BBP Jawa Timur Gelar Lokakarya Hasil Inventarisasi Kosakata Bahasa Daerah

Surabaya, 28/06/24 – Jumat, 21 Juni 2024, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur melalui KKLP Perkamusan dan Peristilahan menggelar Lokakarya Hasil Inventarisasi Bahasa Daerah pada tanggal 19—21 Juni 2024 di Hotel Luminor, Sidoarjo. Kegiatan yang diikuti oleh 10 peserta dan narasumber dari berbagai wilayah di Jawa Timur ini bertujuan untuk memverifikasi 550 entri bahasa daerah yang telah dikumpulkan oleh Tim KKLP.

Sejumlah entri tersebut diperoleh dari pengambilan data lapangan di Kediri, Sampang, dan Lumajang. Berdasarkan wilayah pengambilan data, entri yang diperoleh meliputi bahasa Jawa dialek Tengger dan dialek Mataraman, serta bahasa Madura dialek Sampang. Data yang telah diverifikasi ini nantinya divalidasi juga oleh Tim KKLP Pusat sebelum diusulkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kosakata bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya KBBI dengan konsep-konsepnya yang unik dan belum ada.

Hadir dalam acara ini adalah Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Tim KKLP Perkamusan dan Peristilahan, dan enam orang narasumber. Dalam sambutannya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Umi Kulsum, M.Hum., mengharapkan agar bahasa daerah yang ada di Jawa Timur dapat diterima sebagai anggota bahasa Indonesia melalui KBBI. Inventarisasi kamus merupakan upaya untuk mendokumentasikan dan merawat bahasa daerah dan mengangkat posisi bahasa daerah. Lebih lanjut, melalui kegiatan ini, diharapkan konsep-konsep dan kearifan lokal yang terkandung di dalam bahasa daerah tersebut dapat dikenal dan digunakan secara nasional. (Adis)

ABDUL SYUKUR GHAZALI

Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd. lahir di Pamekasan tanggal 22 Desember 1950. Memperoleh gelar Sarjana dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari IKIP MALANG (1976). Gelar Magister dalam bidang Pendidikan Bahasa  Indonesia diperolehnya dari IKIP MALANG (1987). Gelar Doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia diperolehnya dari IKIP MALANG (1999) dengan disertasi berjudul “Kerumitan Kalimat Bahasa Indonesia Siswa SD” di bawah promotor Prof. Dr. H.M.F. Baradja, M.A. (IKIP MALANG). Tanggal 12 September 2012, Abdul Syukur Ghazali dikukuhkan menjadi guru besar dan berhak menyandang gelar profesor. Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd. menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Mewujudkan Pemerolehan Bahasa dalam Pembelajaran di Kelas”.

Bidang yang diminati dan ditekuninya selama ini adalah Pengajaran Menulis, Psikolinguistik, Retorika, Praktik Pengajaran Drama, dan Sejarah Sastra. Karya penelitian yang sudah dihasilkannya, antara lain (1) Penerapan Strategi Belajar Kooperatif dalam Perku-liahan Kajian Puisi (Laporan Hibah Pengajaran Proyek Due-Like, 2002), (2) Kinerja Mengajar Dosen dalam Proses Pembelajaran di UM (Penelitian Institusi, 2004), (3) Pemanfaatan T-unit sebagai Instrumen Pengukur Kemampuan Mengarang Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Dasar (Penelitian Mandiri, 2007), dan (4) Tata Wacana Bahasa Madura (Penelitian Bahasa, Balai Bahasa Surabaya, 2007).

Menulis buku referensi berjudul Teori Belajar Bahasa dan Pengajaran Bahasa (Program Pascasar-jana, 1998). Menulis buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA dan SMP, yakni (1) Terampil Berbahasa Indonesia 3 untuk SMU kelals 3 (Penerbit Pustaka Jaya, 1992), (2) Cendekia Berbahasa Indonesia 1A,1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B untuk SLTP (1995).

Naskahnya yang berjudul “Formula Sastra Madura dalam Kerapan Sapi: Sebuah Ancangan Metodologis Pengkajian Naskah” diterbitkan dalam Tradisi Tulis Nusantara menjelang Milenium III, Kumpulan Makalah Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara III 12–13 Oktober 1999, diterbitkan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Percetakan Unri Press Pekanbaru (2000).

Artikel jurnal yang sudah ditulis nya juga tidak sedikit, di antaranya adalah “Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Bahasa Utuh (Whole Language)” (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 10, Nomor 1, 2003, “T-Unit sebagai Alat Ukur Kemampuan Mengarang Bahasa Indonesia” (Litera, Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Vol 6, Nomor 1, 2007, dan “Mengenal Wajah Indonesia Melalui Penulis Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer” (Bahasa dan Seni, 2006).

Abdul Syukur Ghazali juga aktif mengikuti dan menulis makalah seminar terutama di bidang pengajaran antara lain (18) Menciptakan Kelas yang Membelajarkan (Seminar Nasional Pendidikan dan Konsolidasi BEM FKIP se-Nusantara, Unisma, 6 Mei 2006), (19) Merancang Pendidikan yang Memberda-yakan Budaya Madura (Kongres Kebudayaan Madura, Sumenep Madura, 9-11 Maret 2007), (20) Pengalaman Universitas Negeri Malang dalam Pelatihan Peningkatan Metode Pembelajaran (Workshop Need Assessment on Lecturer Teaching Methodology, di Brawijaya, 20-21 Juni 2007), (21) Menjadi Guru yang Profesional (Pelatihan Peningkatan Mutu Guru Mata Pelajaran Tingkat SMA/MA Se-Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 5-14 Juli 2007), (22) Sastra Indonesia: Jendela Lintas Budaya untuk Pembelajaran BIPA/Indonesia Studies (Semiloka Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, di Jakarta, 18-20 Juli 2007), dan (23) Pokok-pokok Pikiran untuk Merancang Pembangunan Pendidikan Kabupaten Malang (Seminar Sehari dalam rangka Menuju Kebangkitan Pendidikan Kabupaten Malang, di Malang, 11 Agustus 2007).

Untuk mengharagai pengabdiannya, pada tahun 2003 Abdul Syukur Ghazali memperoleh penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Wadah Suruh Lena

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Republik Indonesia
Dilindungi Undang-Undang.

Penafian: Buku ini disiapkan oleh pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku pendidikan yang bermutu,
murah, dan merata sesuai dengan amanat dalam UU No. 3 Tahun 2017. Buku ini diterjemahkan dan ditelaah
oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku ini
merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan setelah mendapatkan izin
dari pemegang lisensi. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis atau melalui alamat surel
penerjemahan@kemdikbud.go.id diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.

Wadah Suruh Lena
Tempat Sirih Lena

Penulis
Betty

Penelaah
Arif Subiyanto

Penanggung Jawab
Umi Kulsum

Tim Penyunting
Koordinator: Awaludin Rusiandi
Khoiru Ummatin
Dalwiningsih
Amin Mulyanto

Ilustrasi & Desain Sampul
Alissa Mumtaz Nameera

Tata Letak
FA Indonesia

Penerbit
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Dikeluarkan oleh
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur
Jalan Gebang Putih Nomor 10, Keputih, Sukolilo, Surabaya 60117
Telepon (031) 5925972

Cetakan pertama, Oktober 2023

E-ISBN: 978-623-112-775-4

Isi buku ini menggunakan huruf Andika New Basic 12-16 pt
iv, 20 hlm.: 21×29,7 cm

Betulkah Bahasa Indonesia Minim Kosakata?

Rabu, 17 April 2024, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBPJT) memenuhi undangan dari Siniar Djoedes (Jurnalis Dewan), DPRD Provinsi Jawa Timur. Undangan tersebut bertema bincang santai tentang isu kebahasaan, “betulkah bahasa Indonesia miskin kosakata?” 

Kegiatan bincang santai dihadiri langsung oleh Kepala BBPJT, Dr. Umi Kulsum, S.S., M.Hum. dengan tuan rumah Siniar Djoedes DPRD, Trisna Adhitya. Dalam kegiatan tersebut, hadir pula sebagai pengamat Koordinator Persatuan Wartawan Indonesia (PWI Jatim), Ricky Maulana. 

Dalam kegiatan bincang santai, Ibu Umi menyampaikan bahwa bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang minim kosakata. Bahasa Indonesia sudah mampu menjadi bahasa pergaulan, bahasa Pendidikan, bahasa hukum, bahkan bahasa ilmiah. Bahasa Indonesia dengan berbagai variasinya akan terus berkembang sesuai dengan zaman dan masyarakat penggunanya. Beliau juga menyampaikan bahasa Indonesia sangat bervariatif, misalnya bahasa gaul yang sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda.. 

Ibu Umi juga menyampaikan bahwa bahasa Indonesia diperkaya oleh bahasa daerah lain, yang jumlahnya mencapai 718 bahasa di Indonesia. Masyarakat juga diimbau untuk ikut menjadi penyumbang kosakata bahasa Indonesia, dengan menyampaikan kosakata yang belum ada konsepnya dalam bahasa Indonesia, disampaikan ke tim KBBI dengan menyertakan katayang diusulkan, makna, contoh penggunaanya dalam kalimat (Mon).

Mamaca, Perpaduan Seni Pertunjukan dan Tradisi Lisan di Pamekasan

Seni pertunjukaan tradisi lisan yang sehat pada hakikatnya ditandai oleh hubungan yang saling memerlukan antara seniman, pengamat seni, dan masyarakat penikmat. Namun, dalam kenyataannya, selain tidak mampu mempertahankan pelaku dan penikmatnya, seni tradisi kurang memiliki peluang untuk memberikan peningkatan yang bernilai ekonomi. Akibatnya perkembangan yang diharapkan menjadi terbatas, baik dalam hal perkembangan wujud dan wilayah persebaran. Tradisi sastra lisan Mamaca merupakan kesenian tradisional Madura yang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Dalam penyajiannya, sastra lisan Mamaca diiringi oleh seperangkat gamelan dan suling. Selain itu, keunikan dalam kesenian Mamaca ini terdapat pada bahasa yang digunakan, yakni bahasa Jawa arab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Madura. Dalam kepercayaan masyarakat Madura, tradisi sastra lisan Mamaca berfungsi sebagai sarana ritual sebagai penghilang sial dalam menjalani kehidupan. Di samping itu, kesenian Mamaca juga dijadikan sebagai sarana hiburan.

Sumber gambar: Kanal Youtube Langit Biru Production (https://www.youtube.com/watch?v=mIaNpufg1ig

Kabupaten Pamekasan merupakan kabupaten yang terletak di tengah Pulau Madura. Kabupaten ini berbatasan dengan laut Jawa di utara, Selat Madura di selatan, Kabupaten Sampang di barat, dan Kabupaten Sumenep di timur. Kabupaten Pamekasan terdiri atas 13 Kecamatan, yang dibagi lagi atas 178 Desa dan 11 Kelurahan. Pusat Pemerintahannya berada di Kecamatan Pamekasan. Pamekasan memiliki banyak kesenian tradisional, diantaranya adalah Karapan sape, Topeng Getak, Sape Sono’, Saronen, Tari Rondhing dan beberapa kesenian lainnya. Karakteristik kesenian Madura cenderung bertemakan ceria serta bernuansa rancak sesuai dengan watak masyarakatnya sendiri yang tegas. Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat, baik masyarakat kota maupun desa. Kebudayaan masyarakat selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Berlawanan dengan fenomena penyusutan wujud, pelaku, maupun penonton, masih dijumpai pendukung seni tradisi yang tampak tegar dan mampu bergerak lebih leluasa, seperti halnya seni tradisi lisan Mamaca yang ada di Kabupaten Pamekasan, Madura. Seni tradisi menjadi sarana hiburan, penopang ekonomi, dan bermuatan norma serta nilai pendidikan. Kesenian Mamaca dapat dikategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk sastra lisan, karena pada pertunjukannya menggunakan tutur kata yang dilagukan.

Di Kabupaten Pamekasan, kesenian ini sudah jarang terlihat dan hampir punah, hal tersebut dikarenakan kurangnya minat para generasi muda terhadap kesenian tradisional sehingga tidak ada reorganisasi dalam upaya melestarikan kesenian Mamaca ini. Disamping itu kesenian Mamaca dalam upacara ritual Rokat Pandhâbâ sudah jarang dilakukan, hal ini dikarenakan semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat di Pamekasan terhadap mitos-mitos yang berkembang pada jaman dulu.

Tradisi sastra lisan Mamaca masyarakat Madura khususnya di Pamekasan memiliki garis genealogis dengan tradisi Macapat masyarakat Jawa, yang sama-sama berupa tembang berbahasa Jawa, meskipun dengan nuansa yang berbeda, sesuai pengaruh kultur daerah masing-masing. Meskipun berbentuk tembang berbahasa Jawa tingkat tinggi (krama inggil), tradisi Mamaca tetap tumbuh subur dalam masyarakat Madura yang berbasis pesantren dan pedesaan, karena disamping masyarakat Madura memiliki jiwa estetika yang tinggi, nilai-nilai yang tersirat dalam aneka tembang Mamaca, sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi basis kultur setempat. Baik di pesantren, di pedesaan dan di tembang-tembang Mamaca, yang berperan sebagai juru dakwah dan kreator kesenian adalah orang-orang yang sama yakni para wali dan kiai.

Para Mubaligh terdahulu menciptakan tembang-tembang kreatif dan inovatif yang berisi doktrin agama, puji-pujian kepada Allah, anjuran dan ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan. Melalui tembang Mamaca tersebut, setiap manusia diketuk hatinya untuk lebih memahami dan mendalami makna hidup. Seni Mamaca memiliki dua unsur penting, yakni seni sastra dan seni suara (vokal).

Berbagai jenis tembang Mamaca mengandung makna yang mendalam, seperti Artate (Dangdanggula) yang bermakna pengharapan yang manis, atau dedaunan untuk pajangan (perhiasan/dekorasi), Maskumambang yang artinya prihatin, sangat susah, Senom yang artinya tumbuhnya daun pohon Asam (daun pohon asam yang masih muda), sangat bagus digunakan untuk menyampaikan nasehat dan berbagai hal kebatinan yang butuh banyak peribahasa, Kinanti (Salanget) yang artinya sangat dekat, digunakan untuk nasehat, kerukunan, Mejil yang artinya keluar, digunakan untuk menghadapi pertikaian atau perselisihan, Durma yang maknanya macan, digunakan ketika kita begitu bernafsu beringas, sedih, dan lain-lain. Pucung yang artinya perumpamaan, bagus digunakan ketika tebak-tebakan, dan Kasmaran bermakna heran.***

Sumber: Rifqi, Faizur. (2018). “Tradisi Sastra Lisan Mamaca di Kabupaten Pamekasan”. GÊTÊR: Jurnal Seni Drama, Tari, dan Musik, 1(1), 39—45.

https://journal.unesa.ac.id/index.php/geter/article/view/3924

Monumen Kapal Selam

Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota yaitu di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plaza Surabaya, dan terdapat pintu akses untuk mengakses mal dari dalam monumen.

Indonesia dikenal dengan negara maritim yang begitu luas. Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya, yaitu sebuah kapal yang berada di darat yang difungsikan sebagai bangunan museum sekaligus wisata. Monumen ini sebenarnya peninggalan yang masih ada dan dinikmati sampai sekarang yakni kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Kapal selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monkasel ini dijadikan salah satu tempat wisata di surabaya yang unik juga edukatif[1], karena selain interior kapal selam, di sini juga diadakan pemutaran film tentang proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika ingin mengunjungi tempat wisata ini maka akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana.

Ada cerita unik di balik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Dia ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh.

 

Penyuluhan Bahasa Surat Dinas bagi Tenaga Administrasi di Pemerintah Kota Pasuruan

Pasuruan, 07/03/2024 – Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBP Jawa Timur) melalui KKLP Pembinaan dan Bahasa Hukum (Pembahu) kembali memberikan penyegaran kepada puluhan tenaga administrasi di lingkungan pemerintah daerah. Kegiatan tersebut yang bertajuk Penyuluhan Bahasa Surat Dinas bagi Tenaga Administrasi di Pemerintah Kota Pasuruan tersebut dilaksanakan pada 5–7 Maret 2024. Peserta kegiatan berjumlah 60 orang berasal dari berbagai OPD di lingkungan Pemkot Pasuruan. Kegiatan penyegaran ini dilaksanakan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rumdin Wali Kota Pasuruan Seluruh tahap pelaksanaan kegiatan didukung oleh atas dukungan Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Pemkot Pasuruan. sehingga kegiatan dapat berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rumdin Wali Kota Pasuruan. Bersama Kepala BBP Jawa Timur, Asisten Administrasi Umum Pemkot Pasuruan, membuka kegiatan secara resmi dan memberikan apresiasi serta dukungan melalui sambutan singkatterhadap kegiatan ini. Hal tersebut dikuatkan dengan pemberian materi dari lima narasumber yang mengampu selama tiga hari.
Pada acara pembukaan, Kepala BBP Jawa Timur, Umi Kulsum, menjabarkan pentingnya kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut. “Kegiatan penyuluhan ini merupakan misi bersama atas amanat UU Nomor 24 Tahun 2009,” pungkas Umi Kulsum. Sebelum membuka kegiatan secara resmi, Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kota Pasuruan, Yudie Andi Prasetya, M.Si., menjelaskan harapannya kepada peserta yang mengikuti kegiatan. “Selamat mengikuti kegiatan. Semoga kegiatan ini memberikan banyak pencerahan kepada Bapak/Ibu. Selanjutnya, ilmu kebahasaan yang sudah diperoleh dapat diaplikasikan saat mengerjakan tugas administratif di masing-masing OPD,” harap Yudie Andi Prasetya.
Lima narasumber yang hadir, yaitu Prof. Dr. Suyatno, M.Pd., Cindy Tri Siwiyanti, S.H., M.Hum., Dian Roesmiati, M.Hum., Andi Asmara, S.S., dan Adi Syaiful Mukhtar, S.S. Seluruh materi yang diberikan kepada peserta disesuaikan dengan tujuan kegiatan, yaitu membuat surat dinas sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal tersebut dapat menjadi bekal seluruh peserta dalam menjalankan tugas administratif di masing-masing OPD.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut ditutup secara resmi oleh narasumber terakhir, Cindy Tri Siwiyanti yang merupakan Kepala Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Pemkot Pasuruan. Jalinan kerja sama antara BBP Jawa Timur dengan Pemkot Pasuruan dapat menjadi lebih kuat setelah terlaksananya kegiatan tersebut. Kegiatan yang sama-sama diharapkan oleh kedua instansi untuk mewujudkan ketertiban administrasi berdasarkan regulasi, khususnya pada tata naskah dinas. (ASM)

Tingkatkan Kompetensi dan Kualitas Komunitas Penggerak Literasi di Wilayah Jawa Timur, BBP Jatim Laksanakan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi

Rabu, 28 Februari 2024, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBP Jawa Timur) menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Februari—1 Maret 2024 di The Sun Hotel Madiun. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk memberikan pemahaman, wawasan atau materi, serta strategi agar komunitas yang ada di Jawa Timur dapat terus berkembang sesuai dengan standar yang ada, seperti legalitas organisasi, bentuk kerja sama yang harus dilakukan, karya atau progam yang harus dihasilkan, struktur organisasi serta kepengurusan, keberadaan pojok baca atau referensi bacaan, dan lain-lain.

Kegiatan selama tiga hari tersebut dihadiri oleh Tim KKLP Literasi BPP Jatim, yaitu Amin Mulyanto, S.S., Yuyun Kartini, S.Pd., Wahyu Hariyanto, Adista Nur Primantari, S.S., M.A., Duta Bahasa Irene Theofine sebagai moderator, 24 peserta bimtek dari 12 komunitas penggerak literasi serta lima narasumber.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala BBP Jawa Timur, Dr. Umi Kulsum, M. Hum. Dalam sambutannya, Ibu Umi memberikan apresiasi kepada 24 peserta bimtek yang berasal dari 12 komunitas literasi. Komunitas tersebut adalah Rumah Baca Sahabatku (Mojokerto), TBM Alam Riang (Jombang), TBM Bahagia (Magetan), Taman Baca Anak Pertiwi (Lamongan), TBM Kartika (Bojonegoro), TBM Dwija (Tulungagung), Rumah Cahaya Untukmu (Malang), Teras Baca Lentera Kita (Nganjuk), TBM Nusantara (Madiun), Komunitas Literasi Pinggir Kali (Blitar), Rumah Baca Mentari (Gresik), dan Pustaka Gerilya (Ponorogo).

Apresiasi tersebut disampaikan atas kerja sama dan kehadiran para peserta dalam acara tersebut dan menyatakan bahwa BPP Jatim dan komunitas harus bersinergi mengembangkan literasi di Jawa Timur. Beliau juga menekankan bahwa bimtek ini merupakan langkah Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur dalam upaya memfasilitasi pengembangan dan pembinaan literasi di Jawa Timur.

Narasumber pertama adalah Sinta Nuzuliana S.S. dari Perpustakaan Daerah Kota Madiun. Materi yang disampaikan oleh Ibu Sinta yaitu terkait Pengelolaan Buku dan Pojok Baca/Perpustakaan Komunitas. Narasumber kedua adalah Satyo Naresworo, S.IP. dari Dinas Kominfo Kota Madiun. Materi yang disampaikan oleh beliau bertajuk Cerdas dan Bijak dalam Berliterasi Digital. Narasumber ketiga adalah Dr. Sutejo, M.Hum. dari STKIP PGRI Ponorogo. Materi yang disampaikan Bapak Sutejo terkait tentang Membaca dan Menulis untuk Kecakapan Hidup. Narasumber keempat adalah Rafif Amir yang merupakan Sekjen BPP FLP. Beliau menyampaikan materi tentang Penulisan Kreatif Nonfiksi Berbasis Hasil Bacaan.

Paparan materi terakhir disampaikan oleh Azis Arief Anggara dari RBA Malang. Beliau membahas penyusunan program, penguatan manajemen, dan praktik baik di komunitas literasi dengan menyampaikan tayangan bertajuk Komunitas Literasi yang Bertumbuh Melalui Penguatan Manajemen dan Program yang Berkualitas.

Kegiatan bimtek ditutup pada Jumat, 1 Maret 2024 oleh Dr. Umi Kulsum, M. Hum. Pada acara penutupan tersebut, Ibu Umi mengharapkan agar pengelola komunitas literasi yang ada di Jawa Timur agar terus mengembangkan komunitas literasinya sesuai dengan standar yang sudah ada

KKLP Perkamusan dan Peristilahan Melaksanakan Inventarisasi Kosakata Bahasa Daerah di Kediri

Selasa, 27 Februari 2024, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur melalui KKLP Perkamusan dan Peristilahan melaksanakan kegiatan inventarisasi kosakata bahasa daerah di Kediri. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 20—23 Februari 2024 ini dimaksudkan untuk mengumpulkan kosakata bahasa Jawa dari ranah budaya, kuliner lokal, industri tahu, keagamaan, dan kosakata unik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kosakata ini nantinya akan dipersiapkan untuk diusulkan menjadi warga Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI setelah mengalami proses verifikasi dan validasi oleh para ahli.

Kegiatan pengambilan data di mulai pada tanggal 20 Februari 2024 dengan melakukan perjalanan darat ke Kediri. Kegiatan hari pertama, tim mendatangi informan pertama, Bapak Djati Utomo, Kepala Bidang Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kediri. Melalui beliau didapatkan informasi dan dilakukan pencarian data berupa sumber-sumber tertulis terkait Kediri dari koleksi perpustakaan tersebut.

Kegiatan kemudian dilanjutkan di hari kedua pada tanggal 21 Februari 2024 dengan mendatangi narasumber Imam Mubarok, Ketua Dewan Kebudayaan Kediri yang memberikan berbagai informasi terkait kebudayaan dan kesenian Kediri. Kegiatan dilanjutkan dengan mendatangi salah satu pengusaha tahu takwa Kediri, Mbak Purbo Rini di kawasan sentra pembuatan tahu kediri. Di sini diperoleh berbagai kosakata peralatan tradisional dalam pembuatan tahu.

Pada hari ketiga, tanggal 22 Februari 2024, tim mendatangi narasumber kedua, yaitu Pak Edy Prasetyo, salah satu dalang di Kediri. Dari wawancara yang dilakukan diperoleh beberapa kosakata terkait pewayangan dan seni tradisional Kediri. Kemudian, tim melanjutkan perjalanan dengan mendatangi gereja Katolik di Kediri bernama Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang yang merupakan pusat keagamaan dan gereja Katolik terbesar di Jawa Timur. Tim berhasil menemui Romo/Pendeta Tri Kuncoro dan Suster Sari. Dari hasil wawancara ditemukan berbagai kosakata bidang keagaman Katolik.

Saat pengambilan data hari keempat tanggal 23 Februari 2024, tim KKLP KI mendatangi narasumber ketiga, yaitu Yustyono Fatoni yang merupakan salah satu seniman Kediri. Dari hasil wawancara dengan seniman tersebut didapatkan berbagai kosakata kuliner, permainan anak, dan berbagai istilah lokal Kediri yang tidak ditemui di daerah lain. Kemudian pengambilan data dilanjutkan ke salah satu perajin batik ecoprint, Ibu Dyan Ekawati. Dari beliau ditemukan banyak istilah perbatikan dan kosakata terkait blangkon.

Tradisi Suroan: Kekayaan Tradisi Lisan dan Kebudayaan Masyarakat Ponorogo di Bulan Suro

Malam satu Suro adalah momen yang dinanti-nantikan oleh seluruh warga Ponorogo. Suro, yang merujuk pada bulan Muharam atau bulan pertama dalam kalender Hijriah (kalender Islam), dirayakan melalui serangkaian acara yang melibatkan berbagai pihak. Menjelang malam satu Suro, Ponorogo menggelar Grebeg Suro, sebuah perayaan tahunan yang berlangsung setiap tahun untuk menyambut tahun baru Hijriyah dan sebagai perayaan hari jadi Kabupaten Ponorogo. Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 63 Tahun 1987 tentang Tim Kepariwisataan Daerah Tingkat II Ponorogo. Rangkaian acara Grebeg Suro mencakup pameran, lomba, dan festival, termasuk Festival Reog Nasional (FRN), tirakatan, kirab pusaka, pawai lintas sejarah, larungan risalah doa di Telaga Ngebal pada tanggal 1 Suro, dan konser atau hiburan. Setelah absen selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, perhelatan ini kembali digelar pada tahun 2022, berlangsung dari 11 Juli hingga 28 Agustus 2022.

Sumber gambar: Kanal Youtube Grebeg Suro Ponorogo (https://www.youtube.com/watch?v=xPeNgdzTxIw

Acara Grebeg Suro diawali dengan Reog Kol Show Bupati Cup, istighosah, Ganesha Musik Show, Ngebel Accoustic Festival, Jambore Hard Top Jatim, lomba karawitan umum, sima’an alquran Rabu Pahing, kontes tanaman hias Nasional, upacara pembukaan, Festival Reog Mini (FRM) ke XVIII, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke XXVII, pameran bazar UMKM, pameran keris dunia Ponorogo Hebat, Ponorogo Kreatif Festival dan lomba musik pelajar, pacuan kuda, Grebeg Suro Trail Adventure, Vespa Reog Paradise, Grebeg Bonsai Bumi Reog, lomba dan pameran burung berkica Nasional, festival wayang Internasional, Bhedol Pusoko dan Mocopotan, ziarah makam Batoro Katong dan KRMA Mertonegoro, kirab lintasan sejarah dan jamasan Pusoko, malam puncak grebeg Suro dan pengumuman FRM dan FNRP, pertunjukan wayang kulit, music on the street, larungan telaga Ngebel, konser harmoni Bumi Reog, festival santri, lomba penulisan karya ilmiah, pameran seni rupa, jambore sepeda unto, kontes kambing etawa, lomba macapat pelajar, Grebeg Suro Adventure off-road, Jambore mini trek Nasional, Grebeg Suro Pelung cup, Grebeg Suro motorcross, kontes ayam pelung, simaan Al-Quran, lomba karawitan tingkat pelajar, festival teater, parade Bujangganong feat tari Suffi, turnamen bola voli, parade dalang bocah, gelar Reog obrok, lomba baca puisi, rapat paripurna DPRD, gelar budaya, dan peringatan hari jadi Ponorogo ke-526, pertunjukan seni ketoprak, dan diakhiri dengan grebeg tutup bulan Suro.

Peringatan malam satu Suro di Dusun Sodong dilakukan dengan mengadakan doa bersama sebagai sebuah momen untuk kebersamaan dan mempererat silaturahmi dengan semua warga. Selain adanya doa bersama, acara ini bisa disebut dengan ritual sedekah bumi sebagai salah satu upacara adat masyarakat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi. Masyarakat sekitar melaksanakan tradisi Suroan ini dengan hasil bumi yang diarak dan di punden desa sebagai tempat titik kumpul masyarakat untuk melakukan refleksi doa bersama.

Meskipun seluruh rangkaian acara berpusat di tengah kota, perayaan menyambut bulan Suro tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat, termasuk masyarakat Dusun Sodong Kabupaten Ponorogo. Meskipun berjarak sekitar 20,2 KM dari pusat kota, masyarakat Dusun Sodong, yang hidup harmonis sebagai kelompok Budha-Islam, turut merayakan dan menantikan malam Suro sebagai momen istimewa.

Sumber: Sofiana, Eri. (2022). “Nilai Moderasi Beragama dalam Perayaan Malam Satu Suro Masyarakat Dusun Sodong Ponorogo”. Proceeding of International Conference Cultures & Language, 1—12. https://ejournal.uinsaid.ac.id/index.php/iccl/article/view/5752/1941