diwujudkan dengan mendirikan dan mengelola sang-gar sastra Rara Jonggrang dan buletin berbahasa Jawa di Yogyakarta. Sejak tahun 1986 Titah menjadi redaktur majalah Jaya Baya. Titah pertama menulis pada tahun 1972 ketika berumur sembilan tahun. Tulisan Titah Rahayu pertama terbit di majalah Jaya Baya dalam rubrik remaja berjudul ”Karang Taruna”. Bakatnya semakin berkembang ketika bergabung dengan Sanggar Triwida. Karangan Titah banyak dimuat di berbagai media, di antaranya Jaya Baya, Parikesit, Panjebar Semangat, Liberty, Suara Karya, Surabaya Post, Anita Cemerlang, Panasea, Kuncup, dan Taruna sejak 1978—1993. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain Kembang Cengkeh (1982), geguritan “Lalu” dan “Wong Lanang Aran Ghafar” dalam antologi Kabar Saka Bendulmrisi: Kumpulan Guritan (2001), Dheweke Layar dalam Drona Gugat (1995), Pakansi, Ing Terminal Jombang, serta Wawan Rembug dalam Negeri Bayang-bayang (1996).

Tengsoe Tjahjono

Tengsoe Tjahjono tergolong pengarang yang cukup produktif, khususnya dalam penciptaan puisi. Karya-karyanya sudah banyak yang terbit, dalam antologi puisi mandiri maupun antologi bersama penyair lain. Di samping itu, ia juga menulis cerpen dan esai yang dipublikasikan melalui berbagai media massa, seperti Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, dan Suara Indonesia. Tengsoe Tjahjono lahir di Jember pada tanggal 3 Oktober 1958 dan lama tinggal di Banyuwangi. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia berasal dari etnis Jawa dan beragama Katolik. Ayahnya bernama Sinidarsono dan ibunya bernama Sri Kasmiati. Pendidikan formal dari SD sampai dengan SPG tahun 1977 diselesaikan di kota Banyuwangi. Tahun 1983, ia menyelesaikan pendidikan dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang. Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Malang ia selesaikan tahun 1993. Saat ini, ia masih menempuh program doktoral di Universitas Negeri Malang. Pengalaman bekerja dimulai saat ia masih mahasiswa, yaitu menjadi guru di SMA Corjesu Malang tahun 1980. Tahun 1986, ia pindah ke Surabaya dan menjadi dosen tetap di FPBS IKIP Surabaya hingga sekarang. Ia menikah dengan Sri Mumpuni dan dikaruniai tiga anak, yaitu Dini, Asti, dan Tessa. Kebiasaan menulis sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP, tetapi baru berkembang dengan baik setelah kuliah di IKIP Malang dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan forum sastra. Ia pernah menjadi anggota teater Mlarat, memimpin teater Temperamen, dan untuk beberapa periode menjabat ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Malang (1984—1988). Setelah hijrah ke Surabaya, ia kembali aktif di dunia sastra dengan memprakarsai terbentuknya Paguyuban Studi Sastra Ketintang bersama Setya Yuwana Sudikan dan Henricus Supriyanto, membentuk Komunitas Sastra Kalimas, dan menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Sebagai akademisi sastra, ia juga sering diundang untuk berbicara dalam seminar atau diskusi sastra. Karya-karyanya, baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa, tersebar di berbagai media. Hasil karyanya telah terbit dalam antologi bersama, antara lain (1) Drona Gugat (Bukan Panitia Parade Seni WR Supratman, 1995), (2) Kabar Saka Bendulmrisi: Kumpulan Guritan (PPSJS, 2001), (3) Omongo Opo Wae: Antologi Puisi dan Guritan (Taman Budaya, 2000), (4) Luka Waktu: Antologi Puisi Penyair Jawa Timur (Taman Budaya, 1998), (5) Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), (6) Malsasa 1996, dan (7) Festival Puisi XIV (PPIA Surabaya, 1994). Hasil karyanya yang terbit dalam antologi sendiri, antara lain Fenomena (Lembaga Kesenian Indrakila Malang, 1983), Pendopo Taman Siswa Sebuah Episode (Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta, 1982), Hom Pim Pah (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1984), Mata Kalian (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1988), Gelombang (FASS-PPIA Surabaya Post, 1990), Ning (Sanggar Kalimas, 1997), Pertanyaan Daun (Komunitas Kata Kerja Malang, 2003), Terzina Penjarah (Sanggar Kalimas, 1998), dan Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi (Nusa Indah Ende, 1988). Penghargaan dan prestasi yang pernah diraih adalah puisinya masuk lima besar dalam Lomba Cipta Puisi Penyair Muda se-Indonesia pada tahun 1982, sepuluh besar Lomba Cipta Puisi di Tabanan pada tahun 1998, sepuluh besar Lomba Cipta Puisi se-Indonesia yang diadakan oleh Sanggar Minum Kopi Denpasar tahun 1992, dan menjadi aktor terbaik se-Kota Malang pada tahun 1997. Tengsoe Tjahjono juga menulis buku-buku yang berkaitan dengan pengajaran dan apresiasi sastra, seperti Sastra Indonesia: dengan Teori dan Apresiasi (1987) dan Membidik Bumi Puisi: Ke Arah Kegiatan Apresiasi(2000).